Cing Po Ling, Seni Pertunjukan Keprajuritan Dari Kesawen

Advertisement
Alat Musik Cing Po Ling

KESAWEN, (pituruhnews.com) - Potensi yang dimiliki Purworejo bukan hanya wisata dan ndolalak, tapi Purworejo ternyata masih memiliki kesenian tradisi lainnya. Seperti kesenian yang dimiliki Desa Kesawen, Pituruh, Purworejo. Kesenian tersebut bernama Cing Po Ling. Kesenian ini merupakan sebuah seni pertunjukan khas Desa Kesawen yang kini semakin terkikis generasi penerusnya, Selasa, (23/10/2018).

Ditengah arus modernisasi, salah satu kesenian khas Purworejo yang berasal dari Desa Kesawen, Pituruh masih tetap eksis meskipun dalam keterbatasan.

Bagi warga Purworejo, mungkin masih asing  dengan mendengar namanya kesenian tradisional Cing Po Ling, karena kesenian tersebut akan terkesan belum familiar. Tapi lain bagi warga kecamatan Pituruh yang sudah melekat dengan kesenian Cing Po Ling ini. Siapa Sangka Cing Po Ling ini berasal dari Negeri Tiongkok.

 Kesenian Cing Po Ling saat pertunjukkan (sumber : http://taricingpooling.blogspot.com)

Kesenian Cing Po Ling merupakan kesenian tradisional yang diyakini warga Desa Kesawen sudah ada sejak abad ke-18. Nama Cing Po Ling diambil dari gabungan tiga nama pengawal setia Ki Demang Kesawen, yaitu Cing dari nama Krincing, Po dari nama Dipo dan Ling dari nama Keling.


Tari dari Kesenian ini terbilang lampau, dilestarikan dan dikelola oleh grup kesenian "TUNGGUL WULUNG", yang diketuai oleh bapak Simun (80) atau yang dikenal dengan Mbah Simun.

''Cing Po Ling ini sudah dari dulu ada, sepengetahuan saya, sudah generasi ke enam dan bapak saya juga dulu pemai Cing Po Ling-an" Ujar Simun, pada saat ditemui tim pituruhnews.com, Jum'at (19/10/2018).

Pada saat ditemui, Simun bercerita bahwa kesenian tradisional Cin Po Ling ini berasal dari kisah seorang Demang Kesawen beserta pengawalnya beberapa abad lalu yaitu sekitar abad 18. Dimana Ki Demang akan menghadiri pertemuan di keraton. Karena membawa tiga pengikut, Ki Demang dicurigai oleh prajurit sandi hingga mendapat peringatan dari Sinuwun. Bahkan ada kabar akan dicopot dari jabatannya. Kemudian Ki Demang melakukan penyamaran agar ketiga identitas pengikutnya tidak terbongkar. Dia menyiapkan tatanan gerak meniru tarian atau jogedan dari semua pengikut Ki Demang. Supaya tidak curiga senjata yang mereka bawa juga disamarkan menjadi berbagai peralatan tari Cin Po Ling. Seperti kayu untuk memasang bendera merupakan tombak, slompret atau seruling sebagai tulup. 

”Jadi kesenian Cing Po Ling ini bisa disebut kesenian bersifat keprajuritan,” ujar Simun.

Kesenian Cing Po Ling ini beda dengan kesenian yang ada di Purworejo, seperti ndolalak dan kuda kepang, yang biasanya menggunakan panggung. dan bahkan tidak unsur berbau mistis seperti kesurupan. Simun menjelaskan bahwa Cing Po Ling ini biasa dimainkan di lapangan, ataupun untuk mengiringi kegiatan karnaval hari Kemerdekaan dan arak-arakan khataman qur'an.

 
 Kesenian Cing Po Ling saat pertunjukkan (sumber : http://taricingpooling.blogspot.com) 

Durasi yang dimainkan Cing Po Ling ini kurang lebih 30 menit, tetapi jika durasi yang di butuhkan lebih lama, maka gerakan dari tarian Cing Po Ling akan diulang kembali. Dalam tari Cin Po Ling terdiri maksimal 11 penari laki-laki yang terdiri dari seorang pemayung, dua orang pemencak, dan delapan orang penari yang berbaris berpasangan. Cin Po Ling biasanya  dimainkan tidak lebih dari 11 orang asal dalam bilangan ganjil. 

"Penari dari Cing Po Ling ini rata-rata bekas penari dari ndolalak dan kuda lumping, karena memang kekurangan penari," Katanya.

Meski banyak bermunculan pertunjukan modern, kesenian Cing Po Ling yang berasal dari Desa Kesawen masih banyak penggemar, bahkan sampai saat ini kesenian Cing Po Ling masih menampakkan ke eksisannya di berbagai kegiatan, baik kegiatan tingkat desa, kecamatan, kabupaten, bahkan sampai ke luar daerah Purworejo seperti Kebumen, dan Semarang.

Penghasilan yang didapat dar kesenian Cing Po Ling ini tidak banyak, mulai dari upah hanya dari Rp. 50 ribu dan dibagi dengan semua pemain Cing Po Ling.

Berharap kesenian Cin Po Ling yang berasal dari Desa Kesawen tetap lestari sampai kapanpun.

”Ini adalah warisan orang tua, dados coro kulo ampun ngantos punah lak punah kan mangke telas, mergo namung niki satu-satune (jadi menurut saya jangan sampai punah, kalau punah nanti habis, karena hanya ini satu-satunya),” Harap Mbah Simun.

Simun juga berterima kasih kepada pemerintah desa hingga kabupaten yang peduli pada Cin Po Ling. Bahkan kesenian Cin Po Ling yang ia ketuai mendapatkan dana tiap tahun dari pemerintah sebesar Rp 2 juta. Selain itu, banyak dari kalangan mahasiswa hingga siswa sekolah dasar yang mendatanginya untuk belajar tentang Cin Po Ling. 

"Simun yang hanya tinggal bersama istrinya dengan senang hati memberikan informasi kepada siapaun yang datang untuk belajar tentang kesenian Cin Po Ling," Ujarnya.

 
 Kesenian Cing Po Ling saat pertunjukkan (sumber : http://taricingpooling.blogspot.com)  

Sementara itu salah satu warga Pituruh, Salim Mufid Anwari (26) mengungkapkan, dulu dirinya sering menonton Cin Po Ling, bahkan sudah menjadi kebanggaan warga Pituruh. Namun, kini dirinya sudah jarang mendengar adanya pertunjukan Cing Po Ling. Padahal menurutnya sangat menarik ditambah dengan alunan musik Cing Po Ling.

“Setau saya  Pertunjukkan Cing Po Ling itu memang nada iramanya seperti itu, jadi saya juga nggak tau kalau ada latar sejarahnya,” Katanya. (ltf)
Baca Juga
Advertisement
Advertisement