
KTP Pentaskan "Orang Kasar", Angkat Konflik Manusia dan Semangat Berkesenian di Purworejo
PURWOREJO – Komunitas Teater Purworejo (KTP) kembali menghadirkan pementasan teater bertajuk "Orang Kasar", sebuah adaptasi karya maestro sastra dunia Anton Chekhov yang diadaptasi oleh W.S. Rendra. Pementasan berlangsung di Gedung Kesenian Wage Rudolf Soepratman Purworejo, Sabtu (20/6/2026) malam.
Mengusung tema tentang pergulatan batin manusia, pertunjukan ini mengajak penonton menyelami konflik emosi, cinta, amarah, hingga kejujuran yang tersembunyi di balik topeng kesopanan.
"Di dalam kepala kita, ada ratusan burung hitam yang berebut keluar. Mereka adalah pikiran-pikiran yang terpenjara, amarah yang mengerak, dan cinta yang menolak tunduk pada keangkuhan dunia," menjadi narasi pembuka yang menggambarkan kuatnya pesan dalam pementasan tersebut.
Pementasan ini sekaligus menjadi persembahan dan penghormatan KTP kepada dua tokoh besar dunia teater, Anton Chekhov dan W.S. Rendra.
Perwakilan Dinas Kepemudaan, Olahraga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Purworejo, Neira Anjar Pujisusilo, menyampaikan apresiasinya terhadap penyelenggaraan pementasan tersebut. Menurutnya, seni pertunjukan merupakan bagian dari subsektor ekonomi kreatif yang memiliki potensi besar untuk terus dikembangkan.
"Kami memberikan dukungan dan apresiasi terhadap kegiatan seperti ini. Seni pertunjukan merupakan bagian dari ekonomi kreatif yang mampu menghadirkan dampak ekonomi melalui hadirnya penonton dan berbagai aktivitas pendukung lainnya," ujarnya.
Meski demikian, ia menilai minat masyarakat terhadap pertunjukan teater masih perlu ditingkatkan. Selama ini, sebagian besar penonton masih didominasi oleh keluarga maupun komunitas pelaku seni.
"Harapan kami ke depan semakin banyak masyarakat umum yang hadir menikmati seni teater sehingga apresiasi terhadap seni pertunjukan semakin meningkat," katanya.
Neira menambahkan, Dinporapar membuka ruang kolaborasi bagi seluruh komunitas seni di Kabupaten Purworejo sesuai kapasitas yang dimiliki pemerintah daerah.
"Melalui kegiatan seperti ini kami berharap seni pertunjukan, khususnya teater, semakin berkembang. Anak-anak muda memiliki wadah untuk berekspresi dan menampilkan karya-karya positif. Ke depan, hal ini juga dapat menjadi daya tarik wisata yang mendatangkan pengunjung, baik dari dalam maupun luar Kabupaten Purworejo," tambahnya.
Sementara itu, Ketua Komunitas Teater Purworejo, Mahestya Andi Sanjaya, mengatakan pementasan "Orang Kasar" dipilih karena isi ceritanya dinilai masih relevan dengan kehidupan masyarakat saat ini.
"Naskah ini mengangkat berbagai persoalan kehidupan, mulai dari cinta, ketegangan hingga komedi yang muncul melalui para tokohnya. Nilai-nilai itu masih sangat dekat dengan realitas kehidupan sekarang," jelasnya.
Menurut Mahestya, pementasan ini juga menjadi bagian dari peringatan usia ke-19 Komunitas Teater Purworejo sekaligus menjadi ruang kreativitas bagi anak-anak muda dari berbagai latar belakang.
"Kami mengajak seluruh masyarakat untuk mendukung perkembangan kesenian di Purworejo, khususnya teater. Semoga semakin banyak kreativitas anak muda yang tumbuh dan mendapatkan ruang untuk berkembang. Hargai kegiatan-kegiatan kreatif di sekitar kita, baik di desa maupun di kota. Mari kita dukung, tonton, dan apresiasi," tuturnya.
Ia menjelaskan, Komunitas Teater Purworejo berdiri pada tahun 2007, berawal dari inisiatif mahasiswa Universitas Muhammadiyah Purworejo. Kini anggotanya berasal dari berbagai kalangan, mulai dari pelajar, mahasiswa hingga para pelaku seni di Kabupaten Purworejo, dan terbuka bagi siapa saja yang ingin bergabung.
Salah satu pemain, Ngumar, yang memerankan tokoh Mandor Darmo, mengaku bangga dapat terlibat dalam pementasan tersebut. Ia menyampaikan terima kasih kepada seluruh penonton yang telah memberikan dukungan.
"Saya sangat bangga bisa menjadi bagian dari pementasan ini. Terima kasih kepada seluruh penonton yang hadir. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Semoga ke depan pementasan teater di Purworejo semakin maju, semakin keren, dan terus berlanjut dengan tema-tema yang berbeda," ungkapnya.