Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Image Image Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image

Dari Limbah Jadi Berkah, Warga Kalimeneng Raup Jutaan Rupiah dari Arang Bathok Kelapa

Senin, 27 April 2026 | 08:00 WIB Last Updated 2026-04-27T01:16:29Z
Dari Limbah Jadi Berkah, Warga Kalimeneng Raup Jutaan Rupiah dari Arang Bathok Kelapa

PURWOREJO, — Siapa sangka limbah bathok kelapa yang kerap dianggap tak bernilai, di tangan kreatif seorang warga Desa Kalimeneng, Kecamatan Kemiri, justru menjelma menjadi sumber penghasilan menjanjikan. Adalah Wahyudi (35), sosok di balik usaha arang bathok kelapa yang kini kebanjiran pesanan hingga ke berbagai kota besar di Indonesia.


Usaha ini diketahui telah dirintis sejak sekitar satu tahun lalu. Dalam waktu yang relatif singkat, Wahyudi berhasil mengembangkan usahanya hingga mampu menjangkau pasar luar daerah dan menjalin kerja sama dengan sejumlah pelaku usaha kuliner.

“Awalnya dari pertemuan dengan owner Ter’Autentik di Yogyakarta yang membutuhkan pasokan arang untuk restorannya. Dari situ saya mulai usaha ini sekitar satu tahun lalu, dan ternyata permintaan terus meningkat,” ungkap Wahyudi saat ditemui tim Pituruh News, Minggu, 26/04/2026.

Kini, arang produksi Wahyudi telah rutin disuplai ke sejumlah restoran di kota besar seperti Yogyakarta hingga Jakarta. Dalam sekali pengiriman, ia mampu mengirim hingga 50 karung arang, dengan masing-masing karung berisi 20 kilogram. Harga jualnya pun cukup kompetitif, yakni sekitar Rp300 ribu per karung.

Dengan volume produksi tersebut, Wahyudi mengaku mampu meraih omzet hingga Rp15 juta per minggu. Angka yang cukup signifikan untuk usaha yang baru berjalan satu tahun.

Tak hanya soal keuntungan, usaha ini juga membawa dampak positif bagi lingkungan. Limbah bathok kelapa yang sebelumnya terbuang kini dimanfaatkan secara optimal. Proses produksinya pun dirancang agar tetap ramah lingkungan.

“Pengolahannya masih sederhana, menggunakan drum bekas yang dimodifikasi. Kami juga membuat cerobong asap setinggi kurang lebih 6,5 meter supaya asap tidak mengganggu warga sekitar,” jelasnya.

Selain itu, usaha ini juga mulai melibatkan warga sekitar dalam proses produksi, mulai dari pengumpulan bahan baku hingga pengemasan. Hal ini secara tidak langsung membuka peluang kerja dan meningkatkan perekonomian masyarakat desa.

Wahyudi berharap ke depan usahanya dapat terus berkembang, baik dari segi kapasitas produksi maupun jangkauan pasar. Ia juga berkeinginan untuk meningkatkan kualitas produk agar bisa menembus pasar ekspor.

“Kami ingin terus berkembang, mungkin ke depan bisa punya alat yang lebih modern dan produksi lebih banyak. Harapannya juga bisa menyerap tenaga kerja lebih banyak dari warga sekitar,” pungkasnya.

Kisah Wahyudi menjadi bukti bahwa dengan kreativitas dan ketekunan, usaha yang dirintis sejak satu tahun lalu pun bisa berkembang pesat dan menghasilkan nilai ekonomi tinggi dari sesuatu yang sebelumnya dianggap limbah. (PN)
×
Berita Terbaru Update