![]() |
| Swadaya Warga Hidup Kembali Setelah 30 Tahun, Jalan Lingkar Desa Kaliglagah Resmi Dibangun Tanpa Dana Pemerintah |
PURWOREJO – Semangat gotong royong masyarakat Desa Kaliglagah, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo kembali bangkit. Melalui swadaya murni dari warga, pembangunan jalan lingkar sepanjang sekitar 1500 meter akhirnya dapat diselesaikan dan diresmikan pada tahun 2026 tanpa menggunakan dana dari pemerintah desa maupun pemerintah pusat.
Peresmian tersebut menjadi bukti bahwa budaya guyub rukun yang sempat vakum selama puluhan tahun kini kembali tumbuh di tengah masyarakat. Kegiatan swadaya ini melibatkan warga dari beberapa wilayah dusun, di antaranya Kadus 1, Kadus 2, Kadus 4, dan Kadus 5.
Kepala Desa Kaliglagah mengungkapkan bahwa dirinya awalnya tidak mengetahui adanya rencana pembangunan tersebut. Informasi justru diperoleh dari laporan warga yang menyampaikan bahwa masyarakat secara sukarela mulai mengumpulkan bantuan untuk pembangunan jalan.
Menurutnya, tidak pernah ada rapat khusus ataupun penarikan iuran kepada warga. Bantuan datang atas kesadaran masing-masing masyarakat.
"Ada yang menyumbang Rp100 ribu, Rp500 ribu, bahkan Rp1 juta. Ada juga yang menyumbangkan semen 5 sak, 20 sak, dan berbagai bentuk bantuan lainnya. Semua datang dengan sukarela tanpa ada paksaan," ujarnya.
Ia menjelaskan, pembangunan tersebut merupakan bentuk kepedulian masyarakat terhadap kondisi jalan yang selama ini belum terselesaikan. Jalan lingkar tersebut sebenarnya sudah dirintis sejak puluhan tahun lalu.
Saat dirinya menjabat pada periode sebelumnya, jalan itu belum terbentuk. Melalui program P3DT kala itu, jalan hanya dibuat dengan pengerasan batu. Beberapa tahun berikutnya dilakukan pembangunan rabat beton, namun hanya pada bagian tapak roda kendaraan.
Selama kurang lebih 30 tahun, pembangunan jalan tersebut tidak lagi berlanjut. Kini masyarakat kembali bergerak bersama untuk menyelesaikan bagian tengah jalan yang sebelumnya belum dicor, bahkan memperbaiki beberapa titik yang telah rusak.
"Yang dibangun sekarang adalah bagian tengah jalan yang dulu belum dicor. Beberapa bagian juga dibuat cor penuh karena kondisi rabat beton lama sudah rusak," jelasnya.
Lebih dari sekadar menyumbangkan uang dan material, warga juga menunjukkan kebersamaan melalui penyediaan konsumsi bagi para pekerja. Selama proses pembangunan berlangsung, makanan disiapkan secara bergotong royong oleh masyarakat.
"Bukan hanya uang atau material, tetapi makan dan minum juga disiapkan secara swadaya. Pekerja dari pagi sampai sore mendapat konsumsi beberapa kali, semuanya dari warga sendiri," katanya.
Pemerintah desa, lanjutnya, hanya memberikan dukungan sesuai kemampuan. Ia mengakui Desa Kaliglagah memiliki keterbatasan karena tidak memiliki tanah bengkok maupun Pendapatan Asli Desa (PAD) yang memadai.
"Karena warga sudah bergerak lebih dulu, kami sebagai pemerintah desa tentu ikut mendukung semampunya," tambahnya.
Kepala desa menegaskan bahwa pembangunan tersebut sama sekali tidak menggunakan anggaran pemerintah pusat. Bantuan pemerintah sebelumnya hanya berupa pembangunan rabat beton tapak roda yang kini sebagian sudah mengalami kerusakan.
Ia menilai bangkitnya kembali budaya gotong royong tidak lepas dari upaya pemerintah desa yang beberapa waktu terakhir rutin menggerakkan kegiatan bersih-bersih lingkungan di seluruh dusun.
Program tersebut dilakukan tanpa pemberitahuan kepada warga. Perangkat desa terlebih dahulu turun membersihkan lingkungan hingga akhirnya masyarakat ikut tergerak untuk bergabung.
Selain itu, pemerintah desa juga mengajak anak-anak sekolah dasar hingga pelajar SMP dan SMA untuk terlibat dalam kegiatan kebersihan lingkungan sebagai bentuk pendidikan karakter sejak dini.
Menurutnya, langkah tersebut perlahan membangkitkan kembali semangat kebersamaan yang dahulu menjadi ciri khas masyarakat Kaliglagah.
Ia bahkan mengenang perjuangan warga pada era 1970-an ketika akses jalan desa masih berupa jalan setapak. Saat itu masyarakat bekerja bakti secara bergiliran, mulai pagi, siang, sore hingga malam hari demi membuka akses jalan yang akhirnya dapat dilalui kendaraan.
"Semangat seperti itulah yang sekarang kembali muncul. Setelah puluhan tahun seolah tertidur, budaya gotong royong itu bangkit lagi," ungkapnya.
Kepala desa berharap semangat swadaya masyarakat dapat terus dipertahankan dan menjadi inspirasi bagi generasi muda. Ia meyakini setiap kebaikan yang dilakukan masyarakat akan mendapat balasan yang lebih baik.
"Harapan saya masyarakat semakin sadar, semakin kuat iman dan takwanya, semakin guyub dan rukun. Mudah-mudahan pemerintah di atas juga melihat semangat masyarakat Kaliglagah sehingga ke depan dapat memberikan perhatian dan dukungan yang lebih besar terhadap pembangunan desa," dipungkasnya.
