Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Image

Kajian Internasional di Darul Arqom Dorong Santri Bangun Tradisi Keilmuan

Selasa, 25 Agustus 2026 | 17:42 WIB Last Updated 2026-08-25T10:42:10Z

 

Kajian Internasional di Darul Arqom Dorong Santri Bangun Tradisi Keilmuan
PURWOREJO — Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan, Kabupaten Purworejo, menggelar Internasional Kajian Santri pada Ahad–Senin, 23–24 Agustus 2026. Kegiatan yang berlangsung di Aula Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan tersebut menghadirkan Ustaz Haji Zainudin bin Mohammad Husain dari Malaysia, penggagas Yayasan Gerakan Peduli Nusantara.


Kajian yang diikuti santriwan dan santriwati itu mengangkat tema “Membedah Pemikiran Ilmuwan Muslim Kita”. Pembahasan tidak hanya mengajak peserta mengenal kembali tokoh-tokoh ilmuwan Muslim, tetapi juga mendorong santri agar menjadikan ilmu sebagai bekal untuk memberikan manfaat bagi masyarakat.


Dalam penyampaiannya, Ustaz Haji Zainudin mengajak para santri melihat kembali perjalanan panjang tradisi keilmuan dalam Islam. Menurutnya, perkembangan ilmu pengetahuan yang dinikmati masyarakat saat ini tidak terlepas dari proses panjang yang melibatkan banyak ilmuwan dari berbagai peradaban, termasuk ilmuwan Muslim.


Ia mengajak santri tidak berhenti sebagai pengguna teknologi. Perkembangan kamera, telepon seluler, perangkat optik hingga teknologi untuk mengamati benda-benda langit, menurutnya, perlu dilihat sebagai bagian dari perjalanan panjang manusia dalam mengembangkan ilmu pengetahuan.


Pertanyaan mengenai siapa yang dahulu membangun dunia melalui ilmu pengetahuan menjadi salah satu pengantar dalam kajian tersebut. Dari sana, santri diarahkan untuk memahami bahwa tradisi membaca, meneliti, bertanya dan menghasilkan karya merupakan bagian penting dalam membangun sebuah peradaban.


Mengenalkan Kembali Ilmuwan Muslim


Sejumlah nama ilmuwan Muslim turut dibahas dalam kajian. Di antaranya Al-Khawarizmi yang dikenal dalam bidang matematika, Ibnu Sina dalam kedokteran, Ibnu Al-Haitsam dalam bidang optik, Ibnu Al-Zahrawi dalam ilmu bedah, Al-Biruni dalam geografi dan astronomi, serta Al-Razi yang memiliki kontribusi dalam bidang pengobatan dan kimia.


Pengenalan terhadap tokoh-tokoh tersebut diharapkan dapat memperluas wawasan santri mengenai sejarah perkembangan ilmu pengetahuan. Menurut Ustaz Haji Zainudin, mengenal ilmuwan Barat tetap penting, namun generasi Muslim juga perlu mengetahui kontribusi ilmuwan dari dunia Islam.


Ia menekankan bahwa karya para ilmuwan Muslim pada masa lalu tidak hanya berupa gagasan, tetapi juga berkaitan dengan berbagai persoalan kehidupan. Perkembangan pengobatan, rumah sakit, matematika, astronomi dan teknologi menjadi contoh bagaimana ilmu dikembangkan untuk menjawab kebutuhan manusia.


Karena itu, sejarah kejayaan ilmu pengetahuan dalam Islam tidak semestinya berhenti pada cerita masa lalu. Sejarah tersebut perlu menjadi pemantik bagi generasi muda untuk kembali membangun budaya ilmu.


Ilmu Harus Melahirkan Manfaat


Pesan yang cukup kuat dalam kajian tersebut adalah dorongan agar santri tidak hanya mengejar pengetahuan untuk dirinya sendiri. Ilmu yang diperoleh di pesantren diharapkan dapat diwujudkan dalam bentuk karya dan pengabdian.


“Jangan hanya datang ke pesantren hanya untuk belajar itu sudah. Datang ke pesantren menuntut ilmu dan berdampak,” menjadi salah satu pesan yang disampaikan kepada peserta.


