Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Image Image Image Image Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image

Konsep Jawa Tengah Selatan Dinilai Relevan, KH Chalwani Harap Jadi Pusat Pertumbuhan Baru

Kamis, 08 Januari 2026 | 08:00 WIB Last Updated 2026-01-08T01:00:00Z

 

Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Achmad Chalwani Nawawi.

PURWOREJO – Gagasan pengembangan Jawa Tengah Selatan (Jasela) mendapat dukungan dari Pengasuh Pondok Pesantren An-Nawawi Berjan Purworejo, KH Achmad Chalwani Nawawi.


Menurutnya, konsep Jasela bukan sekadar wacana pembangunan wilayah, tetapi bentuk ikhtiar nyata untuk mengangkat kawasan selatan Jawa Tengah yang selama ini tertinggal dibanding wilayah pantura.


Dukungan tersebut disampaikan KH Achmad Chalwani saat acara Pelantikan Pengurus Pusat Himawan, menanggapi pemaparan konsep Jasela oleh Abdul Kholik, S.H., M.Si., yang menyoroti ketimpangan pembangunan antara wilayah utara dan selatan Jawa Tengah.


Data kemiskinan menjadi indikator mencolok. Jika Kota Semarang mencatat angka kemiskinan sekitar 4 persen, Kabupaten Kebumen masih berada di kisaran 16,76 persen—selisih lebih dari 12 persen yang mencerminkan jurang ketimpangan antarwilayah.


“Konsep Jawa Tengah Selatan ini sangat cocok dan relevan. Wilayah selatan memang sudah terlalu lama tertinggal. Maka ikhtiar seperti ini harus kita dukung bersama dan kita doakan,” ujar KH Achmad Chalwani, Rabu (7/1/2025).


Dalam paparannya, Abdul Kholik menjelaskan bahwa struktur pembangunan Jawa Tengah selama ini terlalu berorientasi ke Semarang sebagai simpul utama. Infrastruktur jalan tol, jalur ekonomi, hingga pusat layanan pemerintahan terkonsentrasi di wilayah utara. Akibatnya, kawasan Banyumas Raya, Kedu, hingga pesisir selatan seolah menjadi “wilayah kosong” dalam peta pertumbuhan.


Ia menegaskan, poros ekonomi selatan lebih realistis jika terhubung ke timur melalui Yogyakarta dan ke barat melalui Purworejo, Kebumen, dan Cilacap. Konsep Jasela menempatkan tiga sektor utama sebagai motor penggerak kawasan selatan, yakni pertanian, kelautan-maritim, dan pariwisata.


Namun, realitas di lapangan masih jauh dari ideal. Nelayan kecil di pesisir selatan sering kali pulang melaut dengan hasil tangkapan di bawah biaya operasional. Infrastruktur seperti breakwater rusak, dukungan balai teknis minim, dan pengelolaan maritim masih terpusat ke wilayah lain.


“Laut selatan sangat luas, ikannya kualitas ekspor. Tapi nelayan kita masih rugi. Pemerintah belum benar-benar hadir,” ungkap Abdul Kholik.


Bagi KH Achmad Chalwani, pembangunan tidak hanya soal infrastruktur dan anggaran, tetapi juga soal niat, ikhtiar, dan doa.


“Usaha itu wajib. Allah memerintahkan kita untuk bergerak, bekerja, dan berikhtiar. Tapi jangan berhenti berdoa,” tuturnya.


Ia berharap konsep Jasela terus diperjuangkan hingga benar-benar terwujud dan membawa perubahan nyata bagi masyarakat selatan Jawa Tengah.


“Mari kita doakan bersama-sama, semoga konsep Jawa Tengah Selatan ini bisa berhasil dan membawa kemaslahatan bagi umat,” pungkasnya.


Wilayah Jasela meliputi Wonosobo, Banjarnegara, Purbalingga, Banyumas, Cilacap, Kebumen, Purworejo, hingga Magelang. Dengan percepatan infrastruktur, konektivitas transportasi, serta penguatan sektor unggulan, kawasan selatan diyakini mampu menjadi pusat pertumbuhan baru yang tidak lagi bergantung pada wilayah utara.


Kontributor: Luthfi 

Editor: TIM PN

×
Berita Terbaru Update