Notification

×

Iklan

Mahalnya Dana Pendidikan di Indonesia

Senin, 27 Desember 2021 | 11:12 WIB Last Updated 2021-12-27T04:12:35Z

 


Pendidikan menurut saya termasuk ke dalam kebutuhan primer bagi setiap orang. Dengan mendapatkan Pendidikan atau pengetahuan yang layak, seseorang dapat mewariskan pengetahuan, keterampilan, serta kebiasaan kepada generasi selanjutnya. Pendidikan bertujuan untuk mencerdaskan bangsa. Tetapi, masih banyak sekali warga negara kita yang tidak mendapatkan Pendidikan dengan layak. Sering sekali saya melihat langsung atau melihat di televisi anak-anak yang berasal dari keluarga dengan status ekonomi kebawah hanya bisa gigit jari melihat anak-anak yang berasal dari keluarga yang berkecukupan menikmati bangku sekolah dengan fasilitas segudang. Lemahnya Pendidikan di Indonesia disebabkan karena seharusnya Pendidikan itu memanusiakan manusia, tetapi seringkali tidak begitu. Pendidikan tidak memanusiakan manusia.

Pendidikan sebagai salah satu elemen penting dalam mencetak generasi penerus bangsa. Permasalahan nya adalah biaya Pendidikan yang melonjak mahal mengakibatkan masyarakat di kalangan bawah tidak dapat merasakan Pendidikan yang layak. Biaya Pendidikan saat ini terbilang tidak murah lagi karena dilihat dari pendapatan setiap rakyat di negara ini. Pendidikan seharusnya hak seluruh rakyat negara seperti yang dicantumkan pada UUD 1945, maka dari itu negara memiliki konsekuensi untuk memfasilitasi seluruh rakyat Indonesia untuk memperoleh Pendidikan yang layak. Pendidikan di Indonesia bisa dibilang merupakan investasi mahal yang perlu disiapkan sejak dini.

Pemerintah hanya membiayai Pendidikan sampai ke jenjang SMA/K saja, itupun jika Lembaga Pendidikan milik negara. Walaupun sekarang ini sudah ada dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) semuanya masih belum mencukupi bagi masyarakat miskin karena hanya ditanggung biaya sekolah saja belum meliputi properti pendukung seperti buku atau biaya transportasi untuk menuju ke Lembaga Pendidikan. Jika pemerintah hanya menyediakan biaya Pendidikan sampai ke jenjang menengah saja, bagaimana dengan lulusan jenjang tersebut untuk melanjutkan Pendidikan yang layak kembali. Akibatnya banyak siswa yang tidak dapat memperoleh Pendidikan tinggi yang seharusnya sangat penting untuk masa depan mereka.

Pendidikan yang bermutu itu mahal, itulah yang diibaratkan jika banyak siswa yang tidak dapat tertampung di Lembaga Pendidikan milik negara. Banyak dari siswa yang bersekolah di sekolah swasta yang sebenarnya orang tua mereka kurang mampu untuk membiayai segala kebutuhan sekolah. Sekolah swasta akan mematok harga setinggi-tingginya karena mereka tidak terikat oleh negara. Akibatnya banyak masyarakat kurang mampu memiliki akses terbatas untuk menikmati Pendidikan yang bermutu tinggi dan masyarakat kurang mampu semakin merasakan batas-batas berdasarkan status sosial.

Yang pintar semakin pintar, yang bodoh semakin tertinggal. Itulah yang pernah saya dengar dari dosen filsafat saya ketika membahas Pendidikan di negara ini. Pemerintah hanya fokus kepada Lembaga Pendidikan yang sudah maju saja, sedangkan Lembaga Pendidikan yang masih terbelakang semakin ketinggalan. Pemerintah memasok dana atau fasilitas ke Lembaga Pendidikan yang sudah maju dan otomatis para siswa atau pelajar disana akan semakin berkembang. Pemerintah kurang memperhatikan sekolah-sekolah di pelosok negeri yang kondisinya sangat memprihatinkan tetapi masih banyak anak-anak yang kurang mampu memiliki semangat belajar yang tinggi dan lagi-lagi karena masalah ekonomi yang mengakibatkan mereka merasa terganggu dalam proses belajar mengajarnya.

Bagaimana nasib anak-anak kurang mampu dalam menggapai cita-cita di masa depan? Pastilah mereka juga memiliki cita-cita sama seperti anak-anak dari keluarga berkecukupan. Semua sangatlah tidak adil. Hari-hari mereka diisi dengan mencari uang yang seharusnya dilakukan oleh orang tua mereka, dan mereka hanya bisa gigit jari melihat anak-anak lain dapat menikmati bangku sekolah yang layak.
Penulis : Syahla Nadya Laelatulfi/Mahasiswi UMP

Iklan

×
Berita Terbaru Update