Menurutnya, pesantren memiliki peran penting dalam membentuk generasi yang tidak hanya memiliki pengetahuan agama, tetapi juga mempunyai wawasan luas, kemampuan berpikir, karakter dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar.


Dalam konteks tersebut, iman, ilmu, amal dan akhlak menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan. Kemajuan sebuah peradaban tidak cukup hanya mengandalkan kecerdasan, tetapi juga membutuhkan karakter dan orientasi kemanfaatan.


Sepuluh Bekal Menjadi Generasi Berilmu


Ustaz Haji Zainudin juga menyampaikan sejumlah hal yang dapat menjadi bekal santri dalam membangun tradisi keilmuan.


Sepuluh hal tersebut meliputi iman yang kuat, semangat menuntut ilmu, budaya membaca, budaya bertanya, kemauan mengkaji dan meneliti, menghormati guru, memanfaatkan perpustakaan dan pusat ilmu, menghasilkan karya, menjadikan ilmu bermanfaat bagi manusia, serta memiliki cita-cita besar.


Menurutnya, kebiasaan membaca dan bertanya akan membentuk rasa ingin tahu. Sementara kegiatan mengkaji dan meneliti melatih santri agar tidak sekadar menerima informasi, tetapi mampu memahami persoalan secara lebih mendalam.


Di sisi lain, menghormati guru tetap menjadi bagian penting dalam proses mencari ilmu. Lingkungan pendidikan yang didukung perpustakaan dan pusat ilmu juga diperlukan agar budaya belajar dapat tumbuh secara berkelanjutan.


Matematika Melatih Cara Berpikir


Dalam kajian tersebut, matematika juga mendapat perhatian. Ustaz Haji Zainudin menyampaikan bahwa belajar matematika tidak semata-mata berkaitan dengan kemampuan menemukan jawaban, tetapi juga melatih seseorang mencari jalan untuk menyelesaikan persoalan.


Cara berpikir sistematis yang terbentuk melalui pembelajaran matematika dinilai dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, setiap bidang ilmu tidak seharusnya hanya dipandang sebagai teori atau hafalan, melainkan juga sebagai sarana membentuk pola pikir.


Kisah Anak Petani hingga Belajar ke Luar Negeri


Untuk membangkitkan semangat peserta, Ustaz Haji Zainudin turut menceritakan kisah sejumlah anak Indonesia yang mampu melanjutkan pendidikan ke Jepang, Korea Selatan dan China meski berasal dari keluarga sederhana.


Sebagian dari mereka merupakan anak petani dan berasal dari keluarga dengan keterbatasan ekonomi. Ada pula yang tumbuh tanpa ayah dan harus melihat ibunya bekerja keras memenuhi kebutuhan keluarga.


Kondisi tersebut tidak membuat mereka berhenti mengejar pendidikan. Dengan belajar sungguh-sungguh dan bekerja keras, mereka mampu mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan hingga ke luar negeri.


Kisah tersebut menjadi pengingat bagi para santri bahwa latar belakang keluarga bukan satu-satunya penentu masa depan.


“Tidak ada yang mustahil, seandainya kita itu hatinya kuat untuk mengejar apa yang kita impikan,” menjadi pesan yang menguatkan cerita tersebut.


Diharapkan Berlanjut Menjadi Kerja Sama


Direktur Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan Purworejo, Ustaz Dr. (CAND) Muhammad Nurrosyid Huda Setiawan, S.Th.I., MIRKH, menyampaikan rasa syukur atas kehadiran Ustaz Haji Zainudin di lingkungan pesantren.


Ia menyebut kedatangan tokoh dari Malaysia tersebut sebagai bagian dari silaturahmi yang diharapkan membawa manfaat bagi warga pesantren.


“Alhamdulillaah, senang sekali bersyukur kepada Allah Subhanahu wata'ala karena pada tadi malam dan hari ini kami kedatangan seorang tamu besar kami, sahabat kami, yaitu Ust. Haji Zainudin bin Mohammad Husain dari Malaysia sebagai Penggagas Yayasan Gerakan Peduli Nusantara,” ujarnya.


