![]() |
| Tiga Siswa SMAN 7 Purworejo Bawa Inovasi Ecoprint Raih Emas di Malaysia |
PURWOREJO – Kreativitas tidak selalu lahir dari sesuatu yang rumit. Tiga siswa SMAN 7 Purworejo membuktikannya dengan mengolah daun yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar menjadi inovasi ecoprint yang berhasil meraih medali emas dalam kompetisi internasional di Malaysia.
Ketiganya adalah Vania Anindita Nabila Maharani (17), Khumaira Azalia Fatikhah (17), dan Dewa Nasywa Puteri Surya Negara (18), siswa kelas XII SMAN 7 Purworejo.
Mereka berhasil meraih Gold Medal sekaligus menempati posisi pertama pada kategori Social Science (SS) dalam ajang Virtual International Breakthrough Invention, Innovation & Design Exhibition (VI-BiiDE) 2026 yang diselenggarakan Universiti Teknologi MARA (UiTM) Malaysia.
Dalam kompetisi tersebut, ketiganya mengusung karya berjudul “Ecoprint Wastra as an Eco-Friendly Innovation in Supporting SDGs”.
Karya itu berangkat dari pemanfaatan bahan-bahan alami yang tersedia di lingkungan sekitar. Daun dari berbagai jenis tanaman digunakan untuk menghasilkan motif alami pada kain dan produk ecoprint lainnya.
Bagi ketiganya, pemilihan ecoprint bukan tanpa alasan. Selain bahan bakunya mudah ditemukan, terutama di Indonesia, proses pengembangannya juga dinilai memiliki potensi ekonomi sekaligus membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan.
“Kami coba memanfaatkan apa yang ada di lingkungan sekitar, kemudian kami olah dengan biaya murah dan rendah, namun bisa bernilai jual tinggi,” kata Khumaira Azalia Fatikhah.
Khumaira yang akrab disapa Aira menjelaskan, keberagaman tumbuhan di Indonesia menjadi salah satu keunggulan yang mereka angkat dalam karya tersebut. Daun yang selama ini kerap dianggap tidak memiliki nilai lebih ternyata dapat menghasilkan motif yang memiliki karakter tersendiri.
Hal tersebut juga menjadi salah satu perhatian saat mereka mempresentasikan karya di Malaysia. Menurut Aira, ecoprint dengan memanfaatkan berbagai jenis daun dari Indonesia masih memiliki peluang besar untuk dikembangkan.
“Dari ecoprint itu masih sangat jarang di luar negeri. Motifnya dari daun di Indonesia itu banyak, sementara di luar negeri sedikit,” ujarnya.
Saat mengikuti kompetisi, mereka bahkan sempat mendapat pertanyaan mengenai ketersediaan bahan baku untuk membuat ecoprint.
“Kami sempat ditanya, ini kira-kira untuk daun mudah didapat tidak. Kami jawab mudah di Indonesia karena banyak di kebun-kebun, bahkan di semak-semak yang jarang dimanfaatkan,” katanya.
Menurut mereka, pertanyaan tersebut justru menjadi pengalaman menarik. Sebab, sesuatu yang dianggap biasa di lingkungan sekitar ternyata bisa menjadi bagian dari inovasi yang menarik perhatian peserta maupun juri dari negara lain.
Tidak hanya mengedepankan hasil produk, tim SMAN 7 Purworejo juga berusaha menggabungkan aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial dalam karya mereka.
“Bagi kami, ecoprint bukan hanya persoalan menghasilkan motif yang menarik. Ada aspek lingkungan, ekonomi, dan sosial yang coba kami satukan dalam karya tersebut,” ujar Aira.
Prestasi di Malaysia tersebut bukan pengalaman pertama bagi tim SMAN 7 Purworejo mengikuti kompetisi internasional. Dewa Nasywa Puteri Surya Negara mengatakan, capaian dalam VI-BiiDE 2026 menjadi pengalaman kedua mereka dalam ajang internasional serupa.
“Keberhasilan VI-BiiDE 2026 ini capaian kedua bagi kami yang semakin memperkuat pengalaman kami dalam membawa inovasi sekolah ke tingkat internasional,” kata Dewa.
