![]() |
| Dari Sampah Jadi Pesan, Karang Taruna Karangsari Bawa Isu Krisis Ekologi di Karnaval Purworejo |
Hal itu terlihat dari penampilan Karang Taruna Rukun Desa Karangsari, Kecamatan Purwodadi, yang tampil sebagai peserta nomor urut 28 dalam karnaval yang berlangsung di pusat Kota Purworejo, Sabtu (29/8/2026).
Mengusung tema “Krisis Ekologi” dengan konsep “Hutan, Sampah, dan Harapan”, para pemuda Karangsari menyajikan berbagai ornamen dan kostum yang seluruhnya diarahkan pada satu persoalan, yakni kondisi lingkungan yang semakin menghadapi berbagai ancaman.
Ketua Karang Taruna Rukun Desa Karangsari, Muhammad Arif Rofiudin, mengatakan tema tersebut dipilih untuk mengajak masyarakat melihat persoalan lingkungan dari sisi yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Menurutnya, karnaval menjadi salah satu ruang yang efektif untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat karena dikemas melalui pertunjukan yang menarik dan mudah dipahami.
Salah satu bagian yang mencuri perhatian adalah replika bumi yang dibuat seolah-olah tertutup sampah plastik. Replika tersebut menggambarkan kondisi lingkungan yang harus menghadapi persoalan limbah, terutama sampah plastik yang membutuhkan waktu lama untuk terurai.
Tidak berhenti pada replika bumi, para peserta juga mengenakan kostum yang dibuat dari barang-barang bekas. Plastik, kemasan makanan, koran, kardus, botol, hingga berbagai material yang sudah tidak digunakan disulap menjadi pakaian dan perlengkapan karnaval.
Pemanfaatan barang bekas tersebut sekaligus menunjukkan bahwa sampah tidak selalu berakhir sebagai sesuatu yang tidak berguna. Dengan kreativitas dan pengelolaan yang tepat, barang bekas masih dapat diolah menjadi karya yang memiliki nilai.
Pesan itu mereka rangkum melalui ungkapan, “Dari limbah lahir kreativitas, dari kepedulian tumbuh perubahan.”
Persoalan lingkungan juga digambarkan melalui replika kayu gelondongan yang dibawa dalam barisan. Simbol tersebut menggambarkan kondisi hutan yang menghadapi ancaman penebangan dan pemanfaatan sumber daya alam yang tidak diimbangi dengan upaya menjaga kelestariannya.
Puncak penampilan ditandai dengan kemunculan karakter “Monster Hutan”. Sosok tersebut menjadi gambaran mengenai hutan yang mengalami kerusakan akibat berbagai persoalan lingkungan, seperti penebangan liar, kebakaran, pencemaran, serta berkurangnya habitat satwa.
Namun, karakter tersebut tidak sepenuhnya menggambarkan kehancuran. Sebuah tunas muda yang dibawa di tangannya menjadi simbol bahwa masih ada harapan untuk memperbaiki kondisi lingkungan.
Melalui konsep tersebut, Karang Taruna Rukun Karangsari ingin menunjukkan bahwa kerusakan lingkungan bukan sesuatu yang harus diterima begitu saja. Perubahan tetap dapat dilakukan, dimulai dari kebiasaan sederhana di lingkungan masing-masing.
Masyarakat diajak untuk mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, memilah sampah, menggunakan kembali barang yang masih layak, menjaga kebersihan lingkungan, serta melakukan penghijauan.
Pesan itu sekaligus menjadi bagian dari cara Karang Taruna Rukun Karangsari memaknai peringatan kemerdekaan. Kemerdekaan tidak hanya dipandang sebagai perayaan sejarah bangsa, tetapi juga sebagai kesempatan untuk membangun lingkungan yang lebih baik bagi generasi mendatang.
“Bersatu Menjaga Alam, Berkarya dari Daur Ulang, Menuju Indonesia Hijau, Bersih, dan Berkelanjutan. Jagalah alam, maka alam akan menjagamu,” menjadi pesan yang mereka bawa dalam karnaval tersebut.
Karnaval Parade Kreatif Kabupaten Purworejo tahun ini diikuti sebanyak 38 peserta. Jumlah tersebut terdiri dari 25 peserta kategori instansi dan 13 peserta kategori umum.
Kehadiran Karang Taruna Rukun Karangsari menjadi salah satu contoh bahwa kreativitas dalam sebuah karnaval dapat sekaligus digunakan sebagai media untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat.
Melalui kostum berbahan bekas, replika bumi yang diselimuti sampah, simbol kayu gelondongan, hingga sosok Monster Hutan dengan tunas di tangannya, mereka berusaha menyampaikan bahwa persoalan lingkungan merupakan tanggung jawab bersama.
Sampah dapat diolah menjadi karya, kerusakan hutan dapat menjadi pengingat, dan sebuah tunas kecil dapat menjadi simbol harapan. Dari karnaval tersebut, Karang Taruna Rukun Karangsari membawa pesan bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana yang dilakukan bersama.
