Notification

×

Iklan

Space Iklan Pituruh News Image Space Iklan Pituruh News Image

Pusaka RAA Tjokronegoro I Berusia Dua Abad Dijamas, Tradisi Luhur Warnai Sambut Tahun Baru Jawa

Kamis, 18 Juni 2026 | 18:06 WIB Last Updated 2026-06-18T11:06:45Z

Pusaka RAA Tjokronegoro I Berusia Dua Abad Dijamas, Tradisi Luhur Warnai Sambut Tahun Baru Jawa

PURWOREJO
 – Pusaka peninggalan Bupati pertama Purworejo, RAA Tjokronegoro I, yang diperkirakan telah berusia sekitar 200 tahun, kembali menjalani prosesi jamasan dalam tradisi Jamasan Tosan Aji yang digelar Pemerintah Kabupaten Purworejo melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dindikbud), Kamis (18/6/2026), di Pendopo Rumah Dinas Bupati Purworejo.


Prosesi sakral tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Tahun Baru Jawa 1960 Saka sekaligus bentuk penghormatan terhadap warisan budaya yang telah menjadi bagian dari sejarah lahirnya Kabupaten Purworejo.


Selain pusaka milik RAA Tjokronegoro I, sejumlah koleksi Museum Tosan Aji, termasuk Keris Jalak Tilam, juga turut dijamas. Tradisi ini disaksikan Bupati Purworejo Yuli Hastuti, Wakil Bupati Dion Agasi Setiabudi, Wakil Ketua DPRD Rudi Hartono, Kapolres Purworejo AKBP Widhy Safutra, jajaran Forkopimda, serta tamu undangan.


Kepala Dindikbud Kabupaten Purworejo, Yudhie Agung Prihatno, mengatakan bahwa jamasan bukan sekadar membersihkan benda pusaka, melainkan menjaga nilai sejarah sekaligus menghidupkan filosofi yang diwariskan para leluhur.


"Pusaka peninggalan RAA Tjokronegoro I yang dijamas hari ini diperkirakan telah berusia sekitar 200 tahun. Ini bukan hanya benda bersejarah, tetapi simbol perjalanan panjang Purworejo yang harus terus kita lestarikan," ujarnya.


Menurut Yudhie, tradisi jamasan mengandung pesan agar masyarakat tidak melupakan akar budayanya. Membersihkan pusaka juga dimaknai sebagai ajakan untuk membersihkan hati, melakukan introspeksi, serta mempersiapkan diri memasuki tahun baru Jawa dengan semangat yang lebih baik.


Ia menjelaskan, Museum Tosan Aji Purworejo saat ini menyimpan sebanyak 1.628 koleksi pusaka yang terdiri atas keris, tombak, pedang hingga samurai. Museum juga membuka kesempatan bagi masyarakat yang ingin berkonsultasi maupun belajar mengenai perawatan pusaka bersama para pamong budaya.


Untuk memperkuat nuansa budaya, rangkaian kegiatan turut dimeriahkan dengan penampilan Tari Saparan, seni tradisi Cingpoling, serta pagelaran Wayang Kulit Gagrak Bagelenan. Menurut Yudhie, pemilihan kesenian tersebut merupakan bagian dari upaya memperkenalkan identitas budaya khas Purworejo kepada masyarakat, khususnya generasi muda.


Ia menambahkan, Wayang Gagrak Bagelenan saat ini tengah diusulkan menjadi Warisan Budaya Takbenda Indonesia sebagai bentuk pengakuan terhadap kekayaan seni tradisi yang dimiliki Purworejo.


"Kami berharap anak-anak muda mengenal terlebih dahulu budayanya, kemudian mencintainya, dan pada akhirnya mampu mengambil nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya sebagai pedoman dalam kehidupan," katanya.


Sementara itu, Bupati Purworejo Yuli Hastuti menegaskan bahwa Tahun Baru Jawa merupakan momentum untuk melakukan refleksi diri sekaligus memperkuat komitmen membangun masyarakat yang harmonis, berbudaya, dan berkarakter.


Menurutnya, tradisi Jamasan Tosan Aji mengandung filosofi penyucian diri, pengendalian hawa nafsu, serta menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama, alam, dan warisan budaya.


"Melalui pelestarian tradisi ini, kita tidak hanya merawat benda pusaka, tetapi juga menjaga nilai-nilai luhur yang menjadi identitas masyarakat Purworejo agar tetap hidup dan diwariskan kepada generasi penerus," ujar Yuli.

×
Berita Terbaru Update