Notification

×

Iklan

Lahan Cabai Tergenang Banjir, Petani di 3 Kecamatan Stres Harus Merugi Ratusan Juta

Tuesday, 24 October 2017 | 13:17 WIB Last Updated 2017-10-24T06:17:41Z
Lahan Cabai Tergenang Banjir, Petani di 3 Kecamatan Stres Harus Merugi Ratusan Juta
Salah seorang petani menunjukkan tanaman cabai yang rusak akibat hujan


Butuh, (purworejo.sorot.co)--Hujan berintensitas tinggi yang terjadi selama beberapa hari di wilayah Kabupaten Purworejo pekan kemarin, tidak hanya mengakibatkan terjadinya musibah tanah longsor yang terjadi di beberapa daerah namun juga berdampak kepada lahan pertanian warga. Para petani cabai di tiga kecamatan harus menangguk kerugian yang mencapai ratusan juta rupiah. Pasalnya, puluhan hektar lahan cabai milik para petani tergenang air sehingga tanaman cabai rusak.
Salah satu petani cabai Ahmad Chusnaeni warga Desa Panggeldlangu, Kecamatan Butuh mengungkapkan, sudah sepekan ini lahan cabai miliknya digenangi air. Alhasil tanaman cabainya pun terancam mati dan tidak bisa dipanen. Ia mengungkapkan, hal serupa juga terjadi pada para petani cabai di Desa Panggeldlangu, Kecamatan Butuh; Desa Kendalrejo, Kecamatan Pituruh; Desa Waled, Kecamatan Kemiri. Total ada sekitar 20 hingga 25 hektar lahan pertanian cabai yang terdampak banjir.
"Desa saya saja 7-8 Hektar, padahal rata-rata satu petani memiliki satu Hektar," bebernya, Selasa (24/10/2017) pagi.
Lantaran sudah seminggu air yang menggenangi lahan tersebut tak kunjung surut, untuk mengurangi kerugian, para petani memutuskan untuk memanen lebih dini. Walaupun untuk panen kali ini sudah kedua kalinya. Namun seharusnya panen yang ke dua dan ketiga inilah produksi dari tanaman cabai mencapai puncaknya.
"Seharusnya lagi pas bagus-bagusnya, untuk desa saya (panen) yang kedua, adapun untuk Desa Waled dan Kendalrejo sudah masuk (panen) yang ketiga," keluhnya.
Sementara itu, petani yang lain Amat Stridudin menambahkan, produksi cabai setiap kali panen untuk lahan satu hektar mencapai 6-7 ton. Tapi untuk kali karena harus memanen lebih dini pasti ada penyusutan. Selain itu harga cabai normal enam ribu perkilo gram namun dengan kondisi seperti ini terpaksa dijual dengan harga dua ribu rupiah.
"Mau gimana lagi, memang harganya segitu. Jadi kami rugi tiga kali lipat," terangnya.
Ahmad Chusnaini melanjutkan, tanaman cabai merupakan tanaman jeda sebelum nanti ditanami padi. Sehingga hampir seluruh sawah dari tiga desa tersebut ditanami cabai. Akan tetapi akibat musim hujan turun lebih awal diluar prediksi petani sehingga air irigasi masuk ke lahan sawah dan menggenangi tanaman cabai.
"Dulu pernah tapi nggak separah ini, banyak petani yang jatuh sakit akibat kejadian ini," pungkasnya. (Dana Nur Sehat)

Sumber : purworejo.sorot.co

Iklan

×
Berita Terbaru Update