PURWOREJO – SMA Negeri 7 Purworejo menggelar pembukaan Lustrum ke-7 atau peringatan hari jadi ke-35 tahun, Sabtu (5/9/2026). Momentum tersebut dikemas berbeda dengan menampilkan berbagai potensi seni dan budaya yang dimiliki para siswa.
Launching Wisata Heritage dan Sekolah MANTAP, SMAN 7 Purworejo Tandai Lustrum ke-7
Kegiatan diawali dengan upacara yang dikemas dalam bentuk apel. Dalam kesempatan tersebut, para siswa menampilkan tari kolosal sebagai bentuk pemberdayaan potensi seni dan budaya yang selama ini dikembangkan di lingkungan SMA Negeri 7 Purworejo.
Kepala SMA Negeri 7 Purworejo, Hari Peni S. Pamedar, mengatakan kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya sekolah untuk mengembangkan prestasi siswa yang diselaraskan dengan kekuatan budaya.
“Fokus kegiatan hari ini adalah upacara yang kita kemas sedikit berbeda. Jadi bentuknya apel, namun kita memberdayakan potensi anak-anak. Siswa SMA Negeri 7 Purworejo kita gembleng untuk berprestasi, tetapi penyelarasnya adalah budaya,” ujarnya.
Menurutnya, potensi siswa di bidang seni, khususnya menyanyi dan tari, terus digali dan dikembangkan. Salah satunya diwujudkan melalui pertunjukan tari kolosal yang melibatkan para siswa.
Tari kolosal tersebut disutradarai oleh alumni SMA Negeri 7 Purworejo yang telah berpengalaman dalam berbagai pagelaran. Persiapannya dilakukan selama sekitar satu minggu dengan memanfaatkan waktu latihan pada Sabtu dan Minggu.
“Tema upacaranya adalah ‘Sapta Gemilang’, karena kebetulan kami berulang tahun ke-35 atau Lustrum ke-7. Kami berharap civitas atau almamater mengangkasa setinggi langit, setinggi cita-citanya, dan memberi manfaat serta warna bagi Kabupaten Purworejo maupun alumni secara keseluruhan,” katanya.
![]() |
| Kepala SMA Negeri 7 Purworejo, Hari Peni S. Pamedar |
10 Event Telah Digelar, Tiga Kegiatan Masih Menanti
Hari Peni menjelaskan, rangkaian kegiatan Lustrum ke-7 telah dimulai sejak Maret 2026. Berbagai kegiatan telah digelar, mulai dari bakti sosial hingga sejumlah kompetisi yang melibatkan pelajar tingkat SMP.
Beberapa di antaranya yakni lomba PMR, lomba baris-berbaris, basket, futsal, hingga kompetisi basket 3-on-3 yang cakupannya mencapai tingkat Kedu.
Untuk kompetisi futsal, kegiatan tersebut digelar di tingkat Kabupaten Purworejo dengan jumlah peserta yang cukup banyak.
“Kalau ditotal, rangkaian yang sudah kami laksanakan sampai dengan peringatan hari ini adalah 10 event,” jelasnya.
Masih terdapat tiga agenda besar yang akan dilaksanakan. Salah satunya jalan sehat yang diawali dengan lomba lari fun run. Hingga saat ini, peserta fun run tercatat telah mencapai 1.875 orang.
Rangkaian tersebut kemudian dilanjutkan dengan reuni akbar dan ditutup dengan kegiatan Sarvival.
Selain kegiatan olahraga dan sosial, sekolah juga menggelar berbagai kegiatan akademik dan seni. Di antaranya lomba pagelaran seni, lomba mata pelajaran yang dikemas seperti Flash Champion, serta lomba mata pelajaran yang menggandeng Telkomsel.
Sekolah juga menggelar pelatihan menulis tentang cagar budaya. Karya peserta nantinya akan dinilai dalam lomba menulis yang dijadwalkan pada Oktober mendatang.
Sarvival Hadirkan Penyanyi Nasional
Salah satu agenda yang menjadi bagian dari rangkaian Lustrum ke-7 adalah Sarvival, singkatan dari Sarkoro Voice Festival.
Kegiatan tersebut menjadi wadah sekaligus bentuk apresiasi bagi para voicer atau vokalis SMA Negeri 7 Purworejo dan lingkungan sekitarnya.
Untuk kegiatan internal, sekolah sebelumnya telah menggelar mini konser. Sementara Sarvifal eksternal akan dilaksanakan pada 12 September 2026 dan terbuka untuk umum.
Sejumlah penyanyi akan tampil dalam acara tersebut, mulai dari alumni melalui Tio and Friends, kemudian Nadhif Basalamah, hingga penyanyi nasional Denny Caknan.
