Notification

×

Iklan

Kesenian Pituruh Cing Pho Ling Dari Kesawen yang Mendunia

Friday, 6 October 2017 | 16:10 WIB Last Updated 2018-03-17T02:04:29Z
Pisowanan di Kadipaten Karangduwur
Kesenian Khas Kabupaten Purworejo
Kesenian ini diduga telah ada / mulai dikenal pada abad XVII. Menurut sejarahnya, kesenian ini bermula ketika Demang[1]Kesawen (Kesawen saat ini menjadi salah satu desa di  Kecamatan Pituruh Kab. Purworejo) mengikuti Pisowanan[2] diKadipaten[3] Karangduwur[4]. Sambil menunggu acara pisowanan tersebut dimulai, Demang Kesawen bersama 3 (tiga) prajuritnya yang bernama Krincing, Dipomenggolo dan Keling melakukan latihan bela diri di lapangan Kadipaten. Ketika mereka sedang asyik berlatih bela diri dan diketahui oleh Adipati Karangduwur, rupanya beliau  tidak berkenan jika Demang Kesawen dan anak buahnya melakukan latihan bela diri di alun - alun Karangduwur. Untuk itu, Adipati memperingatkan kepada Demang Kesawen dan anak buahnya, agar tidak mengulangi kegiatan serupa lagi di masa yang akan datang.

 Demang Kesawen yang Tak Jera

Walaupun telah ditegur oleh Adipati Karangduwur, ternyata Demang Kesawen tidak jera. Pada pisowanan yang akan datang dia berkeinginan untuk kembali melakukan kegiatan latihan bela diri di Alun - alun kawedanan. Untuk itu dia mengajak musyawarah dua orang kepercayaannya yaitu Jagabaya[5] dan Komprang. Hasil rembugan tersebut adalah : Krincing, Dipomenggolo dan Keling akan ikut lagi dalam pisowanan. Untuk itu Komprang akan membuat kegiatan latihan bela diri menjadi sebuah tarian dengan diiringi tetabuhan / musik. Akhirnya terbentuklah tim kesenian yang terdiri dari para prajurit kademangan dengan susunan :
1.    Komprang sebagai sutradara
2.    4 (empat) orang prajurit sebagai pemukul bunyi-bunyian
3.    1 (satu) orang prajurit sebagai kemendir[6]
4.    2 (dua) orang prajurit sebagai pemencak[7]
5.    4 (empat) orang prajurit lainnya sebagai pengombyong[8].
Pada waktu pisowanan, gerak bela diri yang disamarkan dalam bentuk tarian dan musik oleh para prajurit Demang Kesawen terbukti tidak menimbulkan kecurigaan dan kemarahan Adipati Karangdwur. Mereka dianggap sebagai sebuah kelompok kesenian biasa, padahal dibalik penyamaran itu mereka adalah pengawal pilihan dari Demang Kesawen. Semenjak itulah setiap pisowanan ke Kadipaten Karangdwur, Demang Kesawen selalu membawa “Kelompok Kesenian”-nya yang terdiri dari para pengawalnya. Setiap kelompok kesenian ini tampil di acara pisowanan, banyak petinggi Kadipaten yang ikut menontonnya. Hingga Adipati Karangdwur meminta kepada Demang Kesawen untuk melestarikan kesenian tersebut sekaligus menanyakan apa nama kesenian yang mereka bawakan. Demang Kesawen yang merasa tidak tahu menyerahkan jawabannya kepada Jagabaya. Jagabaya menamai kesenian ini Cingpoling. Diambil dari nama 3 (tiga) orang pengawal Demang, yaitu :
Dari nama Krincing diambil suku kata terakhir “CING”
Dari nama Dipomenggolo diambil suku kata terakhir “PO”
Dari nama Keling diambil suku kata terakhir “LING”
Sepulang dari Kadipaten, Demang Kesawen mengadakan syukuran yang meriah untuk merayakan diterimanya Kesenian Cingpoling oleh Adipati.

Fungsi Kesenian Cingpoling
Pada masa lalu, kesenian ini dipergunakan  sebagai pengantar Demang Kesawen dalam melakukan pisowanan. Namun karena terjadi pergantian struktur pemerintahan yang dilakukan oleh penjajah Belanda dan Jepang membuat kegiatan pisowanan tidak lagi dilaksanakan. Pada saat itulah Cingpoling merubah diri menjadi kesenian yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bagian dari kekayaan seni dan budaya. Kesenian ini kemudian menjadi sajian pada kegiatan-kegiatan seperti : menyambut tamu, pernikahan, khitanan dan lain-lain, hingga saat ini.

Penari
Penari Cingpoling saat ini adalah masyarakat yang berkeinginan untuk melestarikan kesenian tersebut. Jumlah penari biasanya terdiri dari 9 (sembilan) orang dengan perincian :
1.    1 (satu) orang sebagai kemendir / pembawa payung
2.    2 (dua) orang sebagai pemencak
3.    2 (dua) orang sebagai pengiring
4.    2 (dua) orang sebagai penabuh ketipung
5.    2 (dua) orang sebagai penabuh kêcrék

Profil Grup Cingpoling “Tunggul Wulung”
Grup Kesenian Cingpoling “Tunggul Wulung” berada di Desa Kesawen Kecamatan Pituruh dengan pimpinan Bapak Simun. Grup ini telah berdiri sejak tahun 1957. Didirikan untuk melestarikan kesenian Cingpoling agar tidak punah. Hingga sekarang grup ini masih eksis walaupun para anggotanya telah berusia lanjut.


Perlunya Pelestarian
Cingpoling sebagai sebuah kesenian asli dari Kabupaten Purworejo yang semakin lama semakin sedikit peminatnya, memberikan kepada kita sebuah pesan bahwa kesenian akan lestari jika kita mau dan mampu untuk menjaganya. Pelestarian Cingpoling yang dilakukan oleh warga Kesawen patut kita apresiasi. Sementara uluran tangan dari pihak terkait untuk lebih mengenalkan dan membantu pelestarian kesenian ini menjadi sangat mendesak.


[1] Pejabat setingkat Kepala Desa pada masa lalu.
[2]Sebuah tradisi dalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa, di mana para bawahan adipati/raja datang (sowan) ke istana untuk melaporkan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Pisowanan bisa dikatakan sebagai wujud pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin daerah kepada pimpinan diatasnya. Setelah mendengarkan laporan dari para bawahannya, adipati/raja biasanya akan memberikan nasehat, teguran, ataupun perintah bagi masing-masing pemimpin daerah.
[3]Pemerintahan dengan kekuasaan setingkat dibawah Kerajaan.
[4] Kesawen kemungkinan besar masuk wilayah Kadipaten Karangduwur (yang meliputi wilayah Kemiri, Pituruh dan sekitarnya.)
[5]Pejabat Kademangan yang bertanggungjawab terhadap Keamanan.
[6]Pembawa payung.
[7] Orang yang melakukan gerakan bela diri/pencak.
[8] Pengantar.

Iklan

×
Berita Terbaru Update