Tampilkan postingan dengan label Kebudayaan. Tampilkan semua postingan

KALIJERING, (pituruhnews.com) - Masyarakat Desa Kalijering menggelar sedekah bumi (Nyadran), dalam rangka mengucapkan rasa syukur atas hasil bumi di Desa Kalijering dengan tema "Guyub Rukun Ahnyengkuyung Raharjaning Kampung" dengan mengundang KH. Bejo Astajirin dari Tersobo, Prembun Kebumen, Senin, 27/01/2019.

Turut hadir Anggota DPRD Kabupaten Purworejo Luhur Tri Endro Sadewo, SP, Camat Pituruh Yudhie Agung Prihatno, S.STP, Danramil 09/ Pituruh Kapten Infanteri Maryono, Kapolsek Pituruh diwakili oleh Aiptu Sukarman, Kepala Suroyo, S.Pd,  seluruh masyarakat Desa Kalijering, dan desa sekitar beserta kepala desa.
penyampaian pengajian
Diungkapkan, ketua panitia Tulus Margono bahwa ditahun 2020 ini desa Kalijering mengadakan acara sadranan, yang artinya atu kesatuan untuk warga masyarakat desa Kalijering dengan meminta doa kepada tuhan Yang Maha Kuasa dan segera ke depannya itu diberikan kelancaran dalam hal apapun termasuk dalam pertanian, kesehatan ataupun hasil bumi.

"Bungkusan yang dibawa masyarakat ini bernama "Panjang Ilang", karena leluhur pada saat merti bumi/nyadran ini memakai panjang ilang dengan berbahan daun kelapa yang masih muda, " ucapnya.

"Walaupun arti dari panjang ilang belum sepenuhnya memahami dan mengetahuinya, akan tetapi kita percaya bahwa dengan menguri-uri kabudayaan nenek moyang kita jangan sampai punah di Desa Kalijering, " katanya.

"Dengan adanya Nyadran ini kita mengharapkan agar selalu bersyukur kepada yang maha kuasa yang membuat kita seperti ini yaitu yang maha kuasa. Dengan menguri-uri yang sudah dilakukan oleh nenek moyang pada masa dahulu. " imbuhnya.
kades bersama tamu
Kepala Desa Kalijering Suroyo menambahkan bahwa tradisi nyadran ini merupakan agenda rutin tahunan, cuma saja biasanya dilaksanakan tidak terfokus dalam satu tempat. Biasanya ada tiga titik, namun kita mencoba menunjukkan guyub rukunan warga desa Kalijering dengan sesuai tema yang diusung Nyadran ini.

"Adanya acara nyadran ini akan menjadi pondasi kesejahteraan, kesehatan sesuai dengan tema yang saya sampaikan tadi bahwa hidup guyub rukun ini akan membangun guyub rukun ahnyengkuyung raharjaning kampung. " ucapnya.

"Ini pertama yang dilakukan dalam satu tempat, dengan melibatkan semua warga kalijering dengan jumlah kurang lebih 500 kepala keluarga. Melalui nyadran ini antusias masyarakat dari pandangan saya sangat luar biasa, yang hadir di acara nyadran ini melebihi target. " tambah Suroyo.
sambutan camat
Sementara itu, Camat Pituruh Yudhie Agung Prihatno dalam sambutannya, sangat mengapresiasi kepada pemerintah dan warga desa kalijering yag telah nguri-uri budaya nyadran dan merti desa.

"Ini merupakan sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan YME, selain rasa syukur yang diwujudkan dalam kegiatan tersebut, diharapkan pemerintah dan masyarakat desa kalijering dapat mewujudkan dalam kehidupan sehari hari, " ucapnya.

"Melalui nyadran ini masyarakat selalu menjaga apa yang dimiliki, termasuk sawah, ladang, sungai, gunung, hutan dan sebagainya. Saya berharap  adanya program-program yang inovatif sesuai kebutuhan masyarakat seperti yang dilakukan di tahun 2019. dengan kegiatan ketahanan air yang memang dibutuhkan masyarakat Desa Kalijering karena sering terdampak kekeringan. " pungkasnya.(lt)

PITURUH, (pituruhnews.com) -  Berbagai tradisi untuk memperingati maulid, digelar di berbagai tempat khususnya masyarakat di Kecamatan Pituruh, Sabtu, 09/11/2019.

Bertepatan dengan tanggal 12 rabiul awal (kalender jawa) dan mulud (kalender hijriah)  masyarakat di desa-desa kecamatan Pituruh mengadakan tradisi rolasan. Dikecamatan Pituruh sebagian besar peringati dilakukan dengan tradisi panggang ayam, bendol, sapitan dan tenong.
ayam panggan
Dikatakan, Kepala Desa Pituruh Akhmad Anwar tradisi panggang ini merupakan sudah menjadi tradisi budaya lokal kecamatan Pituruh khususnya, tidaknya kecamatan Pituruh bahkan lingkup kabupaten Purworejo.

