PURWOREJO – Ada cara berbeda yang sedang disiapkan Pemerintah Desa Krandegan, Kecamatan Bayan, Kabupaten Purworejo, untuk menjaga keberlanjutan irigasi pertanian. Bukan hanya mengandalkan anggaran desa maupun bantuan pihak lain, pemerintah desa berencana memanfaatkan sampah rumah tangga sebagai sumber pembiayaan operasional irigasi.
Dari Sampah Jadi Biaya Irigasi, Desa Krandegan Bangun Ekosistem Pertanian Berkelanjutan
Konsep tersebut dibahas dalam rapat koordinasi persiapan musim tanam ketiga (MT III) 2026 yang digelar Pemerintah Desa Krandegan bersama para petani, Senin (10/8/2026) malam.
Rapat yang dipimpin Kepala Desa Krandegan Dwinanto itu membahas sejumlah persiapan menghadapi MT III, termasuk jadwal tanam dan skema pembiayaan layanan pengairan bagi lahan pertanian.
Selama ini, petani di Desa Krandegan mendapatkan layanan irigasi tanpa pungutan. Sejak 2013, biaya operasional pompa air, baik pompa tenaga surya maupun mesin diesel, ditopang melalui dana tanggung jawab sosial perusahaan atau CSR.
Namun, pemerintah desa menilai ketergantungan terhadap CSR perlu mulai dikurangi dengan membangun sumber pembiayaan yang lebih mandiri dan berkelanjutan.
Dari sinilah gagasan pengelolaan sampah kemudian dikembangkan.
Sampah dari Rumah Menjadi Tabungan
Melalui skema yang dirancang, setiap rumah tangga akan didorong untuk memilah sampah sejak dari rumah.
Sampah anorganik yang masih memiliki nilai jual, seperti plastik, kardus, kertas, botol, besi dan berbagai barang bekas lainnya, dikumpulkan secara terpisah.
Selanjutnya, sampah disetorkan satu kali dalam sebulan ke titik pengumpulan yang disediakan di masing-masing dusun.
Sampah yang terkumpul akan ditimbang dan dihitung berdasarkan harga pasar. Hasil penjualan tersebut kemudian dicatat dan dimasukkan ke dalam rekening tabungan warga melalui BMT atau lembaga keuangan yang ditunjuk oleh pemerintah desa.
Dengan sistem tersebut, warga tidak hanya berkontribusi menjaga kebersihan lingkungan. Sampah yang mereka kumpulkan juga memiliki nilai ekonomi dan dapat kembali memberikan manfaat bagi kebutuhan mereka.
Tabungan tersebut nantinya dapat dimanfaatkan untuk membayar biaya irigasi, membayar Pajak Bumi dan Bangunan (PBB), maupun disimpan sebagai tabungan pribadi.
Transparan melalui Sistem Digital
Untuk memastikan pengelolaan berjalan transparan, Pemerintah Desa Krandegan juga menyiapkan sistem digital.
Tim IT Desa Krandegan telah mengembangkan aplikasi yang dapat digunakan untuk mencatat proses penimbangan sampah, nilai hasil penjualan, hingga saldo tabungan setiap warga.
Dengan sistem tersebut, setiap transaksi dapat terdokumentasi dengan baik dan masyarakat dapat mengetahui perkembangan tabungan yang berasal dari sampah yang mereka setorkan.
Digitalisasi ini sekaligus menjadi bagian dari upaya pemerintah desa membangun tata kelola yang lebih transparan, akuntabel dan mudah dipantau masyarakat.
Empat Program dalam Satu Ekosistem
Kepala Desa Krandegan Dwinanto mengatakan, program tersebut bukan sekadar program pengelolaan sampah. Lebih jauh, konsep tersebut dirancang untuk menyatukan berbagai program desa dalam satu ekosistem.
“Ini bukan sekadar program pengelolaan sampah. Kami mengintegrasikan ketahanan pangan, kemandirian energi, pengelolaan sampah, dan digitalisasi dalam satu ekosistem. Sampah yang selama ini dianggap tidak bernilai kami ubah menjadi sumber pembiayaan irigasi, sehingga manfaatnya kembali kepada masyarakat,” kata Dwinanto.
Menurutnya, keberhasilan program sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk memilah sampah dari rumah.
Semakin banyak sampah yang memiliki nilai ekonomi berhasil dikumpulkan, semakin besar pula potensi dana yang dapat digunakan untuk mendukung keberlanjutan operasional irigasi.
Menjaga Sawah Tetap Mendapat Air
Bagi Desa Krandegan, irigasi merupakan salah satu bagian penting dalam menjaga produktivitas pertanian. Karena itu, keberlanjutan pembiayaan pengairan menjadi hal yang harus dipikirkan sejak sekarang.
Program tersebut diharapkan dapat mengubah cara pandang masyarakat terhadap sampah. Barang yang sebelumnya dianggap tidak berguna dapat menjadi sumber pendapatan sekaligus mendukung kebutuhan bersama.
Jika berjalan sesuai rencana, Desa Krandegan berpotensi menerapkan konsep ekonomi sirkular dalam pengelolaan pertanian desa.
Sampah dari rumah dikumpulkan, kemudian memiliki nilai ekonomi. Nilai tersebut masuk ke tabungan warga dan sebagian dapat digunakan untuk mendukung pembiayaan irigasi. Pada akhirnya, manfaatnya kembali kepada masyarakat dan sektor pertanian.
Bagi Pemerintah Desa Krandegan, inovasi tersebut menjadi langkah untuk membangun desa yang tidak hanya bersih dan sehat, tetapi juga semakin mandiri.
Dari sampah untuk lingkungan, dari lingkungan untuk pertanian, dan dari pertanian untuk ketahanan pangan masyarakat.