Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Space Iklan Pituruh News Image Image

HUT KE-67 TSS INDONESIA: Menjaga Persatuan Generasi Muda Lewat Pencak Silat dan Tiga Susila

Minggu, 09 Agustus 2026 | 08:52 WIB Last Updated 2026-08-10T01:53:31Z

HUT KE-67 TSS INDONESIA: Menjaga Persatuan Generasi Muda Lewat Pencak Silat dan Tiga Susila
PURWOREJO – Di tengah derasnya arus modernisasi, Perguruan Seni Bela Diri Pencak Silat Tri Susila Indonesia (TSS Indonesia) tetap memegang teguh cita-cita awal pendiriannya, yakni menyatukan generasi muda. Bukan melalui kekerasan, melainkan melalui pembentukan karakter, pengendalian diri, dan nilai-nilai kesusilaan.


Semangat tersebut kembali ditegaskan dalam peringatan HUT ke-67 TSS Indonesia yang digelar sederhana di Padepokan TSS Indonesia, Kelurahan Cangkrep Kidul, Kecamatan/Kabupaten Purworejo, Sabtu (8/8/2026) malam.


Momentum tersebut menjadi ruang refleksi perjalanan panjang TSS Indonesia. Bagi perguruan ini, pencak silat bukan semata-mata tentang kemampuan bela diri, tetapi juga menjadi sarana membentuk manusia yang mampu mengendalikan diri, menjaga keamanan, serta menciptakan kehidupan yang harmonis.


Berawal dari Keprihatinan terhadap Perpecahan Pemuda


Sejarah TSS Indonesia bermula pada Minggu Legi, 9 Agustus 1959, di Dusun Joho, Kelurahan Cangkrep Kidul, Purworejo. Perguruan tersebut diprakarsai oleh almarhum Tugino, BA, sebagai respons atas kondisi sosial saat itu, ketika perbedaan politik dan kepentingan turut memicu perpecahan di kalangan pemuda.


Penasihat TSS Indonesia, Lasiman, mengatakan lahirnya Tri Susila tidak terlepas dari keprihatinan pendirinya terhadap berbagai kesalahpahaman dan perselisihan yang terjadi di kalangan generasi muda.


“Gagasan tersebut tidak terlepas dari keprihatinan almarhum Pak Tugino, BA, terhadap berbagai kesalahpahaman dan perselisihan yang pernah terjadi di kalangan pemuda,” ungkap Lasiman.

 

Dari keprihatinan tersebut kemudian lahir falsafah Tri Susila, yakni Susila Pikir, Susila Perkataan, dan Susila Perbuatan. Ketiganya menjadi fondasi sekaligus pedoman bagi setiap anggota dalam menjalani kehidupan.


Lasiman menjelaskan, Susila Pikir mengajarkan anggota untuk menjaga pikiran dari niat buruk. Sebab, pikiran yang baik akan melahirkan perkataan dan perbuatan yang baik.


Sementara Susila Perkataan mengajarkan pentingnya menjaga lisan agar tidak menyakiti orang lain. Bahkan dalam kondisi marah sekalipun, seseorang harus tetap mampu berpikir sebelum berbicara.


Sedangkan Susila Perbuatan menekankan pengendalian diri dalam menggunakan kemampuan pencak silat.


“Susila Pikir yaitu menjaga pikiran dari niat buruk. Pikiran baik melahirkan kata dan aksi baik. Susila Perkataan yaitu menjaga lisan agar tidak menyakiti. Bahkan saat marah, tetap berpikir sebelum bicara. Dan Susila Perbuatan yaitu mengendalikan jurus. Kemampuan silat tidak untuk sombong atau merendahkan,” tegasnya.

 

Mengajarkan Pengendalian Diri


Menurut Lasiman, pengamalan tiga susila tersebut pada akhirnya diarahkan pada kondisi netral atau nol, yakni keadaan batin ketika seseorang tidak mudah dikendalikan oleh nafsu maupun pengaruh negatif.


“Kalau tiga susila itu bisa dilaksanakan, insya Allah pemuda akan lebih terkendali, aman, dan mampu menjaga lingkungannya. Walaupun kita benar, walaupun kita bisa pencak, gerak pencak pun harus tetap sopan,” imbuhnya.