Isi dari tradisi rolasan ini yaitu nasi, jenang merah, ketan putih, pisang ambon, dan ayam panggang. Namun ada juga beberapa desa yang isinya lebih lengkap  dengan ditambahkan aneka kerupuk/opak, acar/lalaban, brongkos/osengan mie.

"Tradisi ini sebagai wujud syukur kepada Allah SWT, atas kelahiran Nabi Muhammad SAW yang mana sudah membawa umatnya kejalan yang benar, " ucapnya.

"Antusias masyarakat desa Pituruh dari tahun ke tahun semakin meningkat, ikut merayakan atas kelahiran Nabi Muhammad SAW. Berharap masyarakat desa Pituruh kedepan lebih meningkatkan ketaqwaan kepada Allah SWT, " pungkasnya.

Reporter : Purnomo
Editor : Luthfi
Advertisement

PURWOREJO, (pituruhnews.com) - "Gendhing Setu Legi" digagas sebagai sarana berkumpul masyarakat Jawa khususnya di area Purworejo dan sekitarnya.  Tujuan kegiatan bertujuan untuk mengenalkan kembali seni budaya Jawa, meningkatkan kecintaan sebagai orang Jawa, serta mencoba memfasilitasi eksistensi dan aktualisasi diri kesenian lokal Purworejo.

Pemilihan hari Setu didasari pada tradisi Jawa untuk nguri-nguri tradisi orang Jawa yang melakukan pèngetan untuk hari lahir, weton, atau hari tertentu yang dianggap sakral.  Dalam hal ini kemudian mengambil Hari Jadi Kabupaten Purworejo pada 27 Februari 1831 yang jatuh pada hari Minggu Pahing sebagai satu pijakan utama dalam penyelenggaraannya, sehingga kebiasaan orang Jawa melakukan lèk-lèkan (begadang) di malam hari sebelumnya itulah yang kemudian jatuh pada Sabtu Legi.

"Gendhing Setu Legi" mengundang seluruh masyarakat untuk datang selaku orang Jawa dengan menggunakan pakaian Jawa lengkap berupa Surjan Lurik, Jarik, Blangkon dan Pusaka untuk pria serta Kebaya dan Jarik untuk perempuan, serta memberikan ruang untuk berinteraksi dengan  menggunakan Tata Cara dan Bahasa Jawa.  

Dalam setiap gelarannya, "Gendhing Setu Legi" menyajikan:
1. Gendhing Gamelan Pendopo
2. Tarian Klasik Jawa
3. Wedhar Kawruh

Semoga "Gendhing setu Legi" menjadi salah satu wujud nyata bahwa putra-putri Purworejo masih tetap dan terus menjaga serta melestarikan budaya Jawa sebagai identitas dan jati dirinya.

Mangga sesarengan kempal wonten "Gendhing Setu Legi".

GEBANG, (pituruhnews.com) - Sambut Tahun Baru Islam 1441 H, Warga Seren gelar Grebeg Tumpeng di jalan umum desa setempat.

Tepat pada 1 September 2019 merupakan hari dimana umat Islam seluruh dunia merayakan tahun baru Islam yang ke- 1441H, atau yang sering orang Jawa sebut dengan istilah Suran.

Ratusan warga Dusun Manis Jangan, Desa Seren, Kecamatan Gebang tumpah ruah memadati jalan dengan kepanjangan kurang lebih sejauh 160 meter, dan kebetulan jalan ini masih dalam proses pembangunan.

Selain menyambut tahun baru Islam, acara ini sekaligus dalam rangka Tasyakuran warga sekitar atas datangnya bulan suro di tahun ini, acara ini digelar pada hari Sabtu, 31/08/2019 atau malam satu Suro.
Warga Seren sambut tahun baru islam
Dikatakan, Kepala Desa Seren Lukmanto kegiatan seperti ini perlu didukung agar tetap digelar setiap tahunnya. Ini merupakan pertama kalinya diadakan didesa Seren, dan desa Seren bisa menjadi pelopor untuk desa-desa lainnya.

Sunardi, selaku Kepala Dusun sekaligus panitia berharap kegiatan seperti ini diadakan secara rutin setiap tahun, khususnya menjelang sasi Suro tiba.

"Rangkaian acara ini dimulai dengan bacaan tahlil yang dipimpin oleh Kyai Maskuri," pungkasnya. (lt)

KALIGESING, (pituruhnews.com) - Petani dan pecinta kopi di kabupaten Purworejo menggelar Kenduri Kopi #2 di Rumah Kopi Seplawan, Desa Donorejo, Kaligesing Purworejo, Kamis, 29/08/2019.

