Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Image

Sholawat Jawa Soyar Maole Meriahkan Malam Tirakatan HUT ke-81 RI di Masjid Rajak Al Iman

Senin, 17 Agustus 2026 | 19:38 WIB Last Updated 2026-08-17T12:38:57Z

Sholawat Jawa Soyar Maole Meriahkan Malam Tirakatan HUT ke-81 RI di Masjid Rajak Al Iman
PURWOREJO — Malam tirakatan menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia berlangsung khidmat di Masjid Rajak Al Iman, Dusun Jetis, Desa Kaligono, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Minggu (16/8/2026) malam.


Kegiatan yang dimulai bakda Isya sekitar pukul 19.45 WIB hingga selesai tersebut diisi dengan lantunan Sholawat Jawa Soyar Maole, tradisi keislaman khas masyarakat Kaligono yang telah diwariskan lintas generasi.


Sekitar 70 jamaah dan masyarakat mengikuti kegiatan yang terbuka untuk umum tersebut. Selain menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, malam tirakatan juga menjadi momentum puja donga atau doa bersama untuk Indonesia, sekaligus mendoakan para pahlawan, pejuang kemerdekaan, dan para pendahulu bangsa.


Bagi masyarakat Kaligono, Soyar Maole bukan sekadar kesenian tradisional. Tradisi tersebut telah menjadi bagian dari identitas keislaman masyarakat setempat dan diwariskan setidaknya melalui empat generasi.


Soyar Maole merupakan bentuk sholawat Jawa yang bersumber dari syair-syair dalam Maulid Al-Barzanji dan Dziba’iyyah. Keunikannya terletak pada cara pelantunan syair berbahasa Arab yang disesuaikan dengan logat dan pengucapan Jawa. Dalam penyajiannya, lantunan tersebut diiringi rebana Jawa yang menghasilkan karakter musikal khas masyarakat setempat.


Selain sholawat dan dzikir, syair-syair Soyar Maole juga berkembang dengan memuat pitutur luhur, nasihat keagamaan, serta pesan kehidupan yang dekat dengan keseharian masyarakat Jawa. Tradisi tersebut menjadi salah satu bentuk perjumpaan antara ajaran Islam dan kebudayaan Jawa yang berkembang di kawasan Bukit Menoreh.


Warisan Empat Generasi


Ketua Takmir Masjid Rajak Al Iman, Mulyono, mengatakan Soyar Maole merupakan kegiatan yang rutin dilaksanakan masyarakat. Menurutnya, Masjid Rajak Al Iman tidak hanya dikembangkan sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai ruang untuk mewadahi kebudayaan Islam yang hidup di kawasan Menoreh Barat, khususnya Kaligesing.


“Soyar Maole ini adalah identitas keislaman di daerah sini. Kami hadir untuk terus melestarikannya,” ujar Mulyono.


Ia mengatakan, tradisi Soyar Maole di Kaligono telah berlangsung dalam waktu yang panjang dan diwariskan setidaknya melalui empat generasi. Karena usia tradisi tersebut yang cukup tua, masyarakat setempat belum mengetahui secara pasti kapan pertama kali Soyar Maole mulai dilaksanakan di Kaligono.


Sejumlah catatan sejarah menyebutkan bahwa Soyar Maole telah berkembang di Kaligono setidaknya sejak dekade 1950-an. Salah satu tokoh yang berperan dalam perkembangan tradisi tersebut adalah Simbah Rajak Pawirosastro, yang belajar kepada Simbah Towono bin Wiro Kromo dari kawasan Sebolong, Jatimulyo, Girimulyo, Kulon Progo.


Tradisi tersebut kemudian berkembang di Kaligono dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Catatan mengenai Soyar Maole juga menyebut adanya tulodho atau panduan syair yang ditulis kembali oleh Simbah Rajak Pawirosastro sekitar dekade 1970-an.


Syair-syair tersebut bersumber dari tradisi pembacaan Al-Barzanji yang kemudian mengalami proses jawanisasi, baik dalam pelafalan maupun penyampaiannya.


Masjid Menjadi Ruang Kebudayaan Islam


Mulyono menambahkan, Masjid Rajak Al Iman tengah mempersiapkan rencana pemugaran bangunan inti masjid yang dijadwalkan pada Selasa (25/8/2026), bertepatan dengan 12 Rabiulawal.


Dalam rencana pemugaran tersebut, pengurus masjid juga mengembangkan gagasan arsitektur yang mengangkat konsep Jawa klasik. Konsep tersebut diharapkan dapat menjadikan masjid sebagai simbol kebudayaan Islam yang tetap berakar pada tradisi, sekaligus mampu berkembang mengikuti zaman.


