Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Image Image

Belajar Mengelola Gerakan dari Akar Rumput, Muhammadiyah Kayuputih–Rawamangun Kunjungi Kutoarjo

Selasa, 06 Oktober 2026 | 09:36 WIB Last Updated 2026-10-06T02:36:08Z


 Belajar Mengelola Gerakan dari Akar Rumput, Muhammadiyah Kayuputih–Rawamangun Kunjungi Kutoarjo


KUTOARJO — Pertemuan antara Muhammadiyah Kayuputih–Rawamangun Jakarta dengan Muhammadiyah Kutoarjo, Kabupaten Purworejo, berlangsung dalam suasana penuh keakraban. Selama dua hari, Ahad–Senin (4–5/10/2026), kedua pihak saling berbagi pengalaman mengenai pengelolaan organisasi, dakwah, kaderisasi, hingga pengembangan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM).


Rombongan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Kayuputih di bawah Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Rawamangun, Jakarta, diterima jajaran Muhammadiyah Kutoarjo dalam rangkaian silaturahmi yang sekaligus menjadi ruang bertukar pengalaman.


Sejumlah AUM menjadi lokasi kunjungan, di antaranya SD Muhammadiyah Kutoarjo, RS PKU Muhammadiyah Kutoarjo, Masjid Darussalam, serta Gedung Dakwah Muhammadiyah Kutoarjo.


Pertemuan tersebut juga melibatkan sejumlah unsur Persyarikatan dan AUM di Kutoarjo, seperti PCM Kutoarjo, PCA Kutoarjo, Keluarga Sekawan Kutoarjo, SD Muhammadiyah Kutoarjo, SMP Muhammadiyah Kutoarjo, dan RS PKU Muhammadiyah Kutoarjo.


Ketua PCM Kutoarjo, H. Moh. Mansur, S.Pd.I., mengatakan kedatangan rombongan dari Jakarta berawal dari hubungan personal salah satu pengurus PRM Kayuputih–PCM Rawamangun yang memiliki keterkaitan dengan Kutoarjo.


Menurutnya, silaturahmi tersebut kemudian berkembang menjadi kesempatan untuk saling mengenal sekaligus melihat secara langsung perkembangan Muhammadiyah di masing-masing wilayah.


“Program ini tidak sengaja kami programkan, tetapi karena ada silaturahmi di salah satu pengurus PRM Kayu Putih Rawamangun Jakarta Timur yang kebetulan rumahnya di Kutoarjo. Sehingga silaturahmi sekaligus berkunjung ke Amal Usaha Muhammadiyah Kutoarjo,” kata Mansur.


Ia menyebut kunjungan tersebut memberikan ruang bagi kedua pihak untuk saling bertukar pengalaman. Bagi Muhammadiyah Kutoarjo, pengalaman pengelolaan ranting dan cabang di Jakarta dapat menjadi bahan pembelajaran, sementara perkembangan AUM di Kutoarjo juga dapat menjadi referensi bagi rombongan.


Berawal dari Perjuangan Sederhana


Wakil Ketua PRM Kayuputih sekaligus Wakil Ketua PCM Rawamangun Jakarta, Zasirullah Salim, mengaku mendapatkan kesan mendalam selama mengikuti kunjungan.


Menurut Zasirullah, terdapat kesamaan dalam perjalanan Muhammadiyah di berbagai daerah. Banyak amal usaha yang saat ini berkembang ternyata bermula dari perjuangan sederhana di tingkat akar rumput.


“Kami mendapatkan kesan yang sangat mendalam dalam kunjungan kami tidak resmi ke Pimpinan Cabang Muhammadiyah Kutoarjo,” ujarnya.


Ia menilai keberadaan sekolah, rumah sakit, masjid, dan berbagai layanan masyarakat yang berkembang di Kutoarjo tidak terlepas dari perjuangan panjang para tokoh Muhammadiyah.


“Akar rumput itu berjuang secara gigih untuk mencapai tujuan bersama,” katanya.


Bagi Zasirullah, pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting bagi PRM Kayuputih dan PCM Rawamangun. Apa yang telah dilakukan Muhammadiyah Kutoarjo dinilai dapat menjadi inspirasi untuk mengembangkan gerakan di Jakarta.