Festival Kenduri kopi ini diikuti oleh berbagai penggiat kopi dan petani kopi dengan total ratusan peserta yang hadiri, terdiri dari Kecamatan Pituruh, Bruno, Kemiri, Gebang, Purworejo, Loano, Bener, Purwodadi, dimana kecamatan-kecamatan tersebut memiliki kelompok kopi sendiri.
penyehan tumpeng 
Totok Sugiarto, salah satu petani kopi dan penggagas kenduri kopi mengatakan bahwa kenduri kopi ini merupakan sesaji sekarjagad dan rasa syukur petani kopi setelah panen menghasilkan kopi yang baik, terus kita syukuri bersama dengan mengadakan kenduri kopi dan sekaligus festival kopi, peserta dari berbagai penggiat kopi dan petani kopi yang awalnya sudah mendapatkan pelatihan beberapa bulan lalu.

"Disamping untuk memotivasi para petani kenduri kopi ini juga sekaligus mempromosikan produk-produk kopi yang ada di Purworejo, yang cita rasanya memiliki ciri khas tersendiri dimasing-masing wilayah, " katanya.
tamu undangan
Totok menambahkan bahwa Kopi Seplawan pasar penjualannya sudah mencapai pasar nasional. Dan beberapa kali kopi seplawan juga mengikuti pameran diluar negeri.

Kegiatan kenduri kopi #2 juga digelar Forum Group Diskusi, diikuti oleh Pelaku UKM Kopi, Pelaku Seni, Budayawan, Komunitas mulai jam 08.00 - 12.00 siang, yang dihadiri oleh Pertanian, Bappeda, Dinas Koperasi, Pajak Pratama, Dinas Pariwisata dan Bank Jateng.

"Berharap kedepan kenduri kopi ini lebih memotivasi, memberikan arti kepada petani kopi, yang selama ini kopi ditimpati dengan harga mahal, dan petani belum bisa menikmati hasilnya. Karena ada beberapa hasil yang terpotong, dengan acara ini kemudian rantai ini dapat kita potong petani bisa menikmati hasilnya lebih banyak, " imbuhnya.
Produk Kopi
Sementara itu, Jaka Hartana anggota DPRD Kabupaten Purworejo mengatakan bahwa kegiatan seperti patut didukung, karena ini merupakan kegiatan baru yang ada cuma di Kaligesing.

"Acara ini selain memperkenalkan produk lokal, juga pemuda yang ada di kabupaten Purworejo, supaya cinta kopi lokal Purworejo, " katanya.

Pemenang festival kopi yaitu kopi Mliwis dari desa Tawang Sari, Kaligesing. Dengan Juri Jogja Sugeng Purwoko dari Ketemu Kopi, Dimas Nugroho dari Jogja Silol Cafe, ditambah Weda dan Teo.

Acara berlangsung hingga malam hari, dengan pementasan kesenian dari berbagai daerah seperti Bugis, Toraja, Makassar. Mereka membawakan tarian pesta kopi dan Pakarena. (pr)

PITURUH, (pituruhnews.com) - Gebyar Pentas Kesenian Rakyat, acara "Pituruh Expo 2019", dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, digelar sejak tanggal 17 sampai 24 Agustus 2019.

Bertempat di lapangan kecamatan Pituruh tepatnya pukul 13:00 WIB, Jum'at, 23/08/2019 kesenian kuda lumping dimulai.
pemain kuda lumping
Pada umumnya kesenian yang ditampilkan terkesan tak ada bedanya dengan pagelaran yang disajikan oleh Pituruh Expo seperti tahun tahun yang lalu.

Namun ada beberapa kesenian yang menarik perhatian banyak warga, kali ini ada kesenian kuda lumping yang dimainkan langsung oleh anak anak sekolah dasar dari desa Kalimati. Kesenian kuda lumping ini bernama Turonggo Kencono.
penonton
"Saya senang sekali bisa ikut kesenian kuda lumping, dan kurang lebih saya sudah dua tahun mengikuti kesenian ini bersama sembilan kawan saya, " kata Ridho, anggota Kuda Lumping Turonggo Kencono.

Salah satu penonton, Ganis mengatakan bahwa merasa kagum kesenian kuda lumping ini dimainkan anak-anak yang masih duduk di sekolah dasar. Dan ini berhasil mencuri banyak perhatian warga sekitar. (pr)

PITURUH, (pituruhnews.com) - Gebyar Pentas Kesenian Rakyat, acara "Pituruh Expo 2019", dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74, digelar sejak tanggal 17 sampai 24 Agustus 2019.

