Notification

×

Iklan

Balai Litbangkes Banjarnegara Lakukan Penelitian di Desa Tasikmadu. Ada Apa?

Minggu, 27 September 2020 | 10:07 WIB Last Updated 2020-10-04T11:44:29Z

penelitian tikus

TASIKMADU, (pituruhnews.com)
Di tengah pandemi, munculnya penyakit leptospirosis menjadi kekhawatiran baru bagi masyarakat Kecamatan Pituruh. Sejak Juni 2020, Puskesmas Karanggetas telah melaporkan tiga kasus. Kasus pertama dialami oleh seorang warga dari Desa Blekatuk, disusul satu dari Desa Girigondo, dan yang terakhir tercatat merupakan salah satu warga Desa Tasikmadu. Ketiganya telah dirujuk dan ditangani oleh pihak RSUD Tjitrowardodjo Purworejo.


Melihat kejadian tersebut, dinas kesehatan terkait mendatangkan Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Balai Litbangkes) dari Banjarnegara. Petugas Litbangkes ini melakukan penelitian selama tiga hari. Informasi yang diperoleh tim Pituruh News, bahwa survei ini dilakukan mulai hari Selasa, (22/9) sampai hari Jumat (25/9).


Dalam penelitian ini, petugas memasang 150 perangkap tikus setiap harinya, dengan mendapatkan 15 tangkap selama tiga hari. Penilitian ini mendapatkan dua spesies jenis tikus, yaitu Tikus Rumah (Rattus Tanezumi) dan Suncus murinus (Clurut).

proses pembedahan tikus

Dr. Budi Susanti, M.Sc, dokter UPT Puskesmas Karanggetas menerangkan bahwa penularan yang diakibatkan bakteri leptospirosis ini terkandung di air seni tikus masuk ke tubuh manusia melalui luka yang tidak ditutup.


“Utamanya (bakteri) ini menyerang sistem saraf, tapi yang paling tepat adalah ketika pasien nggak ngeh gitu ya, karena taunya panas tinggi, panas tinggi didiamkan setelah (tubuh) kuning semua baru berobat di Rumah Sakit baru terdiagnosa itu leptospirosis” kata Susanti.


“Alhamdulillah yang dari Desa Tasikmadu ini pasiennya setelah rawat inap di Rumah Sakit Tjitrowardodjo membaik dan pulang, kalau yang lainnya meninggal.” Imbuh Susanti


Ia juga mengatakan jika ada luka untuk segera diobati, jika bersi-bersih rumah seperti gudang, got dan jika pergi kesawah. Selalu menggunakan alat pelindung diri yaitu sepatu boot, sarung tangan, supaya tidak tertular bakteri leptospirosis.

penimbangan tikusa seblum di bedah

Sebagai sistem kewaspadaan dini terhadap kasus leptospirosis ini, Jarohman Raharjo, petugas Balai Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Banjarnegara menindaklanjuti surat dari Dinas Kesehatan Kabupaten Purworejo untuk melakukan survei tikus di Desa Tasikmadu Kecamatan Pituruh. 


Ia mengatakan bahwa tikus-tikus yang didapat akan diambil sempel air, ginjal, serum darah tikus, kemudian dilakukan tes PCR di Laboratorium Balai Litbangkes Banjarnegara.


“Untuk kegiatan ini kita lakukan selama 4 hari. 3 hari efektif. Hari pertama kita mendapatkan 3 ekor tikus ada 2 jenis spesies kemudian hari kedua kita dapatkan 7, kemudian hari ketiga kita dapatkan 8” kata Jarohman.


Menurutnya, berdasarkan faktor media perantara, penularan bakteri ini terjadi karena kontak pasien dengan air dan tanah persawahan yang terkontaminasi kencing tikus ketika pasien asal Tasikmadu tersebut mencari kodok kecil atau precil.


“Untuk tikusnya kita belum bisa pastikan karena ini kita masih melakukan pemeriksaan di laboratorium, jadi sample ginjal, sample darah nanti kita periksa di laboratorium” pungkasnya.

Reporter : Luthfi/Ambr

Editor : Luthfi

Iklan

×
Berita Terbaru Update