 

Kondisi netral atau “nol”, lanjut Lasiman, bukan berarti seseorang menjadi pasif. Justru kondisi tersebut mengajarkan seseorang untuk mampu menempatkan diri secara bijaksana dalam menghadapi berbagai situasi.


“Kalau kita sudah bisa nol, bisa netral, di situlah sebetulnya ada unsur kekuatan ilahiyah yang luar biasa,” ujarnya.

 

Cetak Pesilat Berprestasi dan Beretika


Memasuki usia 67 tahun, TSS Indonesia juga terus melakukan pembenahan dan pembinaan generasi muda. Ketua Umum TSS Indonesia, Eko Satyawan, SP, menegaskan bahwa perguruan tidak hanya ingin mencetak pesilat yang memiliki kemampuan teknik tinggi, tetapi juga memiliki karakter dan etika.


“Harapan saya dalam memperingati harlah kali ini adalah menjadikan pesilat yang tahu diri, tahu adab, serta tahu dan menghormati sesepuh atau gurunya. Menjadi pesilat itu bukan hanya tentang kemampuan bersilat sendiri. Tetapi bagaimana menjadi pesilat yang mandiri, tangguh, tanggap, tanggon, dan trengginas berdasarkan koridor Tri Susila,” ungkap Eko.

 

Menurutnya, nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting bagi anggota TSS agar kemampuan bela diri yang dimiliki dapat digunakan secara bertanggung jawab.


Dalam waktu dekat, TSS Indonesia juga akan menggelar Harlah pada September 2026 dengan agenda longmarch. Kegiatan tersebut diharapkan menjadi sarana mempererat persaudaraan antaranggota sekaligus menanamkan kembali nilai-nilai luhur perguruan.


Dorong Prestasi Atlet


Selain pembinaan karakter, TSS Indonesia juga terus mendorong prestasi di bidang olahraga. Sejumlah pesilat TSS telah aktif mengikuti Popda, berbagai kejuaraan tingkat daerah, hingga kompetisi di luar kota.


Dalam waktu dekat, TSS Indonesia juga akan mengirimkan atlet untuk mengikuti kejuaraan tingkat Provinsi Jawa Tengah di GOR Jatidiri.


Pembinaan dilakukan secara terbuka dan inklusif. TSS Indonesia memberikan ruang bagi berbagai kelompok usia untuk belajar dan berkembang bersama, mulai dari anak usia dini hingga para sesepuh.


“Mulai dari PAUD sampai dewasa atau sesepuh bisa bersama-sama saling mengisi dan belajar bagaimana cara bersilat yang baik,” kata Eko.

 

Menjaga Jati Diri Perguruan


Secara historis, Tri Susila didirikan sebagai respons atas konflik antarkelompok pemuda dan padepokan silat yang dipicu oleh pikiran, perkataan, dan perbuatan yang tidak susila.


Nama Tri Susila sendiri dimaknai sebagai Tiga Rahasia Individu, yaitu Suasana Silaturahmi Tiga Kunci Hidup Manusia.


Dalam perjalanan awalnya, guru besar almarhum Haji Wono Utomo dari Jaya Titis Setia Hati mengamanahkan agar Tri Susila masuk dalam IPSI Kabupaten Purworejo. Langkah tersebut dimaksudkan agar perkembangan pencak silat tetap berada dalam koridor organisasi resmi.


Setelah almarhum Tugino wafat pada 2013, estafet kepemimpinan kemudian dilanjutkan oleh Eko Satyawan hingga saat ini.


Bagi Lasiman, keberhasilan Tri Susila bukan hanya diukur dari aktivitas yang berlangsung di padepokan. Nilai-nilai yang diajarkan harus mampu diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari.


“Semua anggota Tri Susila harus bisa mengamalkan dalam sikap hidup sehari-hari. Kalau tiga susila itu sudah dipegang, insya Allah diri kita aman dan lingkungan kita juga aman,” pungkasnya.

 

Memasuki usia ke-67 tahun, TSS Indonesia pun kembali menegaskan jati dirinya. Pencak silat bukan sekadar seni bela diri, tetapi juga pendidikan karakter.


Tempat generasi muda belajar untuk berpikir baik, berkata baik, dan berbuat baik. Sebuah nilai yang diharapkan mampu terus menjaga persatuan, kerukunan, dan ketenteraman masyarakat Purworejo dan sekitarnya.

×
Berita Terbaru Update