“Perkembangan yang terjadi di Kutoarjo ini saya pikir akan menjadi sebuah inspirasi pula bagi kami di PRM Kayu Putih–PCM Rawamangun agar apa yang dapat kami lihat di sini bisa kami kerjakan di tempat kami,” tuturnya.


Menurutnya, salah satu hal yang menarik adalah bagaimana perjuangan tersebut dimulai dari sesuatu yang sederhana, kemudian berkembang menjadi karya yang memberikan pelayanan kepada masyarakat, terutama melalui pendidikan dan kesehatan.


“Keikhlasan berkorban para tokoh Muhammadiyah di sini sungguh sangat inspiratif bagi kita kembangkan di tempat kami,” ucapnya.


Menjaga Amanah dan Menguatkan Wakaf


Dalam kunjungan tersebut, rombongan juga mendapatkan gambaran mengenai kiprah sejumlah tokoh Muhammadiyah Kutoarjo. Salah satu nama yang disebut adalah almarhum H. Suryadi.


Zasirullah menilai perjuangan tokoh tersebut meninggalkan manfaat yang masih dirasakan hingga sekarang. Menurut dia, keberadaan amal usaha tidak hanya lahir dari kemampuan mengelola organisasi, tetapi juga dari kepedulian dan kesediaan warga Persyarikatan untuk memberikan dukungan.


“Kami sampaikan rasa syukur karena almarhum Bapak H. Suryadi dengan meninggalkan sebuah legacy yang demikian bermanfaat bagi masyarakat,” katanya.


Ia menyebut H. Suryadi juga pernah memberikan perhatian terhadap pembangunan Islamic Center Al Madani Muhammadiyah Kayuputih.


Bagi Zasirullah, pengalaman tersebut menunjukkan pentingnya menjaga amanah dan membangun kepercayaan masyarakat. Wakaf dan kontribusi warga akan menjadi kekuatan bagi Persyarikatan apabila dikelola secara bertanggung jawab dan benar-benar diarahkan untuk kemaslahatan.


Semangat untuk berani memulai juga menjadi salah satu pelajaran yang dibawa dari pengalaman tersebut. Di lingkungan Muhammadiyah dikenal istilah “BONEK” atau “Bondho Nekat”, yang dimaknai sebagai keberanian untuk memulai sebuah gerakan dengan niat dan keyakinan, kemudian mengembangkannya secara bertahap.


Pengajian Menjadi Tolok Ukur Kehidupan Ranting


Dalam diskusi, persoalan kehidupan ranting juga menjadi salah satu pembahasan. Pengajian dinilai memiliki posisi penting karena menjadi ruang pertemuan antara pimpinan, anggota, kader, dan masyarakat.


Ranting tidak hanya diukur dari keberadaan struktur organisasi atau kepengurusan. Aktivitas dakwah yang berjalan secara rutin menjadi salah satu tanda bahwa kehidupan Persyarikatan di tingkat bawah tetap bergerak.


“Ranting dan Cabang Muhammadiyah dianggap hidup kalau ada pengajiannya,” menjadi salah satu pokok pemikiran yang mengemuka dalam pertemuan tersebut.


Melalui pengajian, hubungan dengan jamaah dapat terus dijaga. Dari kegiatan tersebut pula pembinaan keagamaan, kaderisasi, kepedulian sosial, hingga pemberdayaan masyarakat dapat dikembangkan.


Karena itu, penguatan ranting tidak hanya menyangkut persoalan administrasi organisasi, tetapi juga bagaimana menghadirkan kegiatan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.


Pengalaman PRM Kayuputih


PRM Kayuputih memiliki pengalaman dalam pengembangan ranting. Dalam pemaparan yang disampaikan kepada peserta, PRM Kayuputih disebut pernah meraih Juara II Ranting Muhammadiyah Award 2018 dan Juara I Ranting Muhammadiyah Award 2019.


Zasirullah menjelaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari sejumlah langkah yang dilakukan secara konsisten.


Salah satunya adalah membangun hubungan dengan tokoh masyarakat. Menurut dia, komunikasi yang baik dengan lingkungan sekitar menjadi modal penting karena aktivitas dakwah Muhammadiyah berlangsung di tengah masyarakat.


Selain itu, kepercayaan masyarakat harus dijaga. Amanah, termasuk wakaf, harus dikelola secara terbuka dan bertanggung jawab sehingga masyarakat memiliki keyakinan untuk terus memberikan dukungan.


