![]() |
| Proyek Bendungan Bener Mandek, Polosoro Desak Pusat Turun Tangan Selamatkan Petani Purworejo |
Dorongan untuk melanjutkan proyek Bendungan Bener ini menjadi salah satu rekomendasi utama yang dihasilkan dalam Musyawarah Daerah (Musda) ke-8 Polosoro. Perwakilan pengurus Polosoro, Agung Y. P., mengungkapkan bahwa penyelesaian bendungan ini adalah kunci utama untuk mewujudkan Asta Cita Presiden, khususnya terkait kedaulatan air dan ketahanan pangan.
"Saat ini progresnya terkesan stuck atau mandek. Tidak ada kelanjutan yang pasti, padahal masyarakat dan petani di Purworejo sudah sangat menantikan rampungnya proyek ini," ungkap Agung usai pelantikan pengurus, Selasa (1/9/2026).
Dampak dari terhentinya pembangunan ini langsung dirasakan oleh petani di akar rumput. Memasuki MT 3 ini, ketersediaan air di Daerah Irigasi di Kedung Putri dan di Boro merosot tajam. Agung memaparkan, per tanggal 1 September 2026, debit air di Kedung Putri tercatat hanya tersisa sekitar 1.100 liter per detik. Debit sekecil itu praktis membuat air tak mampu menjangkau sawah-sawah warga, jangankan untuk menanam, untuk sekadar mengolah tanah pun tidak bisa.
Akibatnya, dari total sekitar 10 ribu hektar lahan potensial yang bergantung pada Boro dan Kedung Putri, diperkirakan hanya 10 hingga 20 persen saja yang masih bisa digarap. Kondisi ini membuat para petani terancam gagal tanam dan kesejahteraannya menurun drastis.
Pihak Polosoro juga menyayangkan kondisi ini mengingat Pemerintah Kabupaten Purworejo sebenarnya sudah sangat berkomitmen pada sektor pertanian. Hal ini dibuktikan dengan ditetapkannya lebih dari 87 persen Lahan Sawah Dilindungi (LSD) ke dalam Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B). Namun, sebaik apa pun perlindungan lahannya, hamparan sawah tersebut dinilai akan sia-sia dan kurang bermanfaat tanpa adanya kepastian pasokan air.
Padahal, jika merujuk pada rencana awal dan redesign tahun 2024, Bendungan Bener menyimpan potensi yang luar biasa. Bendungan ini diproyeksikan mampu mengairi hingga 15 ribu hektar lahan. Infrastrukturnya pun sudah dirancang matang dengan membagi aliran ke sayap kiri dan kanan.
Nantinya, aliran sayap kiri akan difokuskan untuk memenuhi kebutuhan di bawah kewenangan kabupaten seperti di Kebangsan dan di Kalisemo. Sedangkan sayap kanan didesain untuk menjangkau luasan yang lebih masif hingga ke di Loning Kragilan yang berada di bawah wewenang provinsi dengan cakupan lahan mencapai 2.500 hektar.
Melihat urgensi tersebut, Polosoro menyatakan tidak akan tinggal diam. Dalam waktu dekat, mereka berencana menggelar koordinasi intensif dengan jajaran Pemkab Purworejo. Langkah ini diharapkan bisa menjadi amunisi untuk mendesak pemerintah pusat agar proyek Bendungan Bener segera dilanjutkan.
"Langkah apa pun yang akan kita laksanakan, semuanya demi mendukung dan menyukseskan Asta Cita Presiden, serta mengamankan kesejahteraan petani kita di Purworejo," pungkas Agung.
