Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Image

Dari Langit Wonosobo, Embun Kenalkan Dolalak dan Harumkan Nama Purworejo Lewat Paralayang

Selasa, 28 Juli 2026 | 15:53 WIB Last Updated 2026-07-28T08:53:52Z
Dari Langit Wonosobo, Embun Kenalkan Dolalak dan Harumkan Nama Purworejo Lewat Paralayang

PURWOREJO – Festival paralayang yang digelar di Desa Lengkong, Kecamatan Garung, Kabupaten Wonosobo, dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Wonosobo ke-201, 25–26 Juli 2026, menjadi panggung istimewa bagi seorang remaja asal Kabupaten Purworejo. Bukan hanya karena kemampuannya menaklukkan langit, tetapi juga karena keberaniannya membawa identitas budaya daerah ke hadapan para peserta dan pengunjung.



Remaja tersebut adalah Embun Alifaturrenaisan (16), pilot paralayang perempuan pertama dan hingga kini satu-satunya yang dimiliki Kabupaten Purworejo. Di tengah puluhan peserta dari berbagai daerah, Embun tampil berbeda dengan mengenakan busana khas Tari Dolalak, kesenian tradisional yang menjadi kebanggaan masyarakat Purworejo.



Sebelum lepas landas, siswi kelas X SMA Negeri 7 Purworejo itu bahkan mempersembahkan tarian Dolalak di hadapan dewan juri. Penampilannya mendapat perhatian karena memadukan olahraga dirgantara dengan pelestarian budaya daerah.



Bagi Embun, mengikuti Paragliding Culture Festival 2026 memiliki arti tersendiri. Ajang tersebut menjadi pengalaman pertamanya tampil dalam sebuah festival budaya setelah berhasil menyelesaikan pendidikan sekolah paralayang di Glide and Fly Yogyakarta di bawah bimbingan instruktur Capung Indrawan.



"Rasanya senang sekali bisa terbang memakai pakaian Dolalak. Ini tarian kebanggaan masyarakat Purworejo, jadi saya ingin ikut mengenalkannya. Saya juga baru pertama kali terbang di lokasi ini, sehingga menjadi pengalaman yang sangat berkesan," ujarnya.



Ketertarikan Embun terhadap olahraga paralayang berawal dari rasa penasaran saat melihat para siswa Glide and Fly berlatih ground handling di Pantai Ketawang, Kecamatan Grabag. Dari sekadar menyaksikan latihan, muncul keinginan untuk mencoba hingga akhirnya ia mulai belajar secara serius.



Perjalanan menjadi seorang pilot paralayang tidak diraihnya secara instan. Embun memulai latihan sejak duduk di bangku kelas VIII SMP atau saat berusia 14 tahun. Ia menjalani penerbangan perdana (first jump) di Take Off Level 1 Waduk Gajah Mungkur, Wonogiri, kemudian rutin berlatih di Bukit Paralayang Watugupit, Gunungkidul, ketika musim angin barat daya tiba.



Untuk memperoleh lisensi, Embun harus melalui serangkaian tahapan, mulai dari ujian teori di Wonogiri, praktik penerbangan dari Puncak Joglo Wonogiri, hingga memenuhi persyaratan sedikitnya 40 kali penerbangan di tiga lokasi berbeda.

Kerja keras tersebut akhirnya membuahkan hasil. Ia resmi mengantongi lisensi pilot PL1 yang diterbitkan Federasi Aerosport Indonesia (FAI) dengan nomor lisensi PG04568.



Setelah berlisensi, Embun terus mengasah kemampuan bersama para penerbang senior di Girisembung, Kalibawang, Kabupaten Kulon Progo. Di lokasi itu pula ia berlatih bersama atlet-atlet nasional, anggota TNI AU, hingga tandem master berpengalaman, termasuk sosok yang menjadi inspirasinya, Liz Adriana.



Keikutsertaan Embun dalam festival budaya di Wonosobo bermula dari informasi yang disampaikan ayahnya. Saat mengetahui peserta diperbolehkan mengenakan pakaian adat daerah masing-masing, ia langsung memutuskan memakai busana Tari Dolalak.



Pilihan tersebut bukan sekadar untuk tampil berbeda. Sejak kecil Embun memang pernah belajar menari, sehingga masih mengingat gerakan-gerakan dasar Dolalak tanpa harus berlatih kembali.



"Saya ingin memperkenalkan Dolalak kepada masyarakat yang datang ke festival. Kebetulan saya juga pernah belajar menari, jadi masih ingat gerakannya," katanya.



Di balik usianya yang masih belia, Embun memiliki cita-cita besar untuk menjadi atlet paralayang berprestasi dan mengikuti jejak para seniornya. Ia berharap semakin banyak perempuan yang berani menekuni olahraga dirgantara serta membuktikan bahwa dunia penerbangan olahraga terbuka bagi siapa saja yang mau belajar dengan sungguh-sungguh.



Ia mengaku selalu mengingat pesan dari instruktur sekaligus mentornya, Capung Indrawan, bahwa keselamatan merupakan hal utama dalam setiap penerbangan.



"Pakde Capung selalu mengingatkan bahwa paralayang membutuhkan disiplin, fokus, dan kepatuhan terhadap SOP. Kita berada di luar habitat manusia, yaitu di udara. Karena itu tidak boleh lengah dan harus terus belajar agar setiap penerbangan tetap aman," ungkapnya.



Melalui penampilannya di langit Wonosobo, Embun tidak hanya menunjukkan keberanian sebagai pilot muda. Ia juga berhasil membawa nama Kabupaten Purworejo semakin dikenal lewat seni Tari Dolalak, membuktikan bahwa olahraga dan budaya dapat berpadu menjadi kebanggaan daerah di ketinggian.

×
Berita Terbaru Update