Penguatan sinergi dengan organisasi otonom Muhammadiyah juga menjadi bagian dari strategi tersebut. Keterlibatan 'Aisyiyah dan generasi muda dinilai penting untuk memperluas ruang dakwah sekaligus menjaga keberlanjutan organisasi.


“Kerja sama dan kolaborasi adalah sebuah jalan yang niscaya bagi kemajuan sebuah gerakan. Dengan bekerja sama, jalan kita semakin sempurna,” kata Zasirullah.


Selain itu, PRM Kayuputih mendorong pembinaan bagi guru, ustaz dan ustazah, serta imam masjid. Penguatan sumber daya manusia tersebut dipandang penting agar kegiatan dakwah dapat berjalan dengan baik.


Ke depan, PRM Kayuputih juga berencana mengembangkan pelatihan manajemen dakwah digital. Langkah tersebut diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan generasi muda sekaligus menyesuaikan metode dakwah dengan perkembangan teknologi.


Persyarikatan dan AUM Harus Berjalan Bersama


Pembahasan juga menyentuh hubungan antara Persyarikatan dengan amal usaha. Bagi Muhammadiyah, AUM tidak hanya menjadi lembaga pelayanan, tetapi juga bagian dari instrumen dakwah.


PRM Kayuputih sendiri disebut telah membangun kerja sama dengan Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka (UHAMKA) dan LPCR PWM DKI.


Pengalaman PCM Rawamangun juga menunjukkan bagaimana organisasi dan amal usaha dikembangkan secara bertahap. PCM Rawamangun telah berdiri sejak 1964 dan kemudian berkembang dengan sejumlah ranting serta amal usaha di bidang pendidikan, keagamaan, dan pelayanan masyarakat.


Dalam bidang pendidikan, antara lain terdapat SMP Muhammadiyah 31 Jakarta, SD Muhammadiyah 24, SMA Muhammadiyah 11 Jakarta, Sekolah Muhammadiyah Cariu di Bogor, dan Tahfidz Centre Muhammadiyah Cipinang.


Selain pendidikan, PCM Rawamangun juga mengembangkan berbagai kegiatan dan unit pendukung, termasuk layanan Antar Jemput Siswa Muhammadiyah (AJISMA), layanan haji dan umrah, serta SM Corner Jakarta.


Pengelolaan aset juga menjadi bagian dari upaya membangun kemandirian organisasi. Sejumlah aset seperti lahan parkir, rumah kos, ruko, aula, kantin, lapangan olahraga, kendaraan, hingga lahan untuk Base Transceiver Station dikelola sebagai bagian dari pengembangan organisasi.


Dalam pengelolaan keuangan AUM, PCM Rawamangun juga menerapkan sentralisasi keuangan dan digitalisasi administrasi, termasuk sistem payroll terintegrasi.


Kutoarjo Mendapat Energi Baru


Ketua PCM Kutoarjo, H. Moh. Mansur, mengatakan pertemuan tersebut memberikan banyak masukan bagi Muhammadiyah Kutoarjo.


Ia menilai pengalaman PRM Kayuputih dan PCM Rawamangun menunjukkan bahwa membangun Persyarikatan membutuhkan proses panjang, konsistensi, dan keterlibatan banyak pihak.


“Dalam sharing berbagi tentang perjuangan untuk membesarkan Amal Usaha Muhammadiyah di Kutoarjo maupun di PRM Kayu Putih Rawamangun Jakarta Timur, banyak hal yang kita bahas,” ujarnya.


Mansur mengatakan semangat fastabiqul khairat harus terus dijaga dalam pengembangan Persyarikatan.


“Muhammadiyah adalah suatu gerakan untuk fastabiqul khairat. Perlu perjuangan yang tangguh, perlu keikhlasan untuk membersamai amal usaha di masing-masing,” katanya.


Ia berharap pertemuan tersebut tidak berhenti sebagai kunjungan, tetapi dapat membuka peluang kerja sama di kemudian hari.


“Mudah-mudahan dengan silaturahmi ini terinspirasi Pimpinan Cabang Muhammadiyah–'Aisyiyah Kutoarjo untuk selalu berbuat yang lebih baik, Islam Berkemajuan di Kutoarjo,” ujarnya.


