Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Image

Menguak Jejak Cing Po Ling: Dari Krincing Dipo, Keling, hingga Jejak Kademangan di Desa Kesawen

Minggu, 08 Juni 2025 | 19:13 WIB Last Updated 2025-06-08T14:05:20Z

kesenian cing Po Ling
Purworejo, (pituruhnews.com) Di balik gegap gempita penampilan kesenian Cing Po Ling yang kini tengah dipersiapkan untuk tampil di Anjungan Jawa Tengah, TMII Jakarta, terdapat kisah panjang yang mengakar kuat dalam sejarah dan budaya lokal Desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Kesenian yang kini dihidupkan kembali melalui generasi muda ini sejatinya memiliki nama asli Krincing Dipo, atau dalam sebutan lain Keling, yang menjadi identitas budaya masyarakat Kesawen sejak zaman kademangan.


Menurut Marwoto, seorang pemangku budaya sekaligus pelaku seni tradisi di daerah kecamatan Pituruh, istilah Cing Po Ling sebenarnya merupakan penyederhanaan dari kata Krincing, yang merujuk pada suara lonceng kecil (krincingan) yang dipakai para penari, dan Dipo atau Keling, yang merujuk pada sosok penari laki-laki berkulit gelap dengan kostum khas menyerupai prajurit atau penjaga kerajaan. “Dulu masyarakat menyebutnya ‘Krincing Dipo’ atau ‘Tari Keling’, karena gerakan dan kostumnya sangat khas, terinspirasi dari budaya luar yang melebur dengan kearifan lokal,” jelas Marwoto.


Marwoto juga menyebut bahwa kesenian ini berkembang pada masa keberadaan Kademangan di Desa Kesawen — struktur pemerintahan tradisional sebelum terbentuknya desa modern. Di masa itu, seni Krincing Dipo bukan hanya sekadar hiburan, melainkan sarana ritual untuk menjaga harmoni masyarakat dan bentuk ekspresi kebanggaan budaya lokal.

“Dulu kesenian ini dimainkan dalam acara-acara adat, bersih desa, hingga penyambutan tamu penting. Setiap gerakan memiliki makna filosofis, dan biasanya dimainkan oleh lelaki, dengan iringan musik gamelan sederhana dan suara krincing sebagai pengiring utama,” imbuhnya.


Namun seiring waktu, kesenian ini sempat mengalami kemunduran hingga nyaris punah. Kini, dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tahun 2021, serta dorongan dari Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, Cing Po Ling kembali mendapat tempat terhormat di hati masyarakat.

Tidak hanya direvitalisasi, tapi juga dimodernisasi dengan sentuhan pendidikan formal — seperti dijadikan ekstrakurikuler di SDN Kesawen. “Kami harap nama aslinya juga tidak dilupakan, karena Krincing Lipo adalah akar identitasnya. Nama boleh Cing Po Ling, tapi ruhnya tetap Krincing Dipo dari zaman Demang Kesawen,” tegas Marwoto.


Dengan rencana pementasan di TMII sebagai Duta Seni Jawa Tengah pada 27 Juli 2025, masyarakat Desa Kesawen tak hanya menampilkan tarian, tetapi mewariskan kembali sejarah dan harga diri budaya lokal kepada Indonesia.

Pituruh News
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
Kunjungi Google News
Berita Terbaru
Memuat berita terbaru...

Ikuti Pituruh News

Temukan informasi terbaru Pituruh News di media sosial

Instagram
@pituruhnews
19K+ Followers
Ikuti Instagram
Data terpantau terbaru
f
Facebook
Pituruh News
25,4K+ Likes
Kunjungi Facebook
Data likes halaman
TikTok
@pituruhnews
Follow Media Sosial
Ikuti TikTok
Cek jumlah follower di TikTok
YouTube
Pituruh News
Subscribe Channel YouTube
Subscribe YouTube
Cek jumlah subscriber terbaru

PITURUH NEWS

AKURAT, BERMARTABAT dan BERMANFAAT
Portal berita lokal yang menyajikan informasi terbaru, aktual dan terpercaya seputar Pituruh, Purworejo dan sekitarnya.
EST. 8 MARET 2017
Pituruh News
Aplikasi Pituruh News
Download aplikasi resmi Pituruh News untuk mendapatkan berita terbaru Purworejo dan sekitarnya dengan lebih mudah langsung dari perangkat Android Anda.
📲 DOWNLOAD APLIKASI
Aplikasi Android • Pituruh News
Ikuti Pituruh News
Pituruh News • Portal Berita Lokal Purworejo
Akurat, Bermartabat dan Bermanfaat
×
Berita Terbaru Update