| Berawal dari Tugas Kuliah, Dua Lulusan POLSA Raih Penghargaan Wirausaha |
PURWOREJO – Berawal dari tugas mata kuliah dengan modal terbatas, Luthfia Fadhila, berhasil merintis usaha fashion dan aksesori hingga mampu membantu membiayai kuliahnya sendiri. Perjalanan tersebut mengantarkannya meraih penghargaan pelopor rintisan usaha dalam Wisuda ke-XXI Politeknik Sawunggalih Aji (POLSA) Tahun Akademik 2025/2026.
Penghargaan serupa juga diraih Mahanani Rahayuning Purnamasari, yang mengembangkan usaha kuliner ayam geprek Rizki Chicken. Keduanya merupakan lulusan Program Studi DIII Administrasi Bisnis yang mampu mengembangkan gagasan bisnis selama menempuh pendidikan.
Penghargaan tersebut diberikan dalam prosesi wisuda di Ganeca Convention Hall, Purworejo, Kamis (15/10/2026). Capaian keduanya menjadi bukti bahwa tugas perkuliahan dapat berkembang menjadi peluang usaha ketika diiringi keberanian mencoba, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar.
Bagi Luthfia, perjalanan membangun usaha Hai Filo bukan sekadar memenuhi tugas akademik. Usaha daring yang bergerak di bidang fashion dan aksesori itu mulai dirintis pada 25 Januari 2024, ketika dirinya masih duduk di semester dua.
Berangkat dari modal kecil untuk memenuhi tugas mata kuliah Proyek Bisnis, Luthfia kemudian memilih melanjutkan usahanya. Ia memanfaatkan peluang penjualan daring untuk mengenalkan produk sekaligus belajar mengelola bisnis secara mandiri.
Seiring berjalannya waktu, Hai Filo menjadi ruang belajar nyata bagi Luthfia. Ia tidak hanya menerapkan pengetahuan yang diperoleh di bangku kuliah, tetapi juga mengasah kemampuan mengambil keputusan, menghadapi tantangan, dan bertanggung jawab atas usaha yang dijalankannya.
Dalam kesan dan pesan wisudawan, Luthfia mengungkapkan bahwa pengalaman membangun usaha mengajarkannya untuk berani memulai, tekun menjalani proses, serta terbuka terhadap masukan.
“Hai Filo mengajarkan saya bahwa keterbatasan modal tidak harus menjadi alasan untuk berhenti bermimpi; bahwa ilmu di ruang kelas akan semakin bermakna ketika diuji dan diterapkan dalam kehidupan nyata,” ungkapnya.
Lebih dari sekadar pengalaman berwirausaha, Hai Filo juga memberikan kesempatan bagi Luthfia untuk membantu membiayai kuliahnya sendiri. Pengalaman tersebut memperkuat keyakinannya bahwa kemandirian dapat dibangun melalui langkah-langkah kecil yang dilakukan secara konsisten.
“Keberhasilan bukanlah hasil dari satu langkah besar, melainkan akumulasi dari langkah-langkah kecil yang dilakukan dengan konsisten,” tuturnya.
Sementara itu, Mahanani Rahayuning Purnamasari menorehkan pencapaian melalui usaha kuliner ayam geprek Rizki Chicken. Penghargaan yang diraihnya bersama Luthfia menunjukkan bahwa semangat kewirausahaan mahasiswa dapat tumbuh di berbagai bidang, mulai dari fashion dan aksesori hingga kuliner.
Keduanya menempuh pendidikan di program studi yang sama, tetapi mengembangkan usaha dengan karakter dan bidang yang berbeda. Pengalaman tersebut memperlihatkan bagaimana pembelajaran administrasi bisnis dapat menjadi bekal untuk mengenali peluang dan mengembangkan gagasan menjadi kegiatan usaha.
Penghargaan bagi kedua lulusan itu sekaligus menjadi bentuk apresiasi terhadap keberanian mahasiswa untuk tidak berhenti pada teori, tetapi mencoba menerapkan ilmu yang diperoleh selama perkuliahan.
Direktur POLSA, Supriono, dalam sambutannya mendorong para lulusan agar mampu memberikan manfaat melalui jalur karier yang dipilih, termasuk dengan membangun usaha sendiri.
“Jika Saudara membangun usaha, ciptakan nilai ekonomi dan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.
Menurutnya, pendidikan vokasi perlu menghubungkan pengetahuan dengan kebutuhan nyata. Kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan diharapkan tidak berhenti pada pemahaman teori, tetapi dapat diterapkan untuk menjawab tantangan dunia kerja maupun kebutuhan masyarakat.
Dalam perjalanan merintis usaha, mahasiswa juga berkesempatan mempelajari berbagai aspek bisnis, mulai dari mengenali kebutuhan pasar, melayani pelanggan, mengambil keputusan, hingga mengelola waktu dan sumber daya. Proses tersebut membutuhkan ketekunan, kemampuan beradaptasi, serta evaluasi berkelanjutan agar usaha dapat berkembang.
Kisah Luthfia dan Mahanani menjadi gambaran bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik atau gelar yang diperoleh, tetapi juga dari kemampuan mengubah pengetahuan menjadi karya nyata.
Dari tugas kuliah hingga meraih penghargaan, perjalanan keduanya membawa pesan bahwa peluang dapat tumbuh dari langkah sederhana. Dengan keberanian memulai dan konsistensi menjalani proses, gagasan yang semula menjadi tugas akademik berpotensi berkembang menjadi usaha mandiri yang memberikan manfaat ekonomi bagi diri sendiri dan masyarakat.