Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Image

Malam Tirakatan HUT RI ke-81 di Rebug Semakin Khidmat, Terbang Jowo dan Syiiran Jawa Hidupkan Tradisi Warga

Minggu, 16 Agustus 2026 | 21:40 WIB Last Updated 2026-08-16T14:43:25Z

Malam Tirakatan HUT RI ke-81 di Rebug Semakin Khidmat, Terbang Jowo dan Syiiran Jawa Hidupkan Tradisi Warga
PURWOREJO — Suasana malam tirakatan peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia di Desa Rebug, Kecamatan Kemiri, Kabupaten Purworejo, Minggu (16/8/2026) malam, berlangsung penuh kekhidmatan sekaligus kental dengan nuansa budaya Jawa.


Ada yang berbeda dari malam tirakatan tahun ini. Di tengah berkumpulnya warga untuk memperingati hari kemerdekaan, kesenian tradisional Terbang Jowo atau Kempling turut dimainkan di Balai Desa Rebug.


Tabuhan alat musik tradisional berpadu dengan lantunan syiiran Jawa dan tembang bernuansa religi. Suasana semakin terasa khas ketika syair-syair Jawa dilantunkan secara bersama-sama, menciptakan nuansa guyub sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun.


Kesenian Terbang Jowo bukan sekadar hiburan. Di dalamnya terdapat syiiran dan tembang yang mengandung pesan moral, tuntunan kehidupan, serta nilai-nilai kebersamaan. Melalui lantunan tersebut, masyarakat tidak hanya menikmati kesenian, tetapi juga kembali mengingat pesan-pesan kebaikan yang terkandung di dalamnya.


Malam tirakatan pun terasa semakin hidup. Warga yang hadir dapat menikmati kesenian tradisional sambil bersilaturahmi dan mengenang jasa para pahlawan yang telah memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.


Salah satu warga, Fajar Alwani, mengatakan malam tirakatan merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan masyarakat setiap tahun menjelang 17 Agustus.


“Setiap malam 17 Agustus, kami memperingati HUT RI setiap tahunnya. Suasana kami tetap selalu menampilkan Terbang Jowo atau Kempling,” kata Fajar.


Ia menjelaskan, dalam kesenian tersebut tidak hanya memainkan alat musik tradisional. Para pemain juga melantunkan berbagai syiiran Jawa dan tembang lainnya yang telah dikenal di tengah masyarakat.


“Dalam Terbang Jowo ini juga dilantunkan syiiran-syiiran Jawa dan lainnya. Jadi bukan hanya sekadar musik, tetapi ada pesan dan nilai yang ingin disampaikan melalui syair-syair tersebut,” ujarnya.


Menurut Fajar, keberadaan Terbang Jowo menjadi salah satu bentuk upaya masyarakat Desa Rebug dalam mempertahankan kesenian tradisional di tengah perkembangan zaman.


“Sekarang anak-anak muda banyak mengenal hiburan modern. Karena itu, kesenian seperti Terbang Jowo ini perlu terus dikenalkan dan dimainkan agar generasi berikutnya masih mengetahui budaya yang dimiliki masyarakat kita,” tandasnya.


Ia berharap kegiatan seperti ini dapat terus dilaksanakan setiap tahun, khususnya dalam momentum peringatan HUT Kemerdekaan RI.


“Harapannya bukan hanya ramai saat 17 Agustus saja, tetapi kesenian ini bisa terus hidup. Anak-anak muda juga diharapkan ikut belajar sehingga ada generasi penerus yang melanjutkan,” tambahnya.


Menurutnya, malam tirakatan menjadi momentum yang tepat untuk mempertemukan berbagai unsur masyarakat. Warga dapat berkumpul, bersilaturahmi, mengenang perjuangan para pahlawan sekaligus menikmati kesenian yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Jawa.


Kehadiran Terbang Jowo dan syiiran Jawa juga memberikan warna tersendiri dalam peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Di tengah suasana malam yang tenang, lantunan syair Jawa berpadu dengan tabuhan alat musik tradisional, menghadirkan suasana sederhana namun sarat makna.


Bagi warga Desa Rebug, menjaga budaya tidak harus selalu dilakukan melalui acara besar. Melestarikan kesenian bisa dimulai dari lingkungan desa, dari kegiatan masyarakat, bahkan dari sebuah malam tirakatan.


Dari Balai Desa Rebug, semangat kemerdekaan malam itu tidak hanya diwujudkan melalui doa dan penghormatan kepada para pahlawan. Semangat tersebut juga hadir melalui suara Terbang Jowo, syiiran Jawa, serta kebersamaan warga yang masih menjaga tradisi leluhur.


“Semoga tradisi, kesenian, dan kebersamaan seperti ini tetap terjaga. Kita bisa memperingati kemerdekaan sekaligus nguri-uri budaya Jawa yang sudah diwariskan para pendahulu,” pungkas Fajar.

×
Berita Terbaru Update