Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Image

100 Siswa SMA/SMK/MA se-Purworejo Deklarasikan Gerakan "Aku Peduli, Sekolah Harmoni", Siap Jadi Pelopor Anti-Bullying

Jumat, 31 Juli 2026 | 06:38 WIB Last Updated 2026-07-30T23:38:35Z

100 Siswa SMA/SMK/MA se-Purworejo Deklarasikan Gerakan "Aku Peduli, Sekolah Harmoni", Siap Jadi Pelopor Anti-Bullying

PURWOREJO
– Semangat menciptakan lingkungan sekolah yang aman, ramah, dan bebas dari perundungan menggema di Aula Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Kamis (30/7/2026). Sebanyak 100 perwakilan siswa SMA/SMK/MA sederajat dari berbagai sekolah di Kabupaten Purworejo mendeklarasikan Gerakan "Aku Peduli, Sekolah Harmoni: Menjadi Pelopor Budaya Peduli, Saling Menghargai, dan Bertumbuh Bersama."


Deklarasi tersebut menjadi puncak Workshop Interaktif Perwakilan Siswa SMA/SMK/MA se-Kabupaten Purworejo yang digelar oleh Pawirosastro Foundation for Law, Justice, and Society Empowerment bekerja sama dengan Paguyuban Muda Ganesha (PMG) Alumni SMA Negeri 1 Purworejo, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, serta didukung Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPPAPMD Kabupaten Purworejo.


Kegiatan ini digelar sebagai bagian dari peringatan Hari Anak Nasional 2026 sekaligus menjawab tantangan meningkatnya kasus perundungan dan kekerasan di lingkungan pendidikan. Para peserta dibekali agar mampu menjadi agen perubahan yang menumbuhkan budaya saling peduli, menghargai perbedaan, dan menciptakan suasana belajar yang nyaman bagi seluruh siswa.


Wakil Ketua Paguyuban Muda Ganesha, Hermawan Wahyu Utomo, S.T., M.Si., menegaskan bahwa persoalan bullying tidak dapat diselesaikan oleh satu pihak saja.


"Bullying merupakan persoalan bersama yang membutuhkan kolaborasi antara sekolah, keluarga, pemerintah, organisasi masyarakat, dan terutama para siswa sebagai bagian dari solusi. Kami berharap peserta workshop ini mampu menjadi pelopor yang menghidupkan budaya saling peduli di sekolah masing-masing," ujarnya.


Senada dengan itu, Direktur Eksekutif Pawirosastro Foundation, Eka Puspasari, S.Sos., mengatakan bahwa perubahan budaya sekolah harus dimulai dari kesadaran para siswa sendiri.


"Sekolah yang aman, ramah, dan harmonis lahir dari budaya saling peduli. Melalui workshop ini kami ingin mengajak seluruh siswa di Purworejo untuk saling menghargai, saling mendukung, dan tumbuh bersama demi terciptanya lingkungan belajar yang nyaman bagi setiap anak," ungkapnya.

Siswa siswi saat berdiskusi

Bekal Menjadi Pelopor dan Pelapor

Dalam sesi materi, peserta mendapatkan pembekalan dari Kepala Bidang Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak DPPPAPMD Kabupaten Purworejo, Henny Safaryuni Tataningsih, S.H., M.A.P., mengenai bentuk-bentuk bullying serta mekanisme penanganannya.


Diskusi berlangsung aktif. Para siswa berbagi pengalaman mengenai berbagai bentuk perundungan yang sering terjadi di sekolah, sekaligus mempelajari cara melapor serta memberikan dukungan kepada korban secara tepat tanpa melampaui kewenangan mereka.


Belajar dari Kasus Nyata

Workshop tidak hanya berisi penyampaian materi. Peserta juga dibagi dalam sepuluh kelompok untuk mendiskusikan berbagai studi kasus yang menggambarkan persoalan nyata di lingkungan sekolah maupun keluarga.


Didampingi fasilitator dari Pawirosastro Foundation, Paguyuban Muda Ganesha, dan Forum Komunikasi Anak Kabupaten Purworejo (FORKARE), para siswa diajak menganalisis akar persoalan, memahami sudut pandang setiap pihak, merumuskan solusi, hingga menyampaikan refleksi bersama.


Seluruh rangkaian diskusi dipandu oleh Mastri Imammusadin, S.H., Manajer Program Pawirosastro Foundation, yang menjaga suasana tetap interaktif dan partisipatif.

Peserta aksi deklarasi

Simbol Komitmen Membangun Sekolah Harmoni

Pada sesi penutup, peserta mengikuti refleksi bersama Abdul Wahab, S.Pd.I., M.Pd.I. (Kak Awe), pemerhati anak sekaligus pendongeng nasional. Dalam suasana yang hangat, peserta diajak memahami pentingnya empati dan kepedulian sebagai fondasi utama sekolah yang damai dan inklusif.


Sebagai simbol komitmen, seluruh peserta menerima PIN Pelopor Budaya Peduli yang menandai kesiapan mereka menjadi agen perubahan di sekolah masing-masing. Program ini juga akan berlanjut melalui pendampingan dan monitoring selama enam bulan guna memastikan nilai-nilai yang diperoleh benar-benar diterapkan dalam berbagai kegiatan sekolah.


Deklarasi Tolak Bullying dan Kekerasan

Puncak kegiatan ditandai dengan pembacaan dan penandatanganan Deklarasi "Aku Peduli, Sekolah Harmoni" oleh seluruh peserta. Dalam deklarasi tersebut, para siswa berkomitmen menjadi pelopor budaya saling peduli, menolak segala bentuk bullying, kekerasan, diskriminasi, dan intoleransi, serta berani bertindak ketika menemukan tindakan kekerasan terhadap sesama.


Deklarasi ini menjadi tonggak lahirnya gerakan siswa pelopor budaya peduli di Kabupaten Purworejo. Melalui gerakan tersebut, siswa tidak hanya menjadi penerima manfaat perlindungan, tetapi juga menjadi aktor utama dalam menciptakan sekolah yang aman, ramah anak, inklusif, dan bebas dari kekerasan.


Diharapkan, semangat "Aku Peduli, Sekolah Harmoni" terus berkembang menjadi budaya positif di seluruh sekolah, melahirkan generasi muda Purworejo yang berkarakter, berprestasi, berempati, dan berakhlak mulia.

×
Berita Terbaru Update