![]() |
| Bakso Presiden Viral di Purworejo, Nama Jokowi Ternyata Punya Cerita di Baliknya |
PURWOREJO – Di balik ramainya pembeli dan viralnya nama Bakso Presiden di media sosial, tersimpan kisah panjang perjuangan Dwi Pranang Jaya (37), pemilik usaha kuliner yang berada di wilayah Banyuurip, Kabupaten Purworejo.
Bakso Presiden bukan sekadar nama warung. Bagi Dwi, nama tersebut memiliki sejarah tersendiri yang bermula dari sebuah peristiwa kehilangan sepeda motor saat dirinya masih menjadi pengemudi ojek online pada 2021.
Saat ditemui, Dwi menceritakan bahwa dirinya kehilangan sepeda motor pada Februari 2021. Ketika itu, ia sedang berada di kawasan Jalan Ahmad Yani, tepatnya di depan STM Negeri. Sepeda motornya dibawa kabur oleh seseorang yang disebutnya sebagai "manusia silver".
Kehilangan kendaraan membuat Dwi harus mencari jalan keluar. Ia kemudian membagikan informasi kehilangan tersebut melalui WhatsApp. Kebetulan, dalam daftar kontaknya terdapat sejumlah orang yang bekerja di lingkungan Presiden Joko Widodo, termasuk anggota Paspampres dan orang-orang yang berada di lingkaran Ring 1.
Tak disangka, pesan tersebut mendapat respons.
Salah satu orang yang disebut Dwi sebagai bagian dari lingkungan Presiden Jokowi kemudian menghubunginya dan menanyakan perihal musibah yang dialaminya.
Dwi pun menceritakan kronologi kehilangan motor tersebut.
"Tiga hari setelahnya, beliau datang ke rumah saya dari Jakarta. Kemudian membawakan uang senilai Rp150 juta dari Pak Jokowi untuk usaha," ungkap Dwi.
Bantuan tersebut kemudian menjadi titik balik dalam perjalanan hidupnya. Dwi memanfaatkannya sebagai modal untuk membuka usaha kuliner.
Warung tersebut mulai dibangun pada 2021 dan resmi dibuka pada 10 Oktober 2021.
Nama Bakso Presiden Berawal dari Rasa Hormat
Sebelum menggunakan nama Bakso Presiden, Dwi mengaku sempat memiliki keinginan memberikan nama warungnya dengan embel-embel "Bakso Presiden Jokowi".
Namun, setelah berdiskusi dengan orang yang disebutnya sebagai pihak yang dekat dengan Presiden Jokowi, ia mendapat saran agar tidak menggunakan nama Jokowi secara langsung.
"'Tidak usah dipakai nama Jokowi, Mas. Kalau mau Presiden saja enggak apa-apa,'" kata Dwi menirukan saran yang diterimanya.
Dari situlah kemudian lahir nama Bakso Presiden.
Sejumlah foto Presiden Joko Widodo juga dipasang di warung. Menurut Dwi, hal tersebut menjadi bentuk penghormatan sekaligus ungkapan rasa terima kasih atas bantuan yang pernah diterimanya.
"Di situ ada banyak foto Pak Jokowi. Itu sebagai rasa penghormatan saya," ujarnya.
Pernah Bertahun-tahun Sepi
Namun, perjalanan Bakso Presiden tidak serta-merta langsung sukses.
Dwi mengaku pernah melewati masa sulit ketika warungnya sepi pembeli. Kondisi tersebut berlangsung sekitar dua tahun, terutama sejak 2023 hingga sebelum usaha tersebut mulai viral pada 2026.
Dalam kondisi sepi, Dwi bahkan kerap mengalami hari tanpa satu pun mangkuk bakso yang terjual.
"Sering kita sampai enggak bisa jual satu mangkok pun. Paling banter 20 mangkok, 30 mangkok itu sudah bagus," tuturnya.
Meski demikian, kondisi tersebut tidak membuatnya menyerah. Dwi terus menjalankan usahanya sembari mencari cara untuk memperkenalkan Bakso Presiden kepada masyarakat.
Salah satu strategi yang kemudian membawa perubahan besar adalah pemanfaatan media sosial.
Melalui akun TikTok @Bakso_Presiden.Purworejo, Dwi aktif membuat konten dan mempromosikan berbagai aktivitas maupun menu Bakso Presiden.
Strategi tersebut perlahan membuahkan hasil.
Mulai Viral Maret 2026
Nama Bakso Presiden mulai mendapatkan perhatian luas dan viral di media sosial sejak Maret 2026. Sejak saat itu, jumlah pembeli mengalami peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan masa-masa sebelumnya.
Jika sebelumnya menjual 20 hingga 30 mangkuk dalam sehari sudah dianggap bagus, kini kondisinya berubah drastis.
Dwi menyebut, omzet kotor Bakso Presiden saat ini dapat mencapai sekitar Rp5 juta hingga Rp8 juta per hari.
"Kalau saya katakan, saya berbicara kotor ya, untuk kotor setiap harinya kita mendapatkan sekitar Rp5 juta sampai Rp8 juta," katanya.
Menurut Dwi, lonjakan tersebut menjadi bukti bahwa perjalanan sebuah usaha tidak selalu berjalan mulus. Ada masa ketika harus bertahan dalam kondisi sepi sebelum akhirnya mendapatkan momentum.
Dari seorang pengemudi ojek online yang kehilangan kendaraan, kemudian mendapatkan bantuan modal, membangun warung bakso, melewati masa sepi selama bertahun-tahun, hingga akhirnya viral melalui media sosial, perjalanan Dwi bersama Bakso Presiden menjadi cerita tersendiri tentang kegigihan membangun usaha.
Kini, Bakso Presiden bukan hanya dikenal karena namanya yang unik, tetapi juga karena kisah panjang di balik berdirinya usaha tersebut.
Bagi Dwi, viral bukanlah akhir dari perjalanan. Justru, momentum tersebut menjadi tantangan baru untuk mempertahankan kualitas, pelayanan, dan kepercayaan pelanggan yang telah datang dari berbagai daerah.
