Notification

×

Iklan

Pandemi Covid-19, Tantangan Semua Orang

Wednesday, 29 December 2021 | 10:20 WIB Last Updated 2021-12-29T03:20:45Z

 

Coronavirus disease 2019 atau yang lebih dikenal dengan Covid-19 merupakan sebuah virus yang awalnya terdapat di Wuhan, China. Dengan penularan yang lumayan cepat sehingga hanya dalam waktu beberapa bulan saja sudah menyerang beberapa negara, termasuk Indonesia. Bukan hanya proses penularan saja yang cepat, namun proses kerja virus pada tubuh pun cukup cepat, sehingga bagi mereka yang memiliki imun yang rendah dapat meninggal dunia akibat virus tersebut. Tentunya ini bukanlah masalah sederhana karena mengingat negara – negara maju pun perlu waktu yang tidak singkat untuk menyelesaikan masalah tersebut.

            Virus yang bereaksi pada tubuh manusia ini mampu membuat perubahan dan pengaruh yang besar terhadap berbagai macam hal. Mulai dari sistem kerja organ manusia, beberapa program pemerintahan seperti sektor pariwisata dan sektor pendidikan, serta hubungan sosial masyarakat pun berubah.

            Layaknya pendidikan pada umumnya, dilakukan di sebuah bangunan yang disebut sekolah, guru dan murid berada didalam ruangan dan terjalinnya interaksi pembelajaran antara guru dan murid. Membahas mengenai materi yang diajarkan, bertanya jika ada yang tidak paham, melakukan praktek langsung baik di luar maupun di dalam kelas. Namun itu beberapa bulan yang lalu tentunya.

            Covid-19 yang mulai masuk di Indonesia pada Maret 2020 ini memulai dampaknya pada dunia pendidikan yaitu diundurnya Ujian Nasional SMA/SMK namun Karena dampak yang semakin hari semakin parah akhirnya Ujian Nasional 2020 baik kelas 6, 9, dan 12 resmi dibatalkan atau ditiadakan, bahkan beberapa sekolah melakukan Ujian Sekolah dirumah masing masing atau secara daring.

            Mulai ajaran tahun 2020/2021 pun dari tingkat PAUD hingga Universitas terdapat kebijakan baru yaitu belajar dari rumah, atau biasa diebut daring atau online. Virus yang menyebar terlalu cepat dan akan sangat beresiko jika ada kerumunan di kelas maupun di sekolah menyebabkan pemerintah membuat kebijakan tersebut. Bukan masalah besar jika pada jenjang SMA/SMK atau Universitas. Namun, berbeda lagi dengan siswa PAUD, TK, SD, dan beberapa siswa SMP. Diperlukan teknologi dan internet yang memadai, serta pengetahuan dalam menjalankan teknologi tersebut.

            Orangtua yang masih sederhana dan tidak begitu mengenal teknologi canggih tentu akan kesusahan, apalagi jika kondisi perekonomian yang pas pasan. Kuota bagaikan sebuah barang yang mewah apalagi handphone canggih yang bias mengakses internet. Tidak jarang banyak siswa SD yang enggan untuk diajari oleh orangtua, dan akan menangis jika dipaksa. Namun, apa yang bisa dilakukan orangtua selain memaksa agar menurut? Mengerjakan tugas mandiri sang anak tentulah sudah sering dilakukan. Bahkan untuk siswa jenjang PAUD dan TK yang harusnya mereka belajar sambil bermain bersama teman di kelas, bernyanyi bersama sang guru, dipaksa untuk mengerjakan tugas yang dimana bahkan mereka saja belum paham apa yang sedang mereka pelajari. Tentulah hanya orangtua yang mengerjakan tugas, memaksa anak jika memang tugas itu harus berhubungan dengan sang anak.

Tidak berbeda dengan orangtua yang sulit memahami teknologi, kita kadang melupakan ada guru yang hampir bahkan sudah sepuh diharuskan mengajar dengan teknologi yang bahkan sangat asing bagi mereka. Para guru yang usianya sudah tidak muda lagi harus belajar sedikit demi sedikit tentang teknologi agar materi yang mereka ajarkan dapat sampai kepada para siswa.

            Mengapa sebuah virus dapat berpengaruh pada sektor pendidikan? Bukankah itu hanya sebuah virus yang menyerang manusia dengan imun lemah? Bukankah pemerintah sudah memberi vaksin untuk menangani virus tersebut? Lalu untuk apa masih memakai masker jika suda vaksin? Ya, mungkin itu adalah beberapa pertanyaan dari sebagian masyarakat.

            Virus memang menyerang tubuh manusia, namun penyebarannya tidak dapat diprediksi bahkan beberapa kasus terjadi tanpa ada gejala yang timbul, sehingga dibuatlah beberapa peraturan untuk mengurangi penyebaran virus tersebut. Misalnya, menjaga jarak minmal 1 meter, memakai masker sesuai standar yang berlaku, rajin mencuci tangan, dan makan makanan yang bergizi, serta mengikuti program yang diadakan pemerintah yaitu vaksin. Memang tidak menutup kemungkinan tetap terinfeksi, namun setidaknya dapat mencegah penyebaran lebih banyak lagi.

 Penulis : Imas Kurniasih/Mahasiswi Universitas Muhammadiyah Purworejo

Iklan

×
Berita Terbaru Update