Empat Modal bagi Pimpinan


Dalam diskusi yang berlangsung di Aula Rapat SD Muhammadiyah Kutoarjo, turut dibahas mengenai karakter yang perlu dimiliki seorang pimpinan Persyarikatan.


Ada empat hal yang ditekankan, yakni integritas, kapasitas, kemampuan berkolaborasi, dan keikhlasan.


Integritas diperlukan agar pimpinan mampu menjaga amanah dan konsisten dalam menjalankan tanggung jawab. Kapasitas dibutuhkan agar organisasi dapat dikelola secara profesional dan mampu menghadapi berbagai persoalan.


Kemampuan berkolaborasi juga menjadi kebutuhan karena Muhammadiyah memiliki banyak unsur, mulai dari pimpinan, organisasi otonom, amal usaha, kader, hingga masyarakat.


Sementara keikhlasan menjadi dasar dalam menjalankan seluruh proses tersebut.


“Harus punya integritas, harus punya kapasitas, harus bisa kolaborasi, harus ada keikhlasan. Suksesnya, kuncinya ada pada keikhlasan ini,” pesan yang disampaikan dalam forum.


Pembahasan tersebut sekaligus menjadi refleksi bahwa kemajuan Muhammadiyah tidak hanya bergantung pada besar kecilnya amal usaha, tetapi juga kualitas orang-orang yang mengelolanya.


Silaturahmi Diharapkan Berlanjut


Zasirullah berharap pertemuan dengan Muhammadiyah Kutoarjo dapat menjadi awal dari hubungan yang lebih panjang.


“Semoga silaturahim kerja sama antar-ranting dan cabang Muhammadiyah Rawamangun akan berlanjut lagi dengan Muhammadiyah Kutoarjo, PDM-nya dan PCM-nya,” ujarnya.


Ia juga membuka kesempatan bagi jajaran Muhammadiyah Kutoarjo untuk berkunjung ke PCM Rawamangun Jakarta.


Bagi kedua pihak, silaturahmi tersebut memberikan gambaran bahwa setiap daerah memiliki pengalaman dan cara masing-masing dalam mengembangkan Persyarikatan. Namun, persoalan yang dihadapi memiliki banyak kesamaan, mulai dari kaderisasi, penguatan dakwah, menjaga kepercayaan masyarakat, hingga mengelola amal usaha agar tetap memberikan manfaat.


Pertemuan di Kutoarjo pun tidak berhenti pada pertukaran cerita. Pengalaman yang dibagikan menjadi bahan evaluasi dan inspirasi untuk melihat kembali apa yang sudah dilakukan sekaligus menentukan langkah berikutnya.


Dari Jakarta hingga Kutoarjo, perjalanan tersebut memperlihatkan satu hal yang sama: gerakan besar dibangun dari langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten. Ketika silaturahmi, kepercayaan, kolaborasi, dan keikhlasan terus dijaga, Persyarikatan memiliki ruang yang lebih luas untuk tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakat.

Pituruh News
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
Kunjungi Google News
Berita Terbaru
Memuat berita terbaru...

Ikuti Pituruh News

Temukan informasi terbaru Pituruh News di media sosial

◎
Instagram
@pituruhnews
19K+ Followers
Ikuti Instagram
Data terpantau terbaru
f
Facebook
Pituruh News
25,4K+ Likes
Kunjungi Facebook
Data likes halaman
♪
TikTok
@pituruhnews
Follow Media Sosial
Ikuti TikTok
Cek jumlah follower di TikTok
▶
YouTube
Pituruh News
Subscribe Channel YouTube
Subscribe YouTube
Cek jumlah subscriber terbaru

PITURUH NEWS

AKURAT, BERMARTABAT dan BERMANFAAT
Portal berita lokal yang menyajikan informasi terbaru, aktual dan terpercaya seputar Pituruh, Purworejo dan sekitarnya.
EST. 8 MARET 2017
Pituruh News
Aplikasi Pituruh News
Download aplikasi resmi Pituruh News untuk mendapatkan berita terbaru Purworejo dan sekitarnya dengan lebih mudah langsung dari perangkat Android Anda.
📲 DOWNLOAD APLIKASI
Aplikasi Android • Pituruh News
Ikuti Pituruh News
Pituruh News • Portal Berita Lokal Purworejo
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
×
Berita Terbaru Update