![]() |
| Sembilan Tahun BPOB: Dari Destinasi ke Ekosistem, Menoreh Jadi Laboratorium Pariwisata Masa Depan |
PURWOREJO, — Di tengah lanskap hijau Perbukitan Menoreh yang tenang, peringatan hari jadi ke-9 Badan Pelaksana Otorita Borobudur (BPOB) tidak sekadar menjadi ajang seremonial, melainkan penegasan arah baru: menjadikan kawasan Borobudur sebagai ekosistem pariwisata yang hidup dan terus beregenerasi. Senin, 11/04/2026.
Jika selama ini pembangunan destinasi kerap berfokus pada infrastruktur dan angka kunjungan, BPOB justru mendorong pendekatan berbeda—menjadikan pariwisata sebagai ruang hidup yang menyatukan alam, budaya, dan masyarakat dalam satu kesatuan yang saling menguatkan. Perayaan yang digelar di ruang terbuka menjadi simbol bahwa masa depan pariwisata tidak bisa dilepaskan dari harmoni dengan lingkungan.
Pelaksana Tugas Direktur Utama BPOB, Yusuf Hartanto, menegaskan bahwa tantangan ke depan bukan lagi sekadar menarik wisatawan, tetapi memastikan setiap aktivitas pariwisata memberi dampak nyata.
“Pariwisata harus menjadi solusi, bukan beban. Ia harus menghidupi masyarakat, sekaligus menjaga alam tetap lestari. Itu yang sedang kita bangun bersama di kawasan ini,” ujarnya.
Selama sembilan tahun, BPOB tidak hanya membangun destinasi, tetapi juga merajut jaringan antar pelaku—mulai dari desa wisata, pelaku UMKM, hingga komunitas lokal. Kawasan Borobudur Highland pun perlahan bertransformasi menjadi ruang kolaboratif, di mana masyarakat bukan sekadar penonton, melainkan aktor utama dalam ekosistem pariwisata.
Direktur Pemasaran BPOB, Harfiansa Bimatara, menyebut bahwa kekuatan utama kawasan ini terletak pada keseimbangan antara pengalaman wisata dan kualitas hidup.
“Kami ingin menghadirkan pariwisata yang tidak hanya dikunjungi, tetapi juga dirasakan. Ada ketenangan, ada nilai, dan ada dampak yang bisa dibawa pulang oleh setiap pengunjung,” ungkapnya.
Konsep wellness tourism yang diusung BPOB menjadi pembeda sekaligus peluang besar. Di tengah tren global yang mengarah pada wisata berbasis kesehatan dan ketenangan, Perbukitan Menoreh dinilai memiliki modal kuat untuk menjadi rujukan baru, tidak hanya di tingkat nasional tetapi juga internasional.
Lebih jauh, BPOB kini mulai melangkah ke pendekatan regenerative tourism, sebuah konsep yang menempatkan pariwisata sebagai alat pemulihan—baik bagi lingkungan maupun sosial budaya. Artinya, setiap kunjungan diharapkan tidak hanya meninggalkan jejak, tetapi juga kontribusi positif.
Momentum ulang tahun ke-9 ini pun menjadi refleksi sekaligus titik tolak. BPOB mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk melihat pariwisata bukan lagi sebagai industri semata, melainkan sebagai gerakan bersama untuk menciptakan masa depan yang lebih berkelanjutan.
Di Menoreh, pariwisata tidak lagi sekadar perjalanan. Ia telah menjadi proses panjang membangun keseimbangan—antara manusia, alam, dan harapan.
Kontributor : Luthfi
Editor