Selain menampilkan kesenian lokal dari Pituruh, pituruh expo kali ini juga menampilkan produk usaha mikro kecil dan menengah (UMKM).

Dari awal expo ini di buka, telah banyak kesenian yang tampil, mulai dari kesenian tari tradisional, ndolalak, kuda kepang, musik keroncong, dangdut, dan kesenian sholawat Jamjaneng.
Vokalis Janjaneng 
Pada Kamis, 22/08/2019 sesuai jadwal pukul 21.00, kesenian sholawat jawa Jamjaneng "Nurul Huda" dari Megulunglor ikut berpartisipasi dalam acara Pituruh Expo 2019. Jamjaneng ini diketuai atau disepuhi oleh bapak Muh Yasir.

Dikatakan, Muh Yasir bahwa kesenian jamjaneng ini merupakan kesenian peninggalan Sunan Kalijogo. Yang sampai saat ini tetep terjaga dan lestari, tidak khusus bagi warga desa Megulunglor yang ikut melestarikannya.

"Grup kesenian jamjaneng Nurul Huda desa Megulunglor, merasa sangat senang bisa ikut berpartisipasi memeriahkan Pituruh Expo 2019. Personil Jamjaneng yang ikut tampil di Pituruh Expo ini sebanyak 10 orang. " katanya.
Penampilan Janjaneng Nurul Huda
Lantunan lagu yang dibawakan oleh Jamjaneng ini yaitu dengan makna menceritakan sejarah kanjeng nabi Muhammad SAW dituangkan dengan irama jawa.

"Berharap untuk generasi muda ikut berperan menjaga dan melestarikan kesenian Jamjaneng dengan mencintai sholawat jamjaneng. Untuk pemuda atau orang yang ingin belajar bisa datang ke Megulunglor, karena setiap malam minggu rutin mengadakan latihan," ujarnya

"Khusus di kecamatan Pituruh kurang lebih ada 6 desa yang mendirikan grup kesenian jamjaneng, mulai dari desa Girigondo, Brengkol, Sikambang, Kalikotes, Sawangan, dan Megulunglor, " pungkasnya. (pr-ph)

PITURUH, (pituruhnews.com) - Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 74, Panitia HUT RI menggelar Festival Lomba Tari Ndolalak Tingkat Kecamatan.

Festival ini digelar selama dua hari, dimulai pada tanggal 14 sampai 15 Agustus 2019, bertempat di Halaman Kecamatan Pituruh.

Kategori yang dilombakan yaitu Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA dan Umum. Diikuti 40 SD dan 4 peserta untuk tingkat SMP, SMA dan Umum.
Ketua Panitia HUT RI ke-74
Kusbandono, ketua panitia HUT RI mengatakan, penyelenggara lomba ini merupakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Tingkat Kecamatan.

"Kami yang ada dilapangan, sebagai panitia penyelenggara festival tari ndolalak tingkat kecamatan, " ucapnya,  Kamis siang, 15/08/2019.

Kegiatan ini dikemas dengan tiga sesi, kurang lebih sebulan yang lalu ada sosialisasi tari ndolalak. Dengan sasaran guru sekolah dasar (SD) bersama anak didik yang setiap sekolah mengirimkan tiga peserta. Kemudian untuk sesi selanjutnya diadakan festival tari dolalak yang digelar pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2019.
Penonton dan Dewan Juri
Kusbandono juga menambahkan, kegiatan festival ini bertujuan yaitu memberdayakan kesenian khas kabupaten Purworejo.

"Jangan sampai kesenian Ndolalak khas Purworejo Punah, kegiatan ini sekaligus memberdayakan, nguri-uri budaya dari kabupaten Purworejo yaitu Tari Ndolalak. Kegiatan ini sudah serempak dilaksanakan sekabupaten Purworejo, dimasing-masing kecamatan ada kegiatan semacam ini, " imbuhnya.

Dewan juri dalam penilaian festival ini berasal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dengan kategori penilaian wiraga, wirama, wirasa dan penampilan.

Festival ini dimenangkan oleh SD N Blekatuk dengan nilai 1030, juara II SD N I Kaligintung dengan nilai 1013 dan juara III SD N Sikambang nilak akhir 978, untuk kategori tingkat sekolah dasar.
penampilan peserta ndolalak
Sedangkan untuk kategori tingkat SMP, SMA dan Umum dimenangkan oleh SMP N 20 Purworejo dengan nilai 999, juara II SMA N 10 Purworejo dengan nilai 956 dan juara III SMP N 40 Purworejo nilai akhir 940.

Untuk juara harapan I, II dan III diperoleh SD N Megulungkidul nilai 973, SD N Kembangkuning nilai 963 dan SD N Kesawen dengan nilai akhir 957.

