Notification

×

Iklan

Pesona Sunrise Gunung Kembang, Pituruh

Tuesday, 1 May 2018 | 15:37 WIB Last Updated 2018-05-01T08:37:24Z

Kami Foto dengan Latar Belakang Sunrise (reviensmedia.com/Anggi)
Oleh: Vikky Vidia Anggitirawati
PITURUHGunung Kembang, mungkin masih terdengar asing di telinga, apalagi bagi para pendaki ulung yang telah menapaki ribuan mdpl. Letaknya yang berada di kota kecil sekelas Purworejo juga membuat gunung ini kalah populer dengan gunung-gunung lainnya yang sudah punya nama karena ketinggiannya. Siapa sangka, gunung yang masih terbilang “perawan” dengan ketinggian tak lebih dari 1000 mdpl ini memiliki pesona sunrise yang tak terlupakan.
Siang itu saya bersama rekan-rekan karang taruna, berkesempatan melakukan ekspedisi yang bertujuan menciptakan kekompakan dan kesolidan antar anggota. Kami sepakat memilih Gunung Kembang sebagai destinasi karena tergiur dengan eloknya suasana alam yang masih asri dan belum terjamah. Do’a bersama menjadi ritual pembuka perjalanan kami dan pukul 14.30 WIB, saya beserta rombongan menuju rumah sang porter yang memakan waktu 1 jam perjalanan menggunakan sepeda motor. Ia yang kami percaya sebagai penuntun langkah mencapai puncak Gunung Kembang. Setelah beristirahat sejenak dan melaksanakan sholat, perjalanan kami lanjutkan menuju rumah kepala desa untuk perijinan dan menitipkan sepeda motor di sana. Lama perjalanan yang seharusnya tak lebih dari 30 menit terpaksa membengkak karena saya dan 5 teman saya terpisah dari rombongan kemudian kehilangan arah.
Nampak Indahnya Sunrise
Nampak Indahnya Sunrise
Tersesat, itulah yang terjadi. Berbekal pepatah “malu bertanya sesat di jalan”, saya mencoba bertanya kepada orang yang saya temui di jalan perihal letak rumah sang kepala desa, namun tak kunjung mendapatkan titik terang. Kami berhenti sejenak memberi kesempatan ponsel kami menangkap sinyal. Benar saja, setelah salah satu dari kami berhasil menghubungi sang penunjuk jalan kami baru tahu bahwa kepala desa yang seharusnya dituju adalah kepala desa Somogede, bukan kepala desa Kaligondang yang sedari tadi kami tanyakan. Ini menjadi cerita konyol yang mengundang gelak tawa ketika mengingatnya.
Setelah melaksanakan sholat maghrib, kami bergegas mengambil langkah menuju gunung yang sudah kami idamkan puncaknya. Senter dalam genggaman menjadi teman di setiap langkah ini. Arahan mengenai rute dari kepala desa menjadi bekal yang dirasa cukup bagi kami sebelum melakukan pendakian, namun belum ada seperempat perjalanan kami dibuat bingung saat menemui persimpangan jalan. Kami mendatangi sebuah rumah warga dan menanyakan jalan mana yang seharusnya kami pilih untuk menuju puncak, syukurlah laki-laki paruh baya yang kami temui bersedia mengantar hingga sepertiga perjalanan. Mungkin karena belum terbiasa dengan medan yang menanjak, kaki ini tak bisa mengikuti irama langkah kaki bapak paruh baya yang menjadi porter sementara kami. Lutut yang pernah cidera di pendakian sebelumnya, meronta meminta waktu sejenak untuk beristirahat. Nafas mulai tersengal karena ritme langkah yang terlalu cepat. Di titik ini saya mulai merasa tidak dapat menikmati perjalanan dan ingin segera menyudahi petualangan yang baru saja dimulai, namun uluran tangan rekan-rekan dan kucuran semangat yang terus mengalir mampu mengembalikan asa yang hampir putus di tengah jalan. Setelah berjalan selama 1,5 jam, perjalanan ini diwarnai silang pendapat ketika sebagian dari kami ingin melanjutkan langkahnya melewati jalan yang hilang akibat longsor dan yang sebagian lagi merasa ragu untuk melewatinya. Saya pribadi memilih untuk putar arah dari pada memaksakan diri melewati jalan tersebut dengan resiko yang terlalu besar.
Demi menjaga keselamatan masing-masing, akhirnya kami sepakat untuk berbalik dan mencari tanah lapang untuk mendirikan tenda. Malam itu kami lalui dengan membuat api unggun dan melihat bintang jatuh bersama-sama. Dinginnya kabut yang turun, telah terkalahkan oleh hangatnya kebersamaan ini.
Pagi menjelang, kami terbangun dan mulai menghangatkan badan dengan membuat sarapan ala kadarnya. Susu hangat dan mie instan rebus sudah cukup untuk membuka pagi itu. Aktivitas kami terhenti ketika semburat warna merah dan kuning menggantung di langit timur. Perlahan sang surya menampakkan dirinya. Sungguh indah ciptaanMu Tuhan. Rasa lelah dan putus asa yang sempat mendera, terbayar lunas tuntas.
Bagi para pendaki pemula yang haus akan petualangan dan perburuan munculnya sang Raja Siang, gunung ini menjadi pilihan tepat untuk melengkapi catatan langkah kaki anda. Gunung Kembang terletak di Desa Somogede, Kec. Pituruh, Kab. Purworejo. Untuk mencapai puncaknya, dibutuhkan waktu kurang lebih 1,5 jam dari kaki gunung. Mengenai track dan rutenya, bisa ditanyakan langsung kepada warga sekitar karena memang belum ada track khusus untuk menuju puncak.
Topografinya didominasi oleh lereng dengan kemiringan yang cukup terjal, namun aman untuk dipijak. Memang dibutuhkan tenaga dan kaki yang kuat untuk menuju puncak apalagi bagi seorang pemula. Silakan bagi yang ingin mencicipi pesona alam Gunung Kembang, disarankan melakukan pendakian pada sore hari agar dapat melihat indahnya matahari tenggelam dari Gunung Kembang yang pasti tak kalah indah dengan kemunculannya.

Sumber : reviensmedia.com

Iklan

×
Berita Terbaru Update