PURWOREJO – Sebuah warung sederhana berdiri di sudut Desa Tridadi, Kecamatan Loano, Kabupaten Purworejo. Dari luar, warung itu tampak seperti toko kelontong pada umumnya. Rak-rak kayu berisi beras, minyak goreng, gula, tepung, hingga perlengkapan sekolah tersusun rapi.
Mengabdi Lewat Kepedulian, Yan Budi Nugroho Buka Warung Gratis bagi Anak Yatim
Namun ada satu hal yang membuat warung tersebut berbeda. Tidak ada kasir, tidak ada label harga, dan tidak ada transaksi jual beli.
Warung itu dibuka khusus untuk anak-anak yatim yang selama ini didampingi oleh Yan Budi Nugroho. Mereka yang membutuhkan beras, minyak goreng, atau perlengkapan sekolah cukup datang dan mengambilnya tanpa harus membayar sepeser pun.
Bagi Yan, warung sembako gratis bukan sekadar tempat menyalurkan bantuan. Lebih dari itu, warung tersebut menjadi jembatan kepedulian yang menghubungkan para donatur dengan anak-anak yatim yang membutuhkan uluran tangan.
“Ini sebenarnya kegiatan rutin tahunan Lebaran Anak Yatim yang tahun ini memasuki penyelenggaraan ke delapan. Saya memiliki konsep membuka warung sembako gratis untuk anak-anak yatim,” ujar Yan saat ditemui di sela kegiatan, Kamis (25/6/2026).
Berawal dari Kunjungan ke Bali
Perjalanan sosial Yan tidak dimulai begitu saja. Inspirasi itu berawal dari kunjungannya ke Ashram Gandhi Puri Sevagram di Klungkung, Bali, pada tahun 2018.
Di tempat tersebut, Yan melihat sebuah program pengembangan karakter generasi muda bernama Shantisena. Program itu memberikan pendampingan pendidikan kepada anak-anak hingga perguruan tinggi tanpa dipungut biaya.
“Dari situ muncul keinginan untuk memiliki kegiatan sosial yang bisa memberikan manfaat nyata. Akhirnya saya mulai membina anak-anak yatim,” kenangnya.
Komunikasi dengan pengelola ashram hingga kini masih terjalin baik. Bahkan, semangat yang ia lihat di Bali menjadi salah satu alasan lahirnya warung sembako gratis yang kini ia rintis di Purworejo.
“Saya berharap suatu saat anak-anak yatim yang saya dampingi juga bisa memperoleh pendidikan yang baik, memiliki masa depan cerah, dan bekerja sesuai profesinya,” katanya.
![]() |
| Yan Budi Nugroho saat bersama anak yatim dampingannya |
Delapan Tahun Mendampingi Anak Yatim
Sejak 2018, Yan aktif mendampingi puluhan anak yatim yang tersebar di berbagai desa. Setiap bulan, ia menyempatkan diri mengunjungi mereka di sela-sela kesibukannya sebagai Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) di lingkungan Sekretariat Daerah.
Tak jarang, ia harus berangkat sejak dini hari untuk mengantarkan bantuan sebelum memulai aktivitas kerja.
“Kadang saat subuh saya sudah berangkat. Ada yang rumahnya dekat, ada juga yang hampir sembilan kilometer dari rumah saya,” tuturnya.
Saat ini terdapat sekitar 30 anak yatim dalam pendampingannya. Sebanyak 22 anak menjadi prioritas penerima bantuan rutin, sementara delapan anak lainnya tetap diupayakan mendapatkan dukungan sesuai kemampuan dan ketersediaan donasi.
Anak-anak tersebut berasal dari berbagai usia, mulai dari balita hingga remaja yang tengah bersiap melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Seiring bertambahnya jumlah anak binaan dan keterbatasan waktu, Yan merasa perlu menghadirkan sistem bantuan yang lebih efektif sekaligus mempererat hubungan emosional dengan mereka.
“Kalau saya harus mengunjungi satu per satu setiap bulan, waktunya sangat terbatas. Dengan warung ini, mereka bisa datang langsung, mengenal keluarga saya, dan mengambil kebutuhan yang diperlukan kapan saja,” ujarnya.
Dukungan Sang Ibu
Di balik konsistensi Yan selama delapan tahun terakhir, terdapat sosok yang selalu mendukung langkahnya, yakni sang ibu, Dewi Aminasih.
Perempuan yang berprofesi sebagai guru taman kanak-kanak dan akan memasuki masa pensiun itu mengaku bangga dengan kegiatan sosial yang dijalankan putranya.
“Saya sangat mendukung. Kalau harus mengantar bantuan pagi-pagi, saya yang membangunkannya. Kadang jam empat pagi sudah siap berangkat,” kata Dewi.
Menurutnya, kebutuhan anak-anak yatim tidak hanya sebatas makanan. Pendidikan menjadi kebutuhan yang sama pentingnya untuk diperjuangkan.
Karena itu, selain menyediakan sembako, keluarga mereka juga berupaya membantu kebutuhan sekolah seperti sepatu, seragam, alat tulis, hingga perlengkapan pendidikan lainnya.
Salah satu anak yang masih diingat Dewi adalah Wahyu, yang telah didampingi sejak duduk di bangku kelas satu sekolah dasar dan kini telah melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP.
Warung yang Menyimpan Harapan
Beras dan minyak goreng menjadi stok utama yang selalu diupayakan tersedia di warung gratis tersebut. Ke depan, Yan berharap perlengkapan sekolah dan kebutuhan pendidikan lainnya dapat terus ditambah melalui dukungan para donatur.
Baginya, tujuan utama dari seluruh kegiatan ini sederhana, yakni memastikan anak-anak yatim tetap dapat mengenyam pendidikan dan memiliki masa depan yang lebih baik.
“Harapan saya sederhana. Saya ingin bermanfaat dan memberikan dampak positif bagi lingkungan sekitar. Saya juga berharap warung ini bisa menggugah lebih banyak orang untuk peduli terhadap anak yatim,” ungkapnya.
Warung tersebut tidak menerapkan syarat apa pun bagi anak-anak yatim yang telah menjadi binaannya.
“Kalau butuh beras, ambil beras. Kalau butuh minyak, ambil minyak. Tidak ada transaksi apa pun. Saat pembukaan kemarin, saya juga menyerahkan bantuan pendidikan kepada sebagian anak dampingan,” jelasnya.
Meski demikian, Yan mengakui masih ada kekhawatiran mengenai keberlangsungan program tersebut. Sebab, seluruh kegiatan sangat bergantung pada dukungan para donatur dan kemampuan yang dimiliki.
“Sebenarnya kami masih menyimpan ketakutan karena ini baru awal. Apakah nanti bisa terus berlanjut atau tidak. Tetapi bagaimanapun juga akan saya usahakan demi mereka,” katanya.
Di tengah situasi ekonomi yang belum sepenuhnya mudah bagi banyak keluarga, sebuah warung kecil di Desa Tridadi kini menjadi simbol kepedulian. Bukan karena besar bangunannya, melainkan karena harapan yang tersimpan di dalamnya—harapan agar anak-anak yatim tetap memiliki kesempatan untuk tumbuh, belajar, dan meraih masa depan yang lebih baik.
