PURWOREJO – Di tengah perkembangan batik dengan berbagai metode produksi modern, tradisi mencanting secara manual masih dipertahankan oleh Mbah Juwariyah (70), warga Desa Sumberagung, Kecamatan Grabag, Kabupaten Purworejo.
Mbah Juwariyah, Pengrajin Batik Tradisional yang Masih Bertahan di Sumberagung
Selama puluhan tahun, Mbah Juwariyah menekuni pembuatan batik secara tradisional. Dengan canting dan malam, setiap motif dikerjakan secara manual dan membutuhkan ketelitian serta kesabaran.
Proses pembuatan batik tulis tersebut tidak dapat dilakukan dalam waktu singkat. Untuk pengerjaan awal, satu kain batik membutuhkan waktu sekitar lima bulan, tergantung tingkat kerumitan motif dan proses pengerjaannya.
Dari hasil karyanya, harga batik yang dibuat Mbah Juwariyah berada di kisaran Rp350 ribu hingga Rp500 ribu per kain. Harga tersebut menyesuaikan dengan motif, tingkat kerumitan, serta proses pengerjaan batik secara manual.
“Paling murah Rp350 ribu, yang paling mahal sekitar Rp500 ribu,” ujar Mbah Juwariyah saat ditemui.
Menurutnya, pembeli batik hasil karyanya selama ini didominasi oleh orang tua yang sudah terbiasa menggunakan batik dalam keseharian maupun untuk menghadiri berbagai kegiatan.
Meski proses pembuatannya membutuhkan waktu berbulan-bulan, Mbah Juwariyah tetap mempertahankan cara tradisional yang telah dilakukannya selama puluhan tahun.
Keberadaan Mbah Juwariyah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan tradisi membatik di Desa Sumberagung. Di usianya yang telah mencapai 70 tahun, ia masih tekun mencanting dan menghasilkan karya dengan proses yang diwariskan dari generasi sebelumnya.
Namun, keberadaan pengrajin batik yang masih menggunakan teknik manual menjadi perhatian tersendiri. Jika tidak ada regenerasi dan dukungan dari masyarakat, keterampilan mencanting secara tradisional berpotensi semakin sulit ditemukan.
Momentum Hari Batik Nasional, 2 Oktober 2026, menjadi pengingat bahwa batik tidak hanya berbicara tentang kain dan motif, tetapi juga tentang proses panjang, ketekunan, serta para perajin yang berada di balik setiap lembar kain batik.
Mbah Juwariyah berharap tradisi membatik secara manual tetap dapat bertahan dan dikenal oleh generasi muda.
Batik bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga cerita tentang tangan-tangan yang dengan sabar menjaga tradisi agar tetap hidup.