"Tari Ndolalak ini, harus selalu kita berdayakan dan lestarikan, supaya tarian satu-satunya khas kabupaten Purworejo ini bisa tetap lestari dan tetap bisa menjadi ikonnya Purworejo, bahkan ikonnya Jawa Tengah, " pungkasnya. (pr-lt)

KARANGANYAR, (pituruhnews.com) - Bertempat di Sanggar Seni Pragata desa Karanganyar, telah diadakannya kegiatan Pelatihan Kuda Kepang, yang bertujuan untuk Pelestarian dan Pengembangan kesenian di wilayah kecamatan Pituruh, Kamis, 11/07/2019 malam.

Sedikitnya 20 grup kudang kepang se-kecamatan Pituruh ikut dalam pelatihan kuda kepang, yang setiap grup perwakilan masing-masing grup tiga orang.

Marwoto salah pemilik Sanggar Seni "Pragata" Karanganyar mengatakan, dengan diadakannya pelatihan ini tidak lepas dari konteks budaya, yaitu pengembangan dan kelestarian budaya khusunya kuda kepang.

"Berharap kesenian yang ada diwilayah kecamatan Pituruh, khususnya kuda kepang. supaya tetap lestari  dan berkembang. Misal ada grup kesenian kuda kepang yang sempat vakum, dengan adanya pelatihan diharapkan bisa bangkit kembali. Sedangkan yang masih aktif, supaya ditingkat eksistensi di dunia seni khususnya kuda kepang, " ucapnya.
Pada saat pelatihan
Selain kesenian kuda kepang, pemimpin Sanggar Seni "Pragata" Marwoto berencana akan mengundang kesenian lainnya. Karena sebagai pamong budaya dikecamatan Pituruh, untuk kesenian tidak hanya kuda kepang, " tuturnya.

Berawal dari seni kuda kepang, akan diagendakan akan menggundang kesenian yang lain, yang dilaksanakan seperti pelatihan kuda kepang. Sehingga kesenian yang ada diwilayah kecamatan Pituruh akan lebih eksis dan berkembang, yang terutama nguri-uri budaya yang ada.

Pelatihan ini juga tidak hanya di Pituruh, Sanggar Seni Pragata sekup tanggungjawabnya ada dibeberapa wilayah, ini hanya sebagai awalan saja untuk meningkatkan semangat pecinta seni dan budaya. 
Peserta pelatihan kuda kepang
Pelatihan ini digelar selama 4 hari, namun jika 4 hari tidak mencakup akan ditambah, " ujarnya.

Berharap setelah pulang pelatihan ini, digrup masing-masing bisa menularkan ilmunya dan melatih digrupnya masing-masing. 

Dikatakan peserta, kegiatan ini sangat membantu sekali. Sebelum diadakannya kegiatan pelatihan, sudah mengadakan musyawarah secara interen untuk mengadakan pelatihan ini, sehingga sudah menjadi keputusan bersama, dengan perlunya pengembangan kuda kepang yaitu melalui pelatihan " pungkasnya. (pr)

PITURUH, (pituruhnews.com) - Berbicara kesenian kabupatan Purworejo adalah kota segudang seni dan budaya, salah satunya kesenian yang tidak asing yaitu kesenian tarian ndolalak.

Tidak hanya itu, ada kesenian lain yang belum banyak orang tahu yaitu Kesenian Cepetan dari desa Prapaglor, Pituruh. Kesenian ini pada awalnya kesenian tarian seperti Tarian Ronggeng. Selang berjalan waktu tarian ini sudah dibuat kreasi baru. 

Tarian Cepetan ini sudah ada sejak tahun 1985 an. Kesenian ini tidak lepas dari sosok bapak Ponijan yang merupakan sesepuh yang paling berpengaruh di kesenian ini.

"Kesenian ini tidak ada yang mengetahui tanggal persisnya didirikan, namun sejak tahun 1985 an sudah ada, '' ujarnya Rabu, 09/07/2019 pagi.

Anggota dari kesenian ini sebanyak 13 orang, yang sudah turun temurun dua generasi. Cepetan ini diketuai oleh bapak Suroso warga Desa Prapaglor, Rt/Rw 02/04, Dukuh Bojongankidul. Cepetan juga mempunyai nama kerennya yaitu Gobyuggan.
Cepetan saat tampil di acara pawai
Awal mula alat musik yang digunakan sangat sederhana, hanya dengan menggunakan Gamelan Jawa dan Gong Bumbung. Pada saat ini alat musik sudah dikreasikan ditambah alat musik calung dan pemain memakai topeng, kostum lucu, yang mengundang gelak tawa bagi orang yang melihatnya. Ada salah satu pemain yang membawa bendera merah putih dengan mempunyai makna sebagai wujud melestarikan kesenian lokal yang berada di Indonesia.

