Notification

×

Iklan

Kepsek SMP N 40 Purworejo : Sistem Belajar Daring, Orang Tua Merasa Kerepotan Dalam Membimbing Materi Pembelajaran

Kamis, 23 Juli 2020 | 08:00 WIB Last Updated 2020-07-23T01:00:01Z
KALIKOTES, (pituruhnews.com)Pembelajaran di masa pandemi COVID-19 ini memang membutuhkan pemikiran luar biasa. Hal ini diakibatkan karena tidak diperbolehkannya Kegiatan Belajar Mengajar di sekolah sebelum zona hijau. 

Akibatnya proses belajar mengajar di sekolah harus melalui pembelajaran jarak jauh hal ini hanya mampu dilakukan melalui akses jaringan internet. Pembelajaran jarak jauh melalui jaringan internet ini dikenal dengan istilah pembelajaran DARING (Dalam Jaringan).

Salah satunya SMP N 40 Purworejo yang melakukan pembelajaran dengan metode DARING (Dalam Jaringan).
kepala sekolah SMP N 40 Purworejo Himawan Susrijadi, S.Pd.,M.Pd 
Diungkapkan, kepala sekolah SMP N 40 Purworejo Himawan Susrijadi, S.Pd.,M.Pd meskipun menggunakan metode daring, ada beberapa alasan siswa tidak bisa mengikuti daring ini, diantarannya siswa tidak punya android, pulsa apalagi jaringan internet di rumah, maka sekolah harus menggunakan sistem tugas/penugasan.

Sistem ini dengan menghadirkan orang tua siswa ke sekolah untuk mengambil materi dan tugas guru selanjutnya dikumpulkan kembali ke sekolah. Ini juga menggunakan jangka waktu pengambilan tugas dan pengumpulan bisa 3, 4 hari. 

"Sistem pembelajaran yang kedua ini dikenal dengan istilah pembelajaran LURING (Luar Jaringan)." kata Himawan, Rabu, 22/07/2020.
pembelajaran siswa dirumahnya
Ia mengatakan meskipun SMP Negeri 40 Purworejo sekolah pinggiran, namun tetap mengedepankan analisis ilmiah di dalam menerapkan ke-dua sistem pembelajaran tersebut.

Yang mana pada akhirnya dicoba dulu sistem pembelajaran yang tersulit yaitu sistem DARING. "Alasan sebelum memutuskan memakai LURING/DARING-LURING SMP Negeri 40 Purworejo memiliki alasan yang tepat, jika akan berubah ke LURING/DARING-LURING jadi tidak asal saja. " ucapnya.

"Memang sistem ini membutuhkan kerja keras dari kepala sekolah, guru, siswa/orang tua dimana ketiga-tiganya harus betul-betul mampu bersinergis. Guru harus belajar terus macam-macam aplikasi daring untuk menemukan mana yang paling cocok buat mereka mengajar kelak. Kepala sekolah harus siap mensupervisi guru dan memonitor kegiatan siswa belajar di rumah (BDR) memakai sistem daring. " imbuh Himawan.

"Orang tua harus siap memfasilitasi putra-putrinya dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar daring dan siswa harus disiplin dalam mengikuti jadwal kegiatan belajar di rumah. " tambahnya.
kunjungan lapangan/ home visit ke rumah siswa.
Ia menambahkan beberapa hari yang lalu melakukan kunjungan lapangan/ home visit ke rumah siswa. Ia mendapatkan keluhan dari orang tua siswa merasa kerepotan dalam membimbing materi pembelajaran yang diberikan ke-anaknya.

Karena banyak siswa yang belum memahami betul fitur-fitur di android, sehingga perlu belajar. 

"Orang tua dan siswa sangat menginginkan belajar di sekolah, karena terkadang jaringan internet dirumahnya lemah. " katanya.

"Luar biasa memang tapi mengasyikan untuk dicermati sistem baru, situasi dan kondisi baru itulah NEW HABBIT di sekolah. Mudah diucapkan tapi sulit dilaksanakan, karena sekolah yang identik dengan belajar memiliki tanggung jawab yang besar terhadap kualitas anak bangsa ke depan. Jika gagal maka di tahun ini kita turun level lagi dalam kualitas pendidikan antar bangsa di dunia khususnya ASEAN. " pungkasnya. (lt/by)

Iklan

×
Berita Terbaru Update