Notification

×

Iklan

Kisah Pemuda Nasionalisme dari Loning Kemiri Rutin Upacara, Kumpulkan Uang Pasang Ratusan Bendera

Tuesday, 23 November 2021 | 07:34 WIB Last Updated 2021-11-23T00:36:06Z

KEMIRI, (pituruhnews.com) - Ahmat Adi Pangestu, 21, warga Desa Loning RT 06 RW 01, Kecamatan Kemiri menunjukkan koleksi bendera dan foto-foto lambang negara dan pahlawan, kemarin.


Siapa saja boleh menyangsikan nasionalisme dan patriotisme seseorang. Namun hal itu akan sulit ditemukan dari sosok Ahmat Adi Pangestu, 21, warga Desa Loning RT 06 RW 01, Kecamatan Kemiri. Semangat NKRI seolah terus menyala dalam jiwanya, tidak lagi tersimak sebagai prinsip tapi nurani.


Adi  Sapaan akrab Ahmat Adi Pangestu begitu khusyuk bersekutu dengan waktu. Sebagian orang mungkin melihatnya sebagai pribadi yang tengah berupaya sekuat tenaga melipat kegetiran dalam pikiran, meskipun banyak pula yang memahaminya sebagai pribadi yang  begitu cinta terhadap tanah air tanpa syarat.


Lunturnya nasionalisme, tanggalnya patriotisme menjadi semacam hantu di tengah globalisasi dewasa ini. Hal itu pula yang menjadi alasan baginya untuk menyisihkan uang sedikit demi sedikit untuk membeli ratusan bendera, atribut negara itu dipasang hampir di setiap ruas jalan dan sudut desa tanah kelahirannya.


Ia begitu nampak keras menunjukkan suatu nilai bersama, nilai yang sebetulnya diakui berada dalam diri setiap orang. Orang-orang terdekatnya bahkan nyaris khawatir, apa yang dilakukannya dipandang aneh oleh orang yang tak mampu menangkap makna tersirat. Namun sekali lagi, keraguan itu tidak pernah melunturkan semangat Adi untuk tidak melupakan sejarah, menjunjung tinggi-tinggi jasa para pahlawan. "Semampunya, Ya! semampu saya," ucapnya.


Kecintaannya terhadap Indonesia semakin hari semakin menjadi. Sempat bekerja di luar negeri, uang dikumpulkan untuk dibelikan bendera. Rumah semi permanen berdinding bambu itu menjadi saksi bisu, kesederhanaan dan kecintaan lelaki 22 tahun ini terhadap NKRI. Sehari-hari ia kini berjualan sayur keliling. Sebagian uang masih disisihkan untuk membeli bendera Merah Putih, mengganti bendera-bendera lama terpasang dan sudah usang.


"Saya juga beli foto presiden dan wakil presiden berikut lambang Garuda Pancasila, saya punya koleksi foto presiden pertama sampai sekarang. Foto-foto itu saya kasihkan ke tetangga cuma-cuma untuk dipasang, selebihnya saya pasang sendiri di gardu-gardu ronda," katanya.


Aksinya pun sempat tertangkap kamera, bahkan viral di media sosial. Banyak orang dibuat penasaran. Hal itu membuat orang tuanya kadang was-was apa yang dilakukan sang putra berlebihan. Namun lagi-lagi itu tidak menyurutkan niat Adi menebalkan rasa nasionalisme dan patriotisme generasi saat ini.


"Saya tetap menganggap apa yang saya lakukan baik dan tidak mengganggu siapapun. Boleh dikatakan apa yang saya lakukan ini sebatas menghargai sejarah, berbuat untuk generasi masa depan, agar mereka tidak kehilangan rasa nasionalisme dan tidak kehilangan jejak sejarah bangsanya," tegasnya.

Adi bahkan memuji Presiden RI Joko Widodo (Jokowi) yang kerap membagikan hadiah sepeda kepada anak-anak SD yang mampu menghafal Pancasila. "Teruslah begitu pak Jokowi, saya yakni Indonesia akan tetap kokoh dan maju. Nasionalisme dan patriotisme menjadi kunci, harus tetap dijaga ditanam kuat di jiwa generasi bangsa," ujarnya.


Ditambahkan, setiap HUT RI ia kerap keliling Kemiri bahkan Purworejo, hatinya kadang dibuat gelisah ketika menemukan rumah tidak terpasang bendera Merah Putih. Berawal menghargai, dari situ semua serentak mengayomi bangsa ini, agar bangsa ini maju jaya dan berprestasi. "Kita ini (Indonesia) sudah dikenal di dimata dunia dengan ragam budayanya, kekayaan alam dan keragaman yang melingkupinya, kita harus bangga dan menghargai itu, isi kemerdekaan dan kenang jasa para pejuang," ujarnya.


Ibunda Adi, Srimujiati lebih mengungkapkan, ia mengaku bangga namun kadang juga gusar dengan gelagat anaknya. Menurutnya, anaknya selama ini tetap tekun bekerja, rajin berjualan sayur keliling bahkan mau melayani pembeli di warung kecil yang ada di depan rumah. Ia berharap dan berdoa, semoga anaknya selalu diberi kesehatan, keselamatan dan baik-baik saja.


"Saya kadang takut, karena mungkin seribu satu yang mau seperti anak saya, takut kalau ada orang melihatnya negatif, meskipun banyak juga yang mengapresiasi dan menilai positif. Tetapi ya itu tadi, saya juga sering bertanya, apakah ada di luar sana yang seperti anak saya," ungkapnya.


Mahasiswa STAINU, Dinal Izzah mengaku beruntung kelompoknya ditempatkan di Desa Loning Kemiri. Ia merasa beruntung dan bangga, karena ternyata ada pribadi di desa Loning yang memiliki jiwa nasionalisme dan patriotisme luar biasa. "Secara pribadi saya salut, karena ia bekerja mengumpulkan uang untuk membeli atribut seperti bendera merah putih dan lambang garuda pancasila, beliau memiliki pengetahuan sejarah yang luas," ucapnya.


Menurutnya, dewasa ini mungkin apa yang dilakukan Adi sekilas tidak biasa, namun ia mengaku justru salut, bahkan ingin bisa sepertinya, begitu cinta tanah air dan memiliki semangat nasionalisme luar biasa. "Semoga semangat beliau bisa menular kepada kami, kami juga ingin mengikuti jejak perjuangan mas Adi, meskipun mungkin tidak  bisa total seperti beliau," ujarnya.(PN/tm)

Iklan

×
Berita Terbaru Update