"Kesenian ini juga terus di kembangkan kreasinya supaya orang yang melihat tidak bosan dengan tariannya, " katanya.
alat musik yang dimainkan di kesenian cepetan
Konon kesenian ini hanya tampil dan bermain dalam acara tertentu, seperti sedekah bumi, acara desa seperti penyambutan tamu yang digelar oleh kepala desa. Namun sekarang bisa disaksikan pada acara karnaval, pawai ta'aruf khotmil qur'an dan acara peringatan hari ulang tahun kemerdekaan Indonesia 17 Agustus.

Slamet anggota cepetan mengungkapkan, bergabung dengan kesenian ini tidak lain sebagai nguri-uri kebudayaan lokal yang ada didesa tercinta.

"Jangan sampai kesenian ini punah tanpa ada generasi penerus, " tutupnya. (lt)
Advertisement

PITURUH, (pituruhnews.com) - Ribuan warga desa Pituruh, pada hari Sabtu, 15/06 memadati Alun-alun Pituruh dalam rangka pentas seni Topeng Raksasa Gebyar Budaya Parade Reog Ponorogo.

Dimeriahkan oleh Magic Acrobatics Debus Supranatural dengan pertunjukan antara lain atraksi bambu gila, diseret mobil, digilas motor, kucingan, tidur di atas kaca, wacok, dan semburan api.

Diikuti Reog Ponorogo "Singo Balong" dari Ponorogo, pertunjukan ini merupakan kesenian yang langka, heboh, gempar, spektakuler dan menengangkan.
Topeng Raksasa
Salah satu anggota topeng raksasa ini, Risky mengatakan dengan diadakannya pagelaran seni Reog Ponorogo ini bertujuan untuk membangkitan atau mendongkrak semangat para seniman dari berbagai daerah, agar bisa kembali membangunkan kesenian-kesenian yang ada diwilayahnya lokal maupun nasional.

Berat topeng yang digunakan untuk pertunjukan ini mencapai 50 kilo per satu topeng raksasa yang diangkat menggunakan gigi. Acara seperti ini sudah digelar selama delapan tahun berkeliling nusantara, setelah pertas ini digelar daerah Pituruh akan pindah ke Magelang.

"Alhamdulillah warga kecamatan Pituruh sangat antusias sekali, untuk melihat pagelaran kesenian Reog Ponorogo ini," ujarnya.
Penontom Foto dengan Topeng Raksasa
Salah satu penonton dari Desa Luwengkidul, Sindy mengungkapkan merasa sangat senang dengan adanya pertunjukan Reog Ponorogo ini.

Karena masih suasana hari raya idhul fitri selain untuk menjadi salah satu tonton juga bisa melihat kesenian yang masih jarang digelar diwilayah Pituruh.

"Dengan adanya pertunjukan kita bisa ikut melestarikan budaya dan kesenian yang ada di Indonesia," tutupnya. (pr)

PITURUH, (pituruhnews.com) - Menyambut Bulan Suci Ramadhan 1440 H, Komunitas Pecinta Kabupaten Purworejo mengadakan Silahturahmi dan Kungkrus (belajar bareng) Kencreng Jedor, pada, Rabu, 01/05/2019.

Kungkrus ini menghadirkan 10 Grup Pecinta Kencreng, meliputi tiga kecamatan yaitu Pituruh, Kutoarjo, dan Butuh. Silahturahmi ini bertempat di Megulunglor, Pituruh, Rumah Achmad Luthfi Khakim. Uniknya acara dihadiri Pecinta Musik Tradisional Indonesia Aural Archipelago, bernama Palmer Keen, Gaetan warga negara California dan Perancis.

Koordinator Komunitas Pecinta Kencreng, Muh Yasir mengatakan, menyambut bulan suci ramadhan, Komunitas Pecinta Kencreng menjalin silahturrahmi antar grup. 
"Dengan harapan membawa berkah dari kitab Al-Barzanji. Melestarikan Kesenian Khas Purworejo yaitu Kencreng Jedor dan membawa berkah bagi umat rosullullah, Amin, " ucapnya.
Kungkrus Kencreng KPK
Sementara itu, salah satu anggota grup dari Kutoarjo, Ngabidin menambahkan, merasa sangat senang dan bersyukur, dengan adanya sholawatan dan kungkrus kencreng jedor yang merupakan kesenian khas Purworejo.

Hal ini sekaligus menyambut bulan suci ramadhan, mudah-mudahan dengan kita kungkrus kencreng sholawat bersama.

