PURWOREJO – Sebanyak 1.066 siswa SMA Negeri 7 Purworejo tampil dalam persembahan Tari Kolosal “Sapta Gemilang” pada pembukaan Lustrum ke-7 atau peringatan hari jadi ke-35 SMA Negeri 7 Purworejo, Sabtu (5/9/2026).
1.066 Siswa Tampilkan Tari Kolosal “Sapta Gemilang” di Lustrum ke-7 SMA Negeri 7 Purworejo
Tari kolosal tersebut menjadi salah satu persembahan utama dalam rangkaian pembukaan lustrum. Ribuan gerakan yang dilakukan secara serempak menjadi gambaran kekompakan, kreativitas, sekaligus keberanian para siswa untuk mengekspresikan diri melalui seni dan budaya.
Pembina Tari Kolosal, Purnomo Rianto, mengatakan tari kolosal telah menjadi trademark SMA Negeri 7 Purworejo setiap kali menggelar lustrum besar.
“Saya bangga SMA ini punya trademark. Setiap kali lustrum besar, tari kolosal dilakukan oleh seluruh siswa. Dulu juga pernah pada zaman kepala sekolah Bu Nikmah dan itu tersemat dengan indah,” ujarnya.
Menurutnya, tantangan terbesar dalam mempersiapkan pertunjukan tersebut adalah menghadapi karakter generasi siswa saat ini. Namun, kekhawatiran itu terjawab ketika para siswa justru menunjukkan antusiasme tinggi sejak latihan pertama.
“Begitu musiknya der, mereka senang. Semuanya luar biasa,” katanya.
Apresiasi tertinggi, lanjut Purnomo, diberikan kepada seluruh siswa yang rela menggunakan waktu libur setiap Sabtu untuk berlatih. Dari total 1.066 penari, latihan hanya dilakukan selama tiga kali seminggu lalu.
“Mereka berangkat, tertib. Susah anak sekarang ini. Tapi mereka luar biasa,” ungkapnya.
Tari “Sapta Gemilang” sendiri memiliki makna khusus. Kata sapta berarti tujuh, sedangkan gemilang dimaknai sebagai kegemilangan atau puncak prestasi. Nama tersebut sekaligus merepresentasikan Lustrum ke-7 SMA Negeri 7 Purworejo.
Dalam konsep geraknya, tari kolosal ini mengambil pengembangan dari dua Warisan Budaya Takbenda (WBTb) Purworejo, yakni Dolalak dan Cingpoling. Perpaduan tersebut juga terlihat dalam musik pengiring yang menghadirkan nuansa kedua kesenian tradisional tersebut.
“Dari musiknya jelas. Bendene, slompret-e, rebanane, ikan cusut-e, semuanya bernuansa Dolalak dan Cingpoling,” jelas Purnomo.
Ia menyebut SMA Negeri 7 Purworejo memang memiliki karakter kuat sebagai sekolah berbasis budaya. Lingkungan sekolah yang sarat sejarah dan nuansa hijau dinilai turut membentuk karakter serta kreativitas para siswa.
Musik Tari “Sapta Gemilang” digarap oleh Anon Suneko, komposer asal Yogyakarta yang sebelumnya juga terlibat dalam karya tari pada lustrum SMA Negeri 7 Purworejo.
“Dulu saat lustrum, Krida Tanjung, tarinya juga beliau. Yang sekarang, Sapta Gemilang, beliau juga,” katanya.
Menariknya, para siswa tetap mengenakan kaos seragam sekolah dalam pertunjukan tersebut. Menurut Purnomo, pilihan itu sengaja dipertahankan untuk menegaskan identitas mereka sebagai pelajar.
“Kenapa kostumnya tetap kaos seragam sekolah? Karena mereka pelajar,” tegasnya.
Baginya, seni tari tidak semata-mata ditentukan oleh kostum maupun tata rias, tetapi bagaimana seseorang mampu mengekspresikan dirinya melalui gerak yang berirama dan indah.
“Tari itu bukan kostum, bukan rias salon. Menari itu ekspresi gerak yang dituangkan melalui gerak yang berirama dan indah,” ujarnya.
Lebih jauh, Purnomo menekankan bahwa pendidikan tidak seharusnya hanya mengukur kecerdasan anak dari kemampuan akademik seperti matematika atau bahasa Inggris.
Ia mengajak semua pihak melihat potensi setiap anak secara lebih luas, termasuk dalam bidang seni dan budaya.
“Jangan diukur karena dia tidak pandai bahasa Inggris lalu dia anak bodoh, tidak pandai matematika lalu dia anak bermasalah. Kalau anaknya pintar tari, ya biarkan belajar tari,” katanya.
Menurutnya, kekayaan pengetahuan dan kearifan lokal yang diwariskan para leluhur juga perlu terus digali dan diperkenalkan kepada generasi muda.
Ia menilai berbagai pengetahuan tradisional yang berkaitan dengan lingkungan, budaya hingga mitigasi bencana memiliki nilai penting yang tidak boleh hilang begitu saja.
Melalui Tari Kolosal “Sapta Gemilang”, Purnomo berharap masyarakat dapat melihat bahwa anak-anak sekolah memiliki potensi luar biasa ketika diberi ruang untuk berkarya.
Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat mengambil peran sesuai bidang masing-masing dalam menyebarkan hal-hal positif.
“Seniman ya berkaryalah yang baik, guru ya mengajarlah yang baik, wartawan mewartakan yang baik dan bantu kami mensyiarkan hal-hal yang baik,” pungkasnya.