Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Image Image

Manfaatkan Air Sungai Bogowonto, BUMDes Cipta Mandiri Guyangan Jaga 30 Hektare Sawah Tetap Produktif Saat Kemarau

Rabu, 07 Oktober 2026 | 18:02 WIB Last Updated 2026-10-07T11:02:55Z

Manfaatkan Air Sungai Bogowonto, BUMDes Cipta Mandiri Guyangan Jaga 30 Hektare Sawah Tetap Produktif Saat Kemarau
PURWODADI – Musim kemarau bukan alasan bagi petani di Desa Guyangan, Kecamatan Purwodadi, Kabupaten Purworejo, untuk berhenti bercocok tanam. Melalui inovasi pengelolaan air oleh Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Cipta Mandiri, sekitar 30 hektare lahan persawahan tetap dapat ditanami padi meski pasokan air hujan sangat terbatas.


Upaya tersebut dilakukan dengan memanfaatkan aliran Sungai Bogowonto sebagai sumber air untuk mengairi lahan pertanian warga. BUMDes membangun sistem pengairan menggunakan pompa dan jaringan pipa yang menghubungkan titik pengambilan air di sungai dengan area persawahan.


Direktur BUMDes Cipta Mandiri Guyangan, Djamaludin Ahmad, mengatakan program tersebut mulai dijalankan pada 2025 setelah Pemerintah Desa Guyangan memberikan penyertaan modal sekitar Rp131,37 juta melalui dana desa.


Menurutnya, karakteristik Desa Guyangan yang mayoritas masyarakatnya bergerak di sektor pertanian menjadi pertimbangan utama BUMDes dalam menentukan program ketahanan pangan.


“Logikanya sederhana, kalau kita ingin menanam padi, tentu membutuhkan air. Karena itu dana penyertaan kami fokuskan untuk pengairan,” kata Djamaludin, Rabu (7/10/2026).


Untuk mendukung program tersebut, BUMDes membeli dua unit pompa atau sibel berukuran enam inci beserta jaringan pipa. Total investasi untuk pengadaan pompa dan pemasangan jaringan pengairan mencapai sekitar Rp57 juta.


Jaringan pipa tersebut memiliki panjang sekitar 300 meter, mulai dari titik pengambilan air di Sungai Bogowonto hingga area persawahan. Pemasangannya disesuaikan dengan kondisi medan agar air dapat dialirkan secara optimal ke lahan pertanian.


Tidak hanya menyediakan pengairan, BUMDes Cipta Mandiri juga mengambil peran dalam tahapan awal budidaya padi. Mulai dari penyediaan bibit, pengolahan lahan hingga proses penanaman dikelola oleh BUMDes.


Setelah tanaman padi selesai ditanam, lahan kemudian diserahkan kepada petani untuk dirawat hingga masa panen.


“Dari pembibitan sampai penanaman padi kita kelola oleh BUMDes. Setelah ditanam, baru kita serahkan kepada warga dengan konsekuensi warga mengganti biaya yang sudah dikeluarkan,” jelasnya.


Pada 2026, biaya yang disepakati untuk proses tersebut sebesar Rp750 ribu per iring untuk lahan biasa dan Rp850 ribu per iring untuk lahan bekas penggunaan kombain.


Djamaludin menegaskan, pengelolaan tersebut tidak semata-mata ditujukan untuk mengejar keuntungan BUMDes. Orientasi utamanya adalah memastikan masyarakat tetap dapat menggarap sawah dan memperoleh penghasilan meski memasuki musim kemarau.


Khusus pengairan pada musim tanam ketiga (MT3), BUMDes tetap menanggung biaya operasional hingga masa panen. Petani kemudian memberikan kontribusi sekitar Rp500 ribu per iring untuk biaya pengairan. Besaran tersebut dapat dievaluasi berdasarkan penggunaan token listrik.


“Target BUMDes bukan mencari keuntungan. Yang kami utamakan bagaimana masyarakat tetap bisa menanam dan bekerja pada musim kemarau,” ujarnya.


Saat ini, program pengairan tersebut telah mencakup sekitar 30 hektare lahan dengan melibatkan sekitar 132 pemilik lahan. Cakupannya masih berpotensi diperluas karena total lahan pertanian di Desa Guyangan mencapai sekitar 52 hektare.


Menurut Djamaludin, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada pengelolaan BUMDes. Partisipasi masyarakat menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan sistem pengairan.


