Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image

Usia 7 Tahun, Javas Inderatma Wiguna Mantap Menjadi Dalang Cilik, Sang Ayah: Berawal dari Menonton Wayang di YouTube

Rabu, 05 Agustus 2026 | 06:58 WIB Last Updated 2026-08-05T00:16:09Z
Usia 7 Tahun, Javas Inderatma Wiguna Mantap Menjadi Dalang Cilik, Sang Ayah: Berawal dari Menonton Wayang di YouTube
PURWOREJO – Di tengah derasnya arus perkembangan teknologi dan gempuran hiburan digital, kecintaan terhadap budaya tradisional masih tumbuh di hati seorang anak. Dialah Javas Inderatma Wiguna, dalang cilik berusia 7 tahun yang mulai menapaki jejak pelestarian seni pewayangan sejak usia dini.

Javas merupakan putra pasangan Dhian Pangguh Sambodo dan Fitria Mandalika warga Desa Megulungkidul, Kecamatan Pituruh, Purworejo, lahir pada 22 Mei 2019. Saat ini ia duduk di bangku kelas 2 Sekolah Dasar. Meski usianya masih sangat belia, semangatnya dalam mengenal dan melestarikan budaya wayang patut menjadi inspirasi.

Sang ayah, Dhian Pangguh Sambodo, menceritakan bahwa ketertarikan Javas terhadap dunia pewayangan bermula ketika putranya berusia sekitar empat tahun.

"Awalnya karena sering diajak kakungnya menonton pertunjukan wayang melalui YouTube. Dari situ Javas mulai mengenal tokoh-tokoh wayang, alur cerita, hingga akhirnya tumbuh rasa cinta terhadap seni pedalangan," ujar Dhian, kepada wartawan Pituruh News, Selasa, 04/08/2026.

Menurutnya, perjalanan Javas menjadi dalang tidaklah instan. Saat pertama kali belajar mendalang, Javas bahkan belum mampu membaca dengan lancar. Semua dialog, gerakan, hingga adegan harus dihafalkan satu per satu.

"Prosesnya cukup panjang. Banyak tantangan yang harus dilalui, tetapi Javas tidak pernah menyerah. Kami sebagai orang tua hanya berusaha mendampingi dan memberikan semangat agar ia terus belajar," ungkapnya.

Pentas perdana Javas berlangsung saat usianya menginjak enam tahun, tepat pada acara perpisahan di taman kanak-kanaknya. Penampilan tersebut menjadi titik awal perjalanan Javas sebagai dalang cilik yang terus berkembang.

Untuk mengasah kemampuan, Javas kemudian berguru di Sanggar Mekarsari di bawah bimbingan Ki Sunarko. Bersama sang guru, ia telah tampil sekitar enam kali dalam pementasan wayang dengan iringan gamelan lengkap.

Salah satu tokoh yang paling dikuasai Javas adalah Buto Ijo. Karakter tersebut mampu ia bawakan dengan ekspresi, gerakan, dan penghayatan yang memukau penonton.

Dhian berharap kecintaan putranya terhadap wayang tidak hanya menjadi hobi semata, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menjaga warisan budaya bangsa.

"Kami berharap Javas terus rendah hati, rajin belajar, dan mampu menjadi dalang yang membanggakan. Semoga apa yang dilakukan hari ini bisa menginspirasi anak-anak lain agar mencintai budaya Indonesia sejak dini. Kalau bukan generasi muda yang menjaga budaya, lalu siapa lagi?" tutur Dhian.

Dhian juga mengatakan, Bagi Javas, wayang bukan sekadar tontonan. Seni pedalangan menjadi media untuk belajar tentang nilai-nilai kehidupan, seperti keberanian, kejujuran, kebijaksanaan, serta penghormatan terhadap warisan leluhur.

"Langkah kecil yang ia mulai sejak usia dini menjadi bukti bahwa pelestarian budaya dapat dimulai dari keluarga. Dengan dukungan orang tua, guru, dan lingkungan, harapan akan tetap lestarinya seni wayang di masa depan bukanlah sebuah angan. Sebab budaya akan terus hidup, ketika ada generasi muda yang mencintai dan menjaganya dengan sepenuh hati," pungkasnya.
×
Berita Terbaru Update