
Limbah Sapi Disulap Jadi Peluang Usaha, Karangrejo Menuju Desa Pertanian Berkelanjutan
Purworejo – Limbah kotoran sapi yang selama ini kerap dianggap sebagai persoalan lingkungan, kini justru berubah menjadi peluang ekonomi baru bagi petani Desa Karangrejo, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo.
Melalui kolaborasi Pengurus Pusat Kagama Pemberdayaan Masyarakat, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM), dan Kelompok Tani Murakabi I, digelar pelatihan pengolahan limbah kotoran sapi menjadi pupuk NPK ramah lingkungan, Minggu (11/1/2026).
Kegiatan yang berlangsung di Desa Karangrejo ini menjadi langkah konkret pemberdayaan masyarakat berbasis potensi lokal. Para petani tidak hanya mendapatkan materi teori, tetapi juga praktik langsung mengolah kotoran sapi menjadi pupuk NPK yang bermanfaat untuk meningkatkan kesuburan tanah sekaligus bernilai ekonomis.
![]() |
| proses limbah sapi disulap jadi pupuk |
Perwakilan Pengurus Pusat Kagama Pemberdayaan Masyarakat, Peni Setyowati, menyampaikan bahwa program ini dirancang untuk mendorong kemandirian masyarakat desa dalam mengelola sumber daya yang tersedia di sekitarnya secara berkelanjutan.
“Kami ingin masyarakat tidak terus bergantung pada pupuk pabrikan. Limbah sapi yang melimpah di desa ini bisa diolah menjadi pupuk NPK yang efektif, ramah lingkungan, dan memiliki nilai jual,” ujarnya.
Lebih lanjut, Peni menegaskan bahwa pendampingan tidak berhenti pada proses produksi pupuk. Ke depan, Kagama bersama mahasiswa KKN UGM akan mendorong aspek pengemasan dan pemasaran agar pupuk hasil olahan dapat berkembang menjadi unit usaha baru bagi kelompok tani.
“Harapannya, pupuk ini tidak hanya digunakan sendiri, tetapi juga dikemas dengan baik dan dipasarkan. Ini bisa menjadi sumber tambahan pendapatan bagi petani,” tambahnya.
![]() |
| mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Gadjah Mada (UGM) |
Kepala Desa Karangrejo, Patnani, menyambut baik kolaborasi tersebut. Menurutnya, program ini sejalan dengan visi desa dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis sektor pertanian dan peternakan.
“Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini. Selain membantu mengurangi limbah, petani mendapatkan pengetahuan baru dan peluang usaha. Ini adalah contoh nyata pembangunan desa yang berkelanjutan,” ungkapnya.
Sementara itu, mahasiswa KKN UGM yang terlibat dalam kegiatan tersebut menilai program ini menjadi pengalaman berharga karena langsung menjawab kebutuhan riil masyarakat desa serta memberikan dampak langsung bagi warga.
Dengan adanya pelatihan ini, Desa Karangrejo diharapkan mampu berkembang menjadi desa percontohan dalam pengelolaan limbah peternakan yang terintegrasi dengan pertanian rakyat. Kolaborasi antara perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan warga desa pun membuktikan bahwa pemberdayaan berbasis potensi lokal mampu menghadirkan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Kontributor : Luth
Editor : Luthfi