"Mudah-mudahan acara seperti ini terus berkembang dan maju, dengan meningkatan tali silahturrahmi sesama grup kencreng khususnya dikabupaten Purworejo,"
Foto Bersama Pecinta Musik Tradisional Aural Archipelago
Palmer Keen, Pecinta Musik Tradisional Indonesia Aural Archipelago, mengungkapkan, sangat luar biasa, kesenian kencrengan ini menurutnya sangat menarik. Dan melihat kencrengan ini sudah dua kali datang ke Purworejo.

Datang ke Purworejo ingin tau dan meneliti kesenian kencreng jedor ini. Kencreng Jedor merupakan salah satu kesenian unik yang ada di Jawa Tengah.

"Berharap kesenian ini tetap dilestarikan oleh generasi muda, dan jangan sampai tidak ada penerusnya, " tutupnya. (ltf)

PITURUH, (pituruhnews.com) - Segmen kedua "Padopokan Karya" yang diagendakan rutin dua minggu sekali, pada Sabtu, (02/03/2019) kembali digelar dengan mengajak grup musik keroncong "Pradista Kinanthi" untuk ndopok bareng.

Awal mula terbentuknya grup keroncong ini tidak lepas peran dari seorang pemuda Pituruh, yaitu Rizki Tritama. Rizki Tritama merupakan salah satu penyemangat teman-teman untuk selalu berkarya dibidang keroncong yang ada di Pituruh.

Acara Padopokan Karya / Foto Pur
Rizki Tritama mengatakan, kebetulan dulu dari salah satu sekolah, karena riski yang paling tua dan akhirnya merekrut mereka yang suka berkarya di seni keroncong. 

Pradista Kinanthi sebetulnya wadah untuk bekarya khususnya diseni musik keroncong, jangan sampai Indonesia kehilangan keroncongnya. Jadi ini rumah untuk siapapun yang mau bergabung dengan grup ini. Semua sama-sama belajar, tidak ada yang merasa paling bisa.

"Luar biasa dengan adanya acara padopokan karya ini, berharap semakin banyak ada wadah untuk ajang berkarya anak muda. Jangan sampai anak muda yang mempunyai talenta tapi tidak tahu dia harus dimana, bagaimana caranya supaya talenta tersebut tersampaikan dan muncul,'' Ucap Kiki.

Pradista Kinanthi dibentuk pada awal tahun 2018. Dimulai awal berkumpul dengan mengumpulkan para pelaku seni keroncong. Diacara padopokan ini Pradista Kinanthi juga mengajak seniman keroncong dari Yogyakarta bernama Apil.

Acara Popokan Karya / Foto Pur
Apil mengatakan, salut dengan teman-teman di Pituruh bisa meluangkan waktu untuk berkumpul rutin dua minggu sekali di acara Padopokan Karya, dan di setiap segmennya temanya berbeda.

"Senang untuk acara seperti ini, didaerah-daerah kota besar masih jarang dan di Yogyakarta belum banyak, banyaknya acara workshop, seminar dan sebagainya. Dalam berkarya apapun itu jenisnya, bidangnya jangan pernah bosan, sering diskusi dan sharing," Ucap Apil.
Foto Bersama / Foto Pur
Padopokan Karya ini juga hadiri oleh Siswa/siswi SMA Negeri 2 Purworejo. Alma Zaska Zakia siswi SMA Negeri 2 Purworejo mengatakan, pertama suka dengan keroncong karena disekolah ada grup musik keroncong dan penasaran dengan acara Padopokan Karya.

"Saya sangat apresiasi, adanya acara ini karena padopokan karya adalah wadah untuk pemuda yang mempunyai karya. Disegmen ini dengan mengundang Keroncong, yang pertama untuk melestarikan budaya, karena jarang anak muda yang ikut keroncong seperti ini, " Tutup Alma. (ltf)

GIRIGONDO, (piturunews.com) - Dalam Rangka Rutinan Selapanan Ahad Pahing Ranting NU  Girigondo dengan disertai Peringatan Isro' Mi'roj Nabi Muhammad SAW Tahun 1440 H/2019 M, bertempat di Musholla Al Amin Dukuh Keborangan Desa Girigondo mengadakan Khotmil Qur'an dan Pawai Ta'aruf. Minggu, (03/03/2019).

Undangan terbuka untuk umum dari berbagai kalangan meliputi Kepala Desa beserta Perangkat, Masyarakat Sekitar, Tokoh Masyarakat, Jamaah NU, Muslimat, Fatayat, Ketua GP Ansor Kecamatan Pituruh, Banser dan karangtatuna, turut hadir anggota DPRD Kabupaten Purworejo Akhmad Ngafifurohman, S.Pd.I.
Selapanan Ahad Pahing merupakan agenda rutin Selapan Ranting NU Girigondo, sedangkan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW ini merupakan agenda tahunan yang dilakukan oleh Umat Islam. Isro' Mi'roj dimaknai perjalanan Nabi,  Isro' merupakan perjalanan Nabi Muhammad saw dari Masjidil Haram (Mekah) ke Masjid Al-Aqsa Aqsa (Yerusalem-Palestina/Israel), sedangkan Mi'roj naiknya Nabi menuju langit 7 atau ke Sidratul Muntaha pada malam 27 rajab, dengan tujuan menerima wahyu Allah SWT yaitu Shalat fardhu lima (5) waktu.

Peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW diawali pawai ta'aruf menaiki kuda keliling desa, dengan jumlah 5 (lima) santri yaitu Muhammad Iqbal Fauzi bin Muhammad Mahmud, Mustahil bin Tulus Parimun, Qonita Nissan Khofiyya binti Mufid , Nurul Fatimah binti Muslihudin, Nihayatul Faizah binti Mukhalim.  Dengan diiringi oleh Grup Kencreng dan Drumband dari Mts Ma'arif NU Pituruh, setelah prosesi Pawai Ta'aruf selesai diilanjutkan Khotmil Qur'an.
Mauidhotul Hasanah oleh KH. Abdul Haq Assaubary dari Kalimiru, Bayan, Purworejo, serta diiringi Hadroh Nurul Mustofa dari Dukuh Keborangan Desa Girigondo. 
KH. Abdul Haq Assaubary dalam ceramahnya menyampaikan, dengan anak sering  membaca Al Quran bahkan sampai khatam quran bisa membawa rahmat, rezeki dan pintu amal kebaikan bagi kedua orang tua serta keluarga yang telah mendahului. 

"Isro' Mi'raj dalam bahasa Arab artinya perjalanan Nabi. Dan dengan adanya Nabi Muhammad Saw Isro' Mi'roj telah diperintah dan diturunkan allah atas perintah shalat kepada nabi untuk disampaikan untuk umatnya, maka perintah allah itu wajib, shalat merupakan tiang agama islam. Shalat wujud kita untuk bersyukur. Shalat menghindarkan kita dari kemungkaran dan perbuatan yang keji maka jangan sesekali kita melalaikan sholat karena shalat wajib hukumnya," Paparnya.

Selain itu ,kita tentu mengetahui bahwa amalan pertama yang akan ditanyakan kelak adalah amalan shalat. Semoga kita semua dengan memperingati Isro' Mi'roj kita lebih tekun beribadah terutama shalat fardhu 5 waktu.

Bregodo Kecamatan Pituruh / Foto Wanuri
PITURUH, (pituruhnews.com) - Peringatan Hari Jadi Purworejo ke-188, berbagai rangkaian kegiatan, pada Sabtu, (02/03/2019) yaitu pelaksanaan Parade Budaya.

Parade ini akan menampilkan Dramband Akmil, Kereta Kencana, Dramband Sekolah, Parade Delman, Parade Bregodo dari 16 kecamatan. Parade ini mulai pada pukul 14.00 WIB. Kecamatan Pituruh yang mengikuti acara parade budaya ini sebanyak 49 desa, yang terdiri dari unsur kepala desa dan pejabat kecamatan. Nama Bregodo Kecamatan Pituruh yaitu Pasukan Bregodo Mintasara Pituruh.

Rute parade yaitu dimulai dari Pendopo Kabupeten Purworejo ke kiri Jalan Setia Budi - Tugu Gunungan Timur -  menuju keselatan melalui Jalan Urip Sumoharjo sampai Tugu Kresna -  Belok kanan menuju Jalan Jendral Sudirman -  SMP 1 belok ke utara Jalan Meyjen Sutoyo - Tugu Gunungan Barat - Terus ke utara sampai depan stasiun - Belok kanan ke arah Jalan Urip Sumoharjo sampai Tugu Gunungan Timur - Belok kanan kembali ke Pendopo.
Bregodo dari Kecamatan Pituruh / Foto Lilid
Nurida Umiyati Utami kepala Desa Polowangi mengatakan, bangga bisa ikut meramaikan hari jadi Kabupaten Purworejo ke-188, karena parade ini merupakan sebagai wujud melestarikan kebudayaan.

"Berharap kedepan acara seperti ini bisa tetap ada, dan akan menjadikan ikon tersendiri bagi Kabupaten Purworejo khususnya, " Ucapnya. 
Saat mau berangkat ke Purworejo / Foto Lilid
Muhammad Wanuri menambahkan, semua masyarakat khususnya di kecamatan Pituruh lebih maju dan lebih Sejahtera, dengan slogan Purworejo Mulyo.
"Disisi lain juga Pituruh mempunyai slogan yaitu Pituruh (Nyenengke, Resik tur Nyaman), " Imbuhnya. (ltf)
Diberdayakan oleh Blogger.