![]() |
| Tradisi Derep Bareng Jadi Ikhtiar Ranting NU Pogungrejo Membangun Kemandirian Organisasi |
PURWOREJO – Di tengah musim panen padi, Pengurus Ranting Nahdlatul Ulama (NU) Desa Pogungrejo, Kecamatan Bayan, memilih memanfaatkan momentum tersebut bukan hanya untuk menjaga tradisi, tetapi juga memperkuat kemandirian organisasi. Melalui kegiatan Derep Bareng yang digelar pada Sabtu (18/7/2026), para pengurus dan badan otonom NU bergotong royong memanen padi, sementara hasil bawonnya diserahkan seluruhnya untuk kas organisasi.
Kegiatan ini melibatkan Pengurus Ranting NU bersama jajaran Muslimat NU, GP Ansor, Banser, dan Fatayat NU Ranting Pogungrejo. Sejak pagi, mereka turun langsung ke sawah, bekerja berdampingan dalam suasana penuh kebersamaan. Tradisi tersebut telah menjadi agenda rutin setiap musim panen sebagai salah satu upaya membangun sumber pendanaan organisasi yang berasal dari partisipasi para pengurus sendiri.
Ketua Ranting NU Pogungrejo, H. Ahmad Yusuf, mengatakan seluruh peserta mengikuti kegiatan secara sukarela dengan menginfaqkan tenaga dan waktunya selama sehari penuh. Upah panen atau bawon yang diterima kemudian dikumpulkan untuk mendukung berbagai kegiatan dan program kerja ranting.
"Alhamdulillah, hasil bawon hari ini jika diuangkan nilainya sekitar Rp1 juta. Seluruhnya kami masukkan ke kas Ranting NU sebagai penunjang kegiatan organisasi. Ini merupakan bentuk kebersamaan sekaligus ikhtiar agar organisasi memiliki sumber pendanaan yang mandiri," ujarnya.
Menurutnya, nilai utama dari kegiatan tersebut bukan semata-mata besarnya hasil yang diperoleh, melainkan semangat gotong royong dan rasa memiliki terhadap organisasi. Melalui kegiatan sederhana seperti ini, para pengurus dan anggota Banom dapat terus mempererat silaturahmi sekaligus menjaga tradisi yang telah lama tumbuh di lingkungan masyarakat.
Ketua MWC NU Bayan, H. Purwanto, A.M.Pd., memberikan apresiasi atas konsistensi Ranting NU Pogungrejo dalam mempertahankan program tersebut. Ia menilai Derep Bareng menjadi contoh nyata bagaimana organisasi mampu memanfaatkan potensi lokal untuk mendukung keberlangsungan program tanpa meninggalkan nilai-nilai kebersamaan.
Menurutnya, kegiatan tersebut tidak hanya memberikan manfaat secara ekonomi, tetapi juga memperkuat komunikasi, kekompakan, dan semangat gotong royong di kalangan warga Nahdliyin.
Ia berharap tradisi serupa dapat dikembangkan oleh ranting-ranting NU lainnya, khususnya di wilayah Kecamatan Bayan yang memiliki potensi pertanian cukup besar. Dengan memanfaatkan kearifan lokal sebagai kekuatan organisasi, NU dinilai akan semakin mandiri sekaligus tetap hadir dan tumbuh bersama masyarakat.