Tahun ini, fokus mereka masih berkaitan dengan bagaimana teknologi dan kreativitas dapat digunakan untuk melahirkan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Namun, perjalanan menuju kompetisi tersebut tidak sepenuhnya mudah. Ketiganya harus membagi waktu antara persiapan lomba dengan kewajiban sebagai siswa kelas XII, termasuk menghadapi Tes Kemampuan Akademik (TKA).
“Awalnya kami mantap maju, tapi di pertengahan karena sudah kelas XII ada TKA. Kalau misalnya lolos, diundang ke sana dan tabrakan dengan jadwal TKA bagaimana,” tutur Dewa.
Setelah berdiskusi dengan pihak sekolah, ketiganya akhirnya memilih tetap melanjutkan kompetisi. Terlebih, karya mereka sudah dinyatakan lolos pada tahap abstrak.
Keputusan tersebut akhirnya berbuah hasil. Karya mereka berhasil membawa pulang medali emas.
“Keputusan ini akhirnya terjawab, kami berujung pada penghargaan tertinggi ini. Terima kasih kepada bapak ibu guru. Menurut kami ini tradisi baik, semoga setelah kami lulus, ada yang meneruskannya,” harapnya.
Puncak penghargaan VI-BiiDE 2026 dilaksanakan melalui Grand Closing & Award Ceremony pada 27 Agustus 2026 di Dewan Titiwangsa, UiTM Pahang, Malaysia.
Kepala SMAN 7 Purworejo, Hari Peni S. Pamedar, S.Si., M.Pd., M.Eng., mengapresiasi capaian ketiga siswanya. Menurutnya, prestasi tersebut tidak hanya menjadi kebanggaan bagi para siswa, tetapi juga membawa nama sekolah ke tingkat internasional.
“Kami apresiasi ketiganya dan memperkenalkan capaian tersebut kepada warga sekolah dalam upacara. Apresiasi, membawa nama besar sekolah, nama baik sekolah di kancah internasional. Mereka luar biasa,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, keikutsertaan siswa dalam kompetisi inovasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya sekolah mengembangkan pembelajaran berbasis STEM atau Science, Technology, Engineering, and Mathematics.
Sebelum mengikuti kompetisi, sekolah melakukan proses seleksi internal untuk menentukan siswa yang dinilai memiliki kemampuan dan kesiapan mengikuti ajang tersebut.
“Kami tawarkan kepada anak-anak yang mampu secara akademik, keterampilan, dan finansial, karena kegiatan ini 100 persen kegiatan mandiri dari siswa dengan dukungan orang tua,” jelas Hari Peni.
Ketiga siswa tersebut berasal dari kelas XII IPA. Latar belakang pembelajaran di bidang IPA dinilai mendukung proses mereka dalam melakukan riset, mengembangkan ide, membuat produk, hingga mempresentasikan hasil karya.
Menurut pihak sekolah, capaian tersebut menjadi salah satu dorongan untuk terus memberikan ruang kepada siswa agar dapat mengembangkan kemampuan dan mengikuti kompetisi di tingkat yang lebih luas.
Dukungan orang tua dan antusiasme siswa juga menjadi bagian penting dalam proses tersebut. Meski demikian, kesempatan mengikuti kompetisi internasional tetap melalui proses seleksi sehingga tidak semua siswa dapat mengikuti kegiatan.
Bagi Vania, Aira, dan Dewa, medali emas di Malaysia bukan sekadar penghargaan. Pengalaman tersebut menjadi pembelajaran bahwa gagasan sederhana yang ditemukan dari lingkungan sekitar dapat dikembangkan menjadi sebuah karya yang memiliki nilai dan mampu bersaing di tingkat internasional.
“Manfaat lain yang mereka rasakan tentu ada, terutama dalam perjalanan menuju perguruan tinggi. Yang jelas ini kebanggaan bagi anak-anak dan sekolah,” tandas Hari Peni.
Dari daun yang tumbuh di kebun hingga semak-semak yang kerap luput dari perhatian, ketiga siswa SMAN 7 Purworejo menemukan cara untuk mengubah sesuatu yang sederhana menjadi sebuah karya. Ecoprint yang mereka kembangkan akhirnya tidak hanya berbicara tentang motif pada kain, tetapi juga tentang kreativitas, lingkungan, dan keberanian membawa karya lokal ke panggung internasional.