“Konsep bangunan yang kami kembangkan adalah Jawa klasik agar masjid ini juga menjadi simbol kebudayaan Islam yang terus mengakar namun juga berkembang dinamis. Karena itu, kami juga terus melakukan konservasi dan pelestarian Soyar Maole,” jelas Mulyono.


Menurutnya, pelestarian Soyar Maole tidak hanya bertujuan menjaga kesenian tradisional, tetapi juga mempertahankan memori, identitas, dan ekspresi keberislaman masyarakat Kaligono.


Wadah Silaturahmi dan Nasionalisme


Tokoh masyarakat setempat, Purwoto, mengapresiasi pelaksanaan malam tirakatan tersebut. Menurutnya, kegiatan tersebut memiliki makna yang berlapis karena mempertemukan unsur keagamaan, kebudayaan, nasionalisme, dan kehidupan sosial masyarakat.


Selain menjadi wadah silaturahmi dan doa bersama untuk para pahlawan serta pejuang bangsa, kegiatan tersebut juga dinilai mampu memupuk rasa nasionalisme masyarakat.


Menurut Purwoto, forum seperti malam tirakatan juga memberikan ruang bagi berbagai generasi untuk bertemu, bertukar inspirasi, dan memperkuat kebersamaan.


Dikaji dari Berbagai Perspektif


Sementara itu, Direktur Eksekutif Pawirosastro Foundation, Eka Puspasari, mengatakan pihaknya tengah melakukan kajian terhadap Soyar Maole, khususnya dari perspektif sejarah, sastra Jawa, sosio-linguistik, dan etnomusikologi.


Menurut Eka, Soyar Maole menarik untuk dikaji karena tidak hanya berisi lantunan sholawat dan dzikir, tetapi juga mengandung berbagai pesan moral serta nasihat luhur mengenai kehidupan.


“Soyar Maole tidak hanya berisi sholawat dan dzikir, melainkan mengandung berbagai nasihat luhur tentang kehidupan. Di dalamnya ada sanepo untuk terus melestarikan lingkungan, bagaimana menjadi warga negara yang baik, dan bahkan ada satu syair yang membicarakan kesetaraan gender dalam perspektif tradisional yang disampaikan melalui syair-syairnya,” ungkap Eka.


Kajian tersebut diharapkan dapat membantu mendokumentasikan kekayaan Soyar Maole secara lebih sistematis. Selain itu, penelitian tersebut juga dapat membuka pemahaman mengenai bagaimana tradisi keislaman lokal menyimpan pengetahuan sosial, nilai-nilai kehidupan, pandangan terhadap lingkungan, serta relasi antarmanusia.


Jejak Islam dan Kebudayaan di Bukit Menoreh


Keberadaan Soyar Maole menunjukkan bahwa perkembangan Islam di kawasan Bukit Menoreh juga berlangsung melalui kebudayaan yang dekat dengan kehidupan masyarakat.


Tradisi ini berkembang di Desa Kaligono dan memiliki hubungan historis dengan tradisi Sholawat Maulud dari Dusun Sebolong, kawasan Goa Kiskendo, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulon Progo. Keduanya memiliki kesamaan sumber syair dan pola iringan, sementara Soyar Maole mengalami proses akulturasi dengan kebiasaan serta kemampuan berbahasa masyarakat Jawa pada zamannya.


Keunikan tersebut menjadikan Soyar Maole bukan sekadar seni pertunjukan, melainkan warisan budaya yang merekam perjalanan spiritual masyarakat. Lantunan sholawat yang diwariskan dari generasi ke generasi menjadi media untuk meneruskan nilai-nilai luhur sekaligus memperkuat identitas keislaman lokal.


Malam tirakatan di Masjid Rajak Al Iman menjadi pengingat bahwa peringatan kemerdekaan tidak hanya dapat diwujudkan melalui seremoni, tetapi juga melalui doa, kebersamaan, penghormatan kepada para pendahulu, serta upaya menjaga warisan budaya yang tumbuh dari masyarakat sendiri.


Di tengah perubahan zaman, Soyar Maole terus dilantunkan. Dari satu generasi ke generasi berikutnya, suara rebana dan syair Jawa-Islami tersebut menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Kaligono, sekaligus menghubungkan warisan masa lalu dengan kehidupan masa kini dan harapan untuk masa depan.

×
Berita Terbaru Update