Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Image

Dari Sampah Jadi Pesan, Karang Taruna Karangsari Bawa Isu Krisis Ekologi di Karnaval Purworejo

Sabtu, 29 Agustus 2026 | 15:05 WIB Last Updated 2026-08-29T08:05:57Z

Dari Sampah Jadi Pesan, Karang Taruna Karangsari Bawa Isu Krisis Ekologi di Karnaval Purworejo
PURWOREJO — Karnaval Parade Kreatif Tingkat Instansi dan Umum Kabupaten Purworejo tidak hanya menjadi ajang unjuk kreativitas dalam memperingati HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia. Sejumlah peserta juga memanfaatkan momentum tersebut untuk menyampaikan pesan sosial kepada masyarakat.


Hal itu terlihat dari penampilan Karang Taruna Rukun Desa Karangsari, Kecamatan Purwodadi, yang tampil sebagai peserta nomor urut 28 dalam karnaval yang berlangsung di pusat Kota Purworejo, Sabtu (29/8/2026).


Mengusung tema “Krisis Ekologi” dengan konsep “Hutan, Sampah, dan Harapan”, para pemuda Karangsari menyajikan berbagai ornamen dan kostum yang seluruhnya diarahkan pada satu persoalan, yakni kondisi lingkungan yang semakin menghadapi berbagai ancaman.


Ketua Karang Taruna Rukun Desa Karangsari, Muhammad Arif Rofiudin, mengatakan tema tersebut dipilih untuk mengajak masyarakat melihat persoalan lingkungan dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.


Menurutnya, karnaval menjadi salah satu ruang yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat karena dikemas melalui pertunjukan yang menarik dan mudah dipahami.


Salah satu bagian yang mencuri perhatian adalah replika bumi yang dibuat seolah-olah tertutup sampah plastik. Replika tersebut menggambarkan kondisi lingkungan yang harus menghadapi persoalan limbah, terutama sampah plastik yang membutuhkan waktu lama untuk terurai.


Tidak berhenti pada replika bumi, para peserta juga mengenakan kostum yang dibuat dari barang-barang bekas. Plastik, kemasan makanan, koran, kardus, botol, hingga berbagai material yang sudah tidak digunakan disulap menjadi pakaian dan perlengkapan karnaval.


Pemanfaatan barang bekas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang tidak berguna. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang tepat, barang bekas masih dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai.


Pesan itu mereka rangkum melalui ungkapan, “Dari limbah lahir kreativitas, dari kepedulian tumbuh perubahan.”


Persoalan lingkungan juga digambarkan melalui replika kayu gelondongan yang dibawa dalam barisan. Simbol tersebut menggambarkan kondisi hutan yang menghadapi ancaman penebangan dan pemanfaatan sumber daya alam yang tidak diimbangi dengan upaya menjaga kelestariannya.


Puncak penampilan ditandai dengan kemunculan karakter “Monster Hutan”. Sosok tersebut menjadi gambaran mengenai hutan yang mengalami kerusakan akibat berbagai persoalan lingkungan, seperti penebangan liar, kebakaran, pencemaran, serta berkurangnya habitat satwa.


Namun, karakter tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kehancuran. Sebuah tunas muda yang dibawa di tangannya menjadi simbol bahwa masih ada harapan untuk memperbaiki kondisi lingkungan.


Melalui konsep tersebut, Karang Taruna Rukun Karangsari ingin menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja. Perubahan tetap dapat dilakukan, dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan masing-masing.


Masyarakat diajak untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan penghijauan.


Pesan itu sekaligus menjadi bagian dari cara Karang Taruna Rukun Karangsari memaknai peringatan kemerdekaan. Kemerdekaan tidak hanya dipandang sebagai perayaan sejarah bangsa, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.


“Bersatu Menjaga Alam, Berkarya dari Daur Ulang, Menuju Indonesia Hijau, Bersih, dan Berkelanjutan. Jagalah alam, maka alam akan menjagamu,” menjadi pesan yang mereka bawa dalam karnaval tersebut.


Karnaval Parade Kreatif Kabupaten Purworejo tahun ini diikuti sebanyak 38 peserta. Jumlah tersebut terdiri dari 25 peserta kategori instansi dan 13 peserta kategori umum.


Kehadiran Karang Taruna Rukun Karangsari menjadi salah satu contoh bahwa kreativitas dalam sebuah karnaval dapat sekaligus digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.


Melalui kostum berbahan bekas, replika bumi yang diselimuti sampah, simbol kayu gelondongan, hingga sosok Monster Hutan dengan tunas di tangannya, mereka berusaha menyampaikan bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.


Sampah dapat diolah menjadi karya, kerusakan hutan dapat menjadi pengingat, dan sebuah tunas kecil dapat menjadi simbol harapan. Dari karnaval tersebut, Karang Taruna Rukun Karangsari membawa pesan bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama.

Pituruh News
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
Kunjungi Google News
Berita Terbaru
Memuat berita terbaru...

Ikuti Pituruh News

Temukan informasi terbaru Pituruh News di media sosial

Instagram
@pituruhnews
19K+ Followers
Ikuti Instagram
Data terpantau terbaru
f
Facebook
Pituruh News
25,4K+ Likes
Kunjungi Facebook
Data likes halaman
TikTok
@pituruhnews
Follow Media Sosial
Ikuti TikTok
Cek jumlah follower di TikTok
YouTube
Pituruh News
Subscribe Channel YouTube
Subscribe YouTube
Cek jumlah subscriber terbaru

PITURUH NEWS

AKURAT, BERMARTABAT dan BERMANFAAT
Portal berita lokal yang menyajikan informasi terbaru, aktual dan terpercaya seputar Pituruh, Purworejo dan sekitarnya.
EST. 8 MARET 2017
Pituruh News
Aplikasi Pituruh News
Download aplikasi resmi Pituruh News untuk mendapatkan berita terbaru Purworejo dan sekitarnya dengan lebih mudah langsung dari perangkat Android Anda.
📲 DOWNLOAD APLIKASI
Aplikasi Android • Pituruh News
Ikuti Pituruh News
Pituruh News • Portal Berita Lokal Purworejo
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
×
Berita Terbaru Update