Notification

×

Iklan


Pemuda Kreatif asal Prapagkidul, Membuat Layang-Layang Dikreasi Dengan Lampu Flip-Flop

Wednesday, 1 August 2018 | 11:32 WIB Last Updated 2018-08-01T04:32:17Z




 Slamet Nugroho, saat membuat layang-layang (Luthfi)

PRAPAGKIDUL, (pituruhnews.com) Seorang pemuda kreatif warga Desa Prapagkidul, Kecamatan Pituruh bernama Slamet Nugroho (19) disetiap musim panen padi ke dua menjelang masa tanam kedelai, mulai sibuk dengan aktifitas barunya yaitu dengan membuat layang-layang.

Layang-layang merupakan sebuah lembaran berbahan tipis dan berkerangka dari bambu. Layang-layang diterbangkan ke udara dihubungkan dengan tali yang dipegang oleh pengendali. Layang-layang memanfaatkan kekuatan hembusan angin untuk menerbangkannya.

Saat musim panen padi selesai, Slamet mulai dibanjiri pesanan layang-layang. Pemesan yang sudah rutin setiap musimnya bervariasi, mulai dari anak-anak, remaja hingga orang dewasa yang ingin menerbangkan layang-layang.

 

Slamet menjelaskan bahwa ia bisa membuat layang-layang sejak kelas IV SD.  Keahlian Slamet membuat layang layang didapatnya secara otodidak.


Layang-layang yang dibuat Slamet, biasanya menyesuaikan dengan permintaan dari orang memesan dan dijual mulai dari harga 30.000 sampai 200.000. Harga tersebut menyesuaikan dengan ukuran, bahan baku yang digunakan serta variasinya. Variasi yang ia tambahkan seperti menggunakan lampu flip-flop dengan dinamo angin ataupun dengan batrai biasa. Dalam satu musim, Slamet bisa mendapatkan 100 pesanan layang-layang dengan omset kurang lebih 1 juta rupiah, Jelasnya.


Sementara itu,  salah seorang pembeli layang-layang yang berasal dari Kebumen , Yulian (24) menyatakan bahwa layang-layang yang dibuat Slamet mempunyai kulitas yang bagus dan harga terjangkau di kalangan anak sekolah ataupun pecinta layang-layang.

"Dan bahan yang digunakan juga bukanlah kertas, tetapi plastik yang membuat layang-layang tersebut awet, sehingga dapat diterbang walaupun terkena kabut, dan juga selain itu ada lampu flip-flop jika diterbangkan sampai malam bisa terlihat indah" imbuhnya.

Kreatifitas Slamet perlu mendapat apresiasi karena ikut melestarikan permainan sekaligus kearifan lokal dimana pada saat ini tidak terlalu digandrungi masyarakat khususnya anak-anak yang cenderung lebih memilih bermain smartphone. imbuhnya (njb-ltf)

Iklan

×
Berita Terbaru Update