Hari Peni mengatakan, kegiatan tersebut bukan sekadar hiburan, tetapi juga menjadi sarana pembelajaran bagi siswa mengenai bagaimana mempersiapkan dan menjadi bagian dari sebuah pertunjukan berskala besar.
“Kami berharap anak-anak belajar bagaimana seni pertunjukan yang besar, bagaimana mereka mempersiapkan event seperti tingkat nasional yang diadakan di sekolah, dan bagaimana mereka bersikap menjadi partisipan yang baik,” katanya.
SMAN 7 Purworejo Jadi Sekolah MANTAP
Dalam momentum tersebut, SMAN 7 Purworejo juga memperkenalkan program Sekolah MANTAP, yang merupakan program yang diinisiasi oleh Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah.
Sebagai Sekolah MANTAP, SMAN 7 Purworejo memberikan pembekalan keterampilan bagi siswa yang setelah lulus tidak langsung melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi dan memilih untuk bekerja terlebih dahulu.
Sekolah menggandeng SMKN 3 Purworejo untuk pengembangan keterampilan boga serta SMK Negeri 1 Purworejo untuk keterampilan otomotif, khususnya perawatan kendaraan ringan.
“Setelah kami angket, ada sekitar 10 persen siswa yang ingin bekerja dulu setelah lulus sekolah, untuk mengumpulkan biaya kuliah dengan bekerja. Nah, kami bekali dengan keterampilan sesuai minat mereka,” terang Hari Peni.
![]() |
| Wabup Purworejo Dion Agasi Setiabudi |
Wakil Bupati: SMAN 7 Memiliki Sejarah Panjang Pendidikan
Sementara itu, Wakil Bupati Purworejo Dion Agasi Setiabudi menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Lustrum ke-7 SMAN 7 Purworejo.
Menurutnya, usia 35 tahun merupakan momentum yang sangat matang bagi sebuah lembaga pendidikan. Ia berharap SMAN 7 Purworejo semakin jaya dan konsisten mencetak generasi terbaik Kabupaten Purworejo.
Dion juga menyoroti sejarah panjang sekolah tersebut yang menurutnya tidak dapat dipisahkan dari perjalanan Purworejo sebagai daerah pendidikan.
“Sekolah ini adalah salah satu identitas awal mula Kabupaten Purworejo menjadi kabupaten pendidikan,” ujarnya.
Ia menyampaikan bahwa sejarah sekolah tersebut bahkan telah dimulai jauh sebelum menjadi SMA Negeri 7 Purworejo. Sebelumnya, sekolah tersebut merupakan SPG dan jauh sebelumnya didirikan pada 1915 sebagai HKS, yakni sekolah bagi guru-guru pribumi di Indonesia.
Menurut Dion, sejarah panjang tersebut menjadi amanah bagi kepala sekolah, tenaga pendidik, serta para siswa untuk meneruskan perjuangan para pendahulu yang telah meletakkan dasar pendidikan di Kabupaten Purworejo sejak awal abad ke-20.
Tekankan Pentingnya Akhlak dan Kepedulian Lingkungan
Dion menilai kualitas akademik dan pembangunan pendidikan di SMAN 7 Purworejo tidak perlu diragukan. Namun, ia mengingatkan agar pendidikan tidak hanya berorientasi pada kecerdasan akademis.
“Ketika siswa-siswi nanti sudah lulus dari SMA Negeri 7, suatu saat salah satu dari kalian atau banyak dari kalian akan menjadi pemimpin-pemimpin bagi bangsa ini,” katanya.
Ia berharap SMAN 7 Purworejo tidak hanya membangun kecerdasan akademik, tetapi juga membentuk akhlak dalam arti yang luas.
Menurutnya, pemimpin masa depan harus memiliki karakter dan tidak dibutakan oleh keserakahan maupun kerakusan. Para lulusan juga diharapkan mampu menjadi generasi yang menjaga dan merawat lingkungan.
“Kita jangan menjadi seorang khalifah yang merasa menguasai alam dan bumi ini, tetapi menjadi seorang khalifah yang merawat, mengatur, dan juga ikut menjaga bumi yang kita tinggali dan kita cintai ini,” pesannya.
Dion juga mengajak para siswa membawa nama baik SMAN 7 Purworejo dan Kabupaten Purworejo agar semakin dikenal di tingkat nasional.
Ia berharap pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dan seluruh satuan pendidikan dapat terus bersinergi untuk mempersiapkan generasi menuju Indonesia Emas 2045.
“Indonesia Emas 2045 ini tidak hanya menjadi sekadar jargon, tetapi betul-betul target yang harus kita capai di kemudian hari,” pungkasnya.
Peringatan Lustrum ke-7 SMAN 7 Purworejo pun menjadi momentum untuk merayakan perjalanan 35 tahun sekolah sekaligus meneguhkan komitmen melanjutkan tradisi prestasi, budaya, keterampilan, dan pendidikan karakter bagi generasi masa depan.

