![]() |
| pelepasan ratusan lampion pada malam pergantian tahun, Rabu (31/12/2025). |
PURWOREJO – Berbeda dari perayaan tahun baru pada umumnya yang identik dengan dentuman petasan dan kembang api, Central Bibit Rejowinangun menghadirkan suasana teduh dan penuh makna melalui pelepasan ratusan lampion pada malam pergantian tahun, Rabu (31/12/2025). Lampion-lampion tersebut diterbangkan ke langit Rejowinangun sebagai simbol doa, harapan, dan kepedulian sosial.
Pelepasan lampion ini menjadi pilihan utama seiring adanya imbauan pemerintah daerah untuk tidak menyalakan kembang api maupun petasan, sebagai bentuk empati atas bencana yang melanda wilayah Sumatra. Tanpa hingar-bingar suara ledakan, cahaya lampion yang melayang perlahan justru menciptakan suasana khidmat dan reflektif bagi ratusan jamaah yang hadir.
Kegiatan tersebut dirangkai dengan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 1447 H serta doa bersama menyambut tahun 2026. Lantunan sholawat menggema mengiringi langit malam yang dihiasi cahaya lampion, menghadirkan nuansa religius yang jarang ditemui dalam perayaan pergantian tahun.
Acara ini dihadiri sejumlah tokoh agama, di antaranya KH Ahmad Abdul Haq Asaubary, Gus Alif Mundzir, Gus Syukron Abdul Bashir, dan Ustad Rifai, serta jajaran Pemerintah Desa Rejowinangun dan tokoh masyarakat. Iringan sholawat dari Grup Hadroh Asshofa Kecamatan Butuh semakin menguatkan atmosfer spiritual di lokasi acara.
Kepala Desa Rejowinangun, Hari Santosa, mengapresiasi inisiatif Central Bibit yang memilih lampion sebagai alternatif perayaan tahun baru.
“Di saat kembang api tidak diperbolehkan, lampion menjadi pilihan yang indah dan bermakna. Ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga doa dan kepedulian,” ujarnya.
Pelepasan lampion menjadi puncak acara yang paling dinanti. Ratusan jamaah serentak menatap ke langit saat lampion dilepaskan, membawa harapan agar tahun 2026 dipenuhi keberkahan, keselamatan, dan kedamaian bagi seluruh masyarakat, khususnya bangsa Indonesia.
Melalui perayaan sederhana namun sarat makna ini, Central Bibit Rejowinangun menunjukkan bahwa pergantian tahun dapat dirayakan tanpa kembang api, tetap meriah, sekaligus menumbuhkan kesadaran spiritual dan sosial di tengah masyarakat.
Kontributor: Luthfi
Editor: TIM PN
