Notification

×

Iklan

Terobosan PJJ, SMPN 40 Purworejo Bentuk Pokjar

Minggu, 09 Agustus 2020 | 08:00 WIB Last Updated 2020-08-09T01:00:03Z
penempelan

KALIKOTES, (pituruhnews.com) - Pandemi Covid-19 mengubah pola pembelajaran dari tatap muka menjadi dalam jaringan (daring). Menyikapi situasi itu, SMPN 40 Purworejo membuat terobosan dengan membentuk kelompok belajar (pokjar).


Kepala SMPN 40 Purworejo Himawan Susrijadi mengatakan, pokjar menjadi bagian dari pembelajaran jarak jauh (PJJ). "Kami memberlakukan kebijakan belajar daring sejak pandemi berlangsung, namun, memang pengamatan kami ada kendala selama pembelajaran daring itu," ungkapnya kepada Pituruh News, Jumat (7/8).

penyerahan


Padahal dalam pembelajaran daring, lanjutnya, inovasi guru, sekolah, dan infrastruktur jaringan internet menjadi tumpuan utama. Seperti di Pituruh, katanya, tidak seluruh wilayah terjangkau sinyal internet.


Selain itu, tutur Himawan, situasi ekonomi masyarakat sedang terpukul akibat pandemi. "Jangankan membelikan android baru untuk sarana belajar anak, bahkan beli paket data pun kadang kesulitan," tuturnya.


Pembelajaran daring juga memiliki kekurangan karena ada bagian pendidikan karakter yang sulit ditransmisikan kepada anak lewat sarana teknologi. "Guru, digugu dan ditiru, terminologi itu yang membentuk karakter anak, dengan melihat langsung kebiasaan, kesopanan, keteladana, dan wibawa guru dalam mengajar, kemudian diaplikasikan dalam hidup sehari-hari. Pola itu tidak mudah dilakukan dalam pola PJJ," terangnya.

pertemuan di desa

Menurutnya, sekolah mencoba membuat terobosan untuk memenuhi kebutuhan internet siswa dengan meminta dukungan pemerintah desa. Kegiatan itu secara simbolis dilakukan di Desa Kesawen, Sumampir, dan Ngampel. 


Selain menyampaikan surat, Himawan memasang stiker pencegahan Covid-19 di kantor desa. "Kami berkirim surat resmi, meminta dukungan dari pemdes, agar anak-anak kami diberi izin menggunakan internet desa untuk mengakses pembelajaran daring," katanya.


Sementara pokjar, tuturnya, dibentuk untuk memudahkan koordinasi anak dalam mengikuti pembelajaran online. Pokjar dibentuk di tiap desa dengan anggota siswa yang tinggal di satu wilayah. Pokjar rata-rata beranggotakan lima hingga sepuluh anak. "Pokjar mengikuti pembelajaran online, lalu ketika ada anak yang tidak paham materi, guru mapel turun ke desa memberi penjelasan," ucapnya.

stiker

Pola PJJ dan pokjar SMP 40 tetap mengedepankan penerapan protokol kesehatan. Siswa dan guru wajib memakai masker, menjaga jarak, memakai face shield dan hand sanitizer. 


Himawan berharap program tersebut bisa menjadi pengisi kekosongan dari pembelajaran daring. Ilmu akan lebih mudah dipahami siswa dan transfer pendidikan karakter pun tetap bisa dilaksanakan meskipun terbatas. "Guru juga lebih bersemangat karena sejatinya mereka amat sangat menikmati proses berbicara secara langsung di hadapan anak didiknya," tandasnya. (lt)

Iklan

×
Berita Terbaru Update