![]() |
| Tradisi Sedekah Mbah Buyut, Warisan Leluhur yang Terus Dijaga Masyarakat Desa Ngampel |
Dalam pelaksanaannya, setiap warga memberikan iuran yang dikenal dengan istilah becer. Dana tersebut digunakan untuk membeli kambing dan memenuhi kebutuhan pelaksanaan tradisi. Sedekah Mbah Buyut dilaksanakan di lima dusun yang ada di Desa Ngampel, yaitu:
Dusun Malang (RW 01)
Dusun Ngampel (RW 02)
Dusun Kuniran (RW 03)
Dusun Wringin Kidul (RW 04)
Dusun Wringin Lor (RW 05)
Khusus Dusun Wringin Lor, pelaksanaan tradisi terbagi menjadi dua lokasi, yakni di RT 13 dan RT 14.
Gotong Royong Menjadi Jiwa Tradisi
Penyembelihan dan pengolahan kambing dilakukan secara bergotong royong oleh masyarakat dengan pembagian tugas yang telah dikoordinasikan oleh masing-masing Kepala Dusun.
Kaum perempuan bertugas membuat bumbu suro sebagai bumbu utama masakan kambing. Perempuan yang membuat bumbu diwajibkan dalam keadaan suci dan terlebih dahulu melaksanakan mandi wajib. Ketentuan tersebut mengandung makna bahwa Sedekah Mbah Buyut merupakan tradisi yang sakral sebagai bentuk permohonan keselamatan kepada Tuhan Yang Maha Esa, sehingga seluruh proses diawali dengan kesucian lahir dan batin.
Sementara itu, kaum laki-laki bertugas menyembelih kambing, memasak, hingga membagikan jangan suro (sayur suro) kepada warga yang telah memberikan becer. Pembagian peran ini melambangkan tanggung jawab laki-laki sebagai pemimpin keluarga sekaligus wujud kerja sama dalam kehidupan bermasyarakat.
Tahlil, Kerja Bakti, dan Slametan
Selain penyembelihan kambing, masyarakat juga melaksanakan tahlil untuk mendoakan para leluhur (Mbah Buyut Desa Ngampel) serta kerja bakti membersihkan makam sebagai bentuk penghormatan kepada pendahulu desa.
Waktu pelaksanaan tahlil dan kerja bakti berbeda di setiap dusun. Ada yang melaksanakannya bersamaan dengan hari penyembelihan kambing, sementara dusun lainnya melaksanakan sehari sebelumnya.
Setelah seluruh rangkaian kegiatan selesai, masyarakat mengikuti slametan, yaitu doa bersama disertai sedekah makanan sebagai ungkapan syukur sekaligus permohonan keselamatan, ketenteraman, dan keberkahan.
Hidangan yang disajikan dalam slametan terdiri dari:
Ayam ingkung
Tumis mi
Tumis kubis
Srundeng (olahan parutan kelapa)
Keunikan Tradisi Sedekah Mbah Buyut
1. Penggunaan Kambing Kendhit
Salah satu ciri khas Sedekah Mbah Buyut adalah penggunaan kambing kendhit, yaitu kambing Jawa berwarna hitam dengan garis putih yang melingkar sempurna di bagian perut tanpa terputus.
Bagi masyarakat Desa Ngampel, garis putih tersebut melambangkan persatuan, kebersamaan, dan eratnya tali persaudaraan antarwarga.
Karena termasuk kambing yang langka dan memiliki harga relatif mahal, saat ini tidak semua dusun masih menggunakan kambing kendhit. Hingga sekarang, tradisi tersebut masih dipertahankan oleh Dusun Ngampel dan Dusun Kuniran, yang menyembelih kambing kendhit secara bergantian setiap tahunnya.
2. Waktu Pelaksanaan
Secara turun-temurun, Sedekah Mbah Buyut dilaksanakan pada hari Jumat Kliwon di Bulan Suro. Namun apabila dalam Bulan Suro tidak terdapat Jumat Kliwon, maka pelaksanaan dipindahkan ke Selasa Kliwon.
Pada tahun 2026, Bulan Suro tidak memiliki Jumat Kliwon sehingga sebagian besar dusun melaksanakan tradisi pada Selasa Kliwon, 7 Juli 2026.
Sementara itu, RT 13 Dusun Wringin Lor dan Dusun Ngampel memilih melaksanakan tradisi pada 10 Muharram (10 Suro), yang pada tahun 2026 jatuh pada 25 Juni 2026. Bagi masyarakat setempat, 10 Muharram diyakini sebagai hari yang penuh keberkahan sehingga dipilih sebagai waktu pelaksanaan penyembelihan kambing.
Perbedaan waktu tersebut menunjukkan bahwa masyarakat tetap menghormati keberagaman tradisi tanpa menghilangkan makna utama Sedekah Mbah Buyut sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur.
Nilai-Nilai Kearifan Lokal
Tradisi Sedekah Mbah Buyut bukan sekadar ritual budaya, tetapi juga mengandung berbagai nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun.
Nilai religius tercermin dari doa-doa yang dipanjatkan kepada Allah SWT sebagai bentuk rasa syukur dan permohonan keselamatan. Nilai budi pekerti terlihat dari penghormatan kepada para leluhur yang telah berjasa membuka dan membangun desa. Sementara nilai solidaritas dan kerukunan diwujudkan melalui gotong royong, kebersamaan, serta kepedulian antarwarga selama seluruh rangkaian kegiatan berlangsung.
Di tengah perkembangan zaman, beberapa unsur tradisi memang mengalami penyesuaian, seperti penggunaan kambing kendhit maupun perbedaan waktu pelaksanaan. Namun demikian, masyarakat Desa Ngampel tetap menjaga esensi Sedekah Mbah Buyut sebagai warisan budaya yang memperkuat identitas desa sekaligus mempererat persaudaraan.
Tradisi ini menjadi salah satu kekayaan budaya dan kearifan lokal Desa Ngampel yang patut dilestarikan agar nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
Penulis : Noviasih Budi Pratiwi