Menurutnya, pertemuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan satu kali. Silaturahmi yang telah terjalin diharapkan dapat berkembang menjadi kerja sama dan kegiatan keilmuan yang berkelanjutan.


Kehadiran narasumber dari Malaysia juga membuka ruang bagi santri untuk mendapatkan pengalaman dan wawasan dari lingkungan pendidikan yang lebih luas.


Pesantren dan Tantangan Masa Depan


Ustaz Haji Zainudin juga menaruh perhatian terhadap pentingnya pendidikan dalam menyiapkan generasi masa depan. Ia berharap Pondok Pesantren Darul Arqom Muhammadiyah Bayan terus berkembang dan mampu melahirkan generasi yang memberikan kontribusi bagi umat, bangsa, negara hingga dunia.


“Pendidikan merupakan satu perkara yang sangat penting,” pesannya.


Menurutnya, pesantren memiliki potensi besar untuk menjadi tempat tumbuhnya generasi yang memiliki dasar keagamaan sekaligus kemampuan menghadapi perkembangan zaman.


Hal tersebut menjadi semakin penting di tengah perubahan teknologi yang berlangsung cepat. Santri saat ini hidup dalam lingkungan digital yang menghadirkan berbagai peluang sekaligus tantangan. Karena itu, kemampuan berpikir, membaca perkembangan zaman dan menghasilkan karya menjadi bekal yang semakin diperlukan.


Santri Tidak Cukup Menjadi Pewaris Sejarah


Internasional Kajian Santri tersebut pada akhirnya membawa peserta pada satu gagasan utama: sejarah kejayaan ilmu pengetahuan Islam perlu diteruskan melalui kerja nyata generasi saat ini.


Santri didorong untuk memperbanyak membaca, berani bertanya, serius melakukan kajian, menghormati guru, memanfaatkan fasilitas pendidikan dan menghasilkan karya yang dapat memberikan manfaat.


Ustaz Haji Zainudin juga mengingatkan para santri agar tidak takut memiliki cita-cita besar.


“Jangan takut untuk bermimpi besar. Tetapi ingat, kejayaan tidak datang hanya karena kita mempunyai impian. Kita perlu bersedia, belajar, berusaha dan berani mencoba,” pesannya.


Kajian tersebut sekaligus menegaskan bahwa pesantren tidak hanya menjadi tempat menimba ilmu agama. Pesantren juga dapat menjadi ruang untuk menumbuhkan tradisi intelektual, membangun karakter dan menyiapkan generasi yang mampu mengambil peran dalam kehidupan masyarakat.


Dari lingkungan pesantren, cita-cita besar itu dapat dimulai. Santri tidak hanya diharapkan menjadi pewaris sejarah kejayaan Islam, tetapi juga memiliki keberanian untuk melanjutkan dan menciptakan karya baru bagi peradaban.

Pituruh News
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
Kunjungi Google News
Berita Terbaru
Memuat berita terbaru...

Ikuti Pituruh News

Temukan informasi terbaru Pituruh News di media sosial

Instagram
@pituruhnews
19K+ Followers
Ikuti Instagram
Data terpantau terbaru
f
Facebook
Pituruh News
25,4K+ Likes
Kunjungi Facebook
Data likes halaman
TikTok
@pituruhnews
Follow Media Sosial
Ikuti TikTok
Cek jumlah follower di TikTok
YouTube
Pituruh News
Subscribe Channel YouTube
Subscribe YouTube
Cek jumlah subscriber terbaru

PITURUH NEWS

AKURAT, BERMARTABAT dan BERMANFAAT
Portal berita lokal yang menyajikan informasi terbaru, aktual dan terpercaya seputar Pituruh, Purworejo dan sekitarnya.
EST. 8 MARET 2017
Pituruh News
Aplikasi Pituruh News
Download aplikasi resmi Pituruh News untuk mendapatkan berita terbaru Purworejo dan sekitarnya dengan lebih mudah langsung dari perangkat Android Anda.
📲 DOWNLOAD APLIKASI
Aplikasi Android • Pituruh News
Ikuti Pituruh News
Pituruh News • Portal Berita Lokal Purworejo
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
×
Berita Terbaru Update