Ketika terjadi saluran tersumbat, pipa mengalami kerusakan, maupun gangguan lainnya, petani dan warga turut bergotong royong melakukan perbaikan.


Tahun ini, tantangan yang dihadapi petani cukup berat. Selain kondisi cuaca yang ekstrem, sejumlah tanaman juga sempat terserang hama seperti tikus, belalang dan sundep.


BUMDes kemudian berkoordinasi dengan sejumlah warga yang memiliki pengalaman di bidang pertanian untuk mencari langkah pengendalian hama.


“Alhamdulillah, hama bisa teratasi meskipun tidak seratus persen,” katanya.


Ke depan, BUMDes Cipta Mandiri juga membuka peluang untuk mengembangkan program hingga tahap pascapanen. Salah satunya dengan mengintegrasikan pengelolaan hasil pertanian bersama Koperasi Desa Merah Putih.


Dengan demikian, pengelolaan tidak berhenti pada produksi padi, tetapi juga dapat mencakup pengelolaan dan pemasaran hasil panen.


Sementara itu, Kepala Desa Guyangan, Sidiq Hardjono, mengatakan Pemerintah Desa Guyangan memberikan dukungan penuh terhadap pengembangan program tersebut.


Menurutnya, keberadaan sistem pengairan yang dibangun BUMDes memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Lahan yang sebelumnya berpotensi tidak produktif selama musim kemarau kini tetap dapat dimanfaatkan untuk bercocok tanam.


“Alhamdulillah, tanah sawah yang semestinya nganggur dan kering bisa dimanfaatkan. Masyarakat bisa bekerja dan mendapatkan panenan,” ujar Sidiq.


Ia mengatakan penyertaan modal yang diberikan pada 2025 menjadi pengalaman bagi BUMDes untuk terus mengembangkan program pada 2026, meskipun pelaksanaannya masih menghadapi tantangan cuaca ekstrem.


Shidiq berharap cakupan layanan pengairan dapat terus diperluas hingga mendekati seluruh lahan pertanian di Desa Guyangan.


Untuk mencapai target tersebut, diperlukan pengembangan infrastruktur, khususnya penambahan jaringan pipa dan sarana pengairan.


“Kalau sekarang sekitar 30 hektare, harapan saya ke depan bisa mendekati 50 hektare. Kalau infrastrukturnya bisa ditambah, pelayanan kepada masyarakat juga bisa diperluas,” katanya.


Program yang dijalankan BUMDes Cipta Mandiri Guyangan menjadi salah satu contoh bahwa ketahanan pangan dapat dibangun melalui pemanfaatan potensi lokal. Dengan memanfaatkan air Sungai Bogowonto, didukung pengelolaan BUMDes dan gotong royong masyarakat, lahan pertanian yang sebelumnya rawan kekeringan tetap mampu berproduksi.


Bagi warga Guyangan, keberadaan sistem tersebut bukan sekadar persoalan pengairan, tetapi juga menjadi upaya menjaga roda ekonomi masyarakat agar tetap berjalan di tengah musim kemarau.

Pituruh News
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
Kunjungi Google News
Berita Terbaru
Memuat berita terbaru...

Ikuti Pituruh News

Temukan informasi terbaru Pituruh News di media sosial

◎
Instagram
@pituruhnews
19K+ Followers
Ikuti Instagram
Data terpantau terbaru
f
Facebook
Pituruh News
25,4K+ Likes
Kunjungi Facebook
Data likes halaman
♪
TikTok
@pituruhnews
Follow Media Sosial
Ikuti TikTok
Cek jumlah follower di TikTok
▶
YouTube
Pituruh News
Subscribe Channel YouTube
Subscribe YouTube
Cek jumlah subscriber terbaru

PITURUH NEWS

AKURAT, BERMARTABAT dan BERMANFAAT
Portal berita lokal yang menyajikan informasi terbaru, aktual dan terpercaya seputar Pituruh, Purworejo dan sekitarnya.
EST. 8 MARET 2017
Pituruh News
Aplikasi Pituruh News
Download aplikasi resmi Pituruh News untuk mendapatkan berita terbaru Purworejo dan sekitarnya dengan lebih mudah langsung dari perangkat Android Anda.
📲 DOWNLOAD APLIKASI
Aplikasi Android • Pituruh News
Ikuti Pituruh News
Pituruh News • Portal Berita Lokal Purworejo
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
×
Berita Terbaru Update