![]() |
Tiga Insiden Warnai Porprov Jateng 2026, KONI Evaluasi SOP Keselamatan Atlet
Dari tiga insiden tersebut, satu terjadi pada cabang olahraga selam dan dua lainnya di cabang pencak silat. Salah satu insiden pencak silat mengakibatkan seorang atlet meninggal dunia setelah menjalani perawatan di rumah sakit. Sementara itu, atlet lainnya yang mengalami kejang setelah benturan kepala dilaporkan menunjukkan perkembangan kondisi yang membaik.
Evaluasi dilakukan KONI Jateng bersama PB Porprov, technical delegate, dan pengurus cabang olahraga pada Rabu (28/10/2026) malam. Pertemuan tersebut membahas pelaksanaan prosedur keselamatan serta kesiapan perangkat pertandingan dan tim medis dalam menangani kondisi darurat.
Sekretaris Umum KONI Jawa Tengah, Budi Santoso, mengatakan setiap cabang olahraga sebenarnya telah memiliki SOP yang mengacu pada ketentuan pengurus besar masing-masing. Namun, menurutnya, penerapan prosedur di lapangan tetap harus mengutamakan keselamatan atlet.
“Keselamatan atlet itu diutamakan. Wasit dan juri yang menentukan penghentian pertandingan harus sesuai prosedur, tetapi aspek keselamatan atlet menjadi prioritas bagi kami di PB Porprov (Jateng),” kata Budi dalam konferensi pers di Semarang, Kamis (29/10/2026).
Ia mencontohkan prosedur pertandingan pencak silat yang mengenal hitungan ketika atlet terjatuh. Dalam kondisi tertentu yang membutuhkan pertolongan medis, wasit diharapkan segera mengambil keputusan agar penanganan dapat dilakukan tanpa menunggu hitungan selesai.
“Begitu jatuh, wasit harus menentukan agar segera ditolong, tidak ada hitungan lagi,” ujarnya.
Menurut Budi, hasil evaluasi akan menjadi bahan rekomendasi kepada pengurus cabang olahraga, baik di tingkat pusat maupun daerah. Apabila terdapat ketentuan yang dinilai berpotensi menghambat penanganan keselamatan atlet, hal tersebut akan disampaikan untuk menjadi bahan perbaikan.
Kepala Dinas Kepemudaan dan Olahraga Jawa Tengah, Aria Chandra, mengatakan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah telah meminta klarifikasi terkait insiden yang terjadi. Evaluasi menyeluruh juga didorong agar kejadian serupa tidak terulang dalam penyelenggaraan kompetisi olahraga mendatang.
Selain itu, panitia penyelenggara telah memenuhi permintaan tambahan tenaga medis dan ambulans dari sejumlah cabang olahraga sebagai bagian dari upaya meningkatkan kesiapan layanan kesehatan selama pertandingan.
“Artinya, kejadian ini tidak boleh terulang pada masa yang akan datang,” tegasnya.
Sementara itu, Ketua KONI Kota Semarang, Arnaz Agung Andrarasmara, menyampaikan duka cita atas meninggalnya atlet pencak silat asal Kota Semarang yang disebut memiliki prestasi di tingkat nasional.
Arnaz meminta semua pihak menghormati proses pemeriksaan yang sedang berlangsung dan tidak terburu-buru menyimpulkan penyebab kejadian. Menurutnya, evaluasi perlu dilakukan secara menyeluruh, termasuk terhadap kesiapan wasit, ofisial, serta tim medis dalam merespons kondisi darurat.
“Sekali lagi, ini bukan menyalahkan siapa-siapa. Wasit-wasit itu harus kita bekali lagi dengan pengetahuan tentang penanganan pertama dan safety first, agar atlet-atlet bisa aman,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa penyelenggaraan olahraga tidak hanya berorientasi pada pencapaian prestasi dan hasil pertandingan. Aspek keselamatan harus menjadi perhatian utama karena menyangkut perlindungan atlet serta masa depan mereka.
Atlet yang Mengalami Kejang Dilaporkan Membaik
Dalam konferensi pers tersebut, Budi juga menyampaikan perkembangan kondisi atlet pencak silat lainnya yang mengalami kejang setelah benturan kepala. Atlet tersebut sebelumnya mendapatkan perawatan di RS Primaya.
Menurut Budi, kondisi atlet menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi fisik, respons, maupun kemampuan berkomunikasi.
“Perkembangan fisik, kondisi, reaksi, dan sebagainya sudah baik. Bahkan sudah bisa berkomunikasi dengan kita juga,” katanya.
Ketua Seksi Kesehatan PB Porprov, dr. Elhamangto Zuhdan, menjelaskan bahwa benturan kepala dapat memicu gangguan aktivitas listrik otak yang berujung pada kejang. Karena itu, penanganan membutuhkan pemeriksaan medis untuk mengetahui kondisi dan tingkat keparahan yang dialami atlet.
Pemeriksaan yang dilakukan antara lain mencakup durasi kejang, respons pupil, tingkat kesadaran, hingga pemeriksaan lanjutan di rumah sakit.
“Pada kasus yang kemarin, setelah dilakukan pemeriksaan, ternyata tidak ditemukan gangguan yang membahayakan. Bahkan sekarang kondisi pasien atau atlet tersebut sudah membaik,” jelasnya.
Elhamangto menambahkan, hingga Kamis (29/10/2026) sekitar pukul 17.00 WIB, tim medis Porprov telah menangani kurang lebih 175 kasus kesehatan selama penyelenggaraan pertandingan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 22 kasus dirujuk ke rumah sakit, sedangkan kasus lainnya dapat ditangani langsung di lokasi pertandingan.
Polisi Periksa Perangkat Pertandingan
Terkait penanganan insiden, Budi menyampaikan bahwa pihak kepolisian telah meminta keterangan dari technical delegate dan perangkat pertandingan cabang olahraga selam maupun pencak silat.
KONI Jateng menyatakan menghormati proses pemeriksaan yang berlangsung dan menyerahkan penilaian terkait kemungkinan adanya pelanggaran atau kelalaian kepada pihak kepolisian. PB Porprov juga memberikan pendampingan hukum dalam proses tersebut.
“Apakah ada dugaan itu, mohon nanti menjadi kewenangan kepolisian,” kata Budi.
Di tengah evaluasi dan proses pemeriksaan tersebut, penyelenggaraan Porprov XVII Jateng 2026 tetap berjalan sesuai jadwal. Hingga Kamis (29/10/2026) siang, sebanyak 23 cabang olahraga telah menyelesaikan seluruh rangkaian pertandingan.
Adapun upacara penutupan Porprov XVII Jateng 2026 dijadwalkan berlangsung pada Jumat (30/10/2026) pukul 19.00 WIB di Kabupaten Kendal.
Evaluasi keselamatan atlet diharapkan menjadi perhatian penting bagi seluruh pihak yang terlibat dalam penyelenggaraan olahraga. Selain memastikan kompetisi berjalan sesuai aturan, kesiapan perangkat pertandingan dan tenaga medis menjadi bagian penting untuk memberikan perlindungan kepada atlet selama bertanding.
