Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri kebudayaan. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan



Kencrengan merupakan salah satu alat musik kesenian tradisional, kesenian tradisioanl tersebut merupakan penggabungan alat-alat musik tradisi islam, alat-alat tersebut meliputi tiga hingga empat kencreng atau terbang serta satu bedug, begitu masyarakat pada umumnya menyebut dan mengenal alat tersebut.
Istilah kencrengan dengan rebana adalah sebuah nama yang isinya sama, akan tetapi kencrengan tidak dapat dikatakan sebagai rebana, karena seni musik kencrengan merupakan sebuah seni yang hanya biasanya digunakan sebagai pengiring ketika acara sholawat al- Barjanji, tidak dapat digunakan sebagai pengiring acara sholawat simtu duror, seperti pada acara habib syechan seperti biasnya. Hal tersebut dikarenakan jumlah alat serta personil seni musik kencrengan tidak seperti seni musik rebana yang mana personilnya lebih dari 6 yang memainkannya. Disamping itu kelengkapan alat dalam seni kencrengan ini juga tidak selengkap rebana. Istilah kencrengan bisa dimasukkan dalam jenis seni musik rebana, akan tetapi tidak bisa disamakan dengannya. Begitu pula sebaliknya pada rebana.
Alat-alat kecrengan tersebut dibuat dari bahan kayu pilihan, yang mana bentuknya bundar, pipih dan berlubang ditengahnya adalah dikenal dengan istilah kencreng atau terbang. Disatu sisi sebelahnya dalam kencreng atau terbang dipasang kulit yang disamak yang mana biasanya terbuat dari lulang kulit hewan, bisa seperti kulit sapi, kerbau, bahkan kulit kambing pun bisa dengan syarat yang telah dikeringkan dan ditipiskan. Sedang alat kencrengan lainya yaitu budug merupakan alat tradisional yag terbuat dari bahan kayu gelundungan besar, yang mana dibagian tengah sampai ujung-ujungnya berlubang, kemudian disisi-sisinya dipasang dengan kulit lulang yang telah disamak yang mana bahannya tak jauh berbeda dengan alat kencrengan satunya, yaitu kencreng.
Kencrengan biasanya diguanakan atau dimainkan untuk mengiringi acara pembacaan kitab berjanji dalam rangka berjanjen ataupun pada acara maulid Nabi Saw.


Sejarah Kencrengan di dusun Tegal- Karangwuluh_
Berawal dari perkembangan islam di Tanah Jawa, khususnya di Purworejo dan sekitarnya muncullah berbagai kesenian tradisional yang bernuansakan islam. Awal mula tempat dimana muncul tidak begitu begitu jelas diketahui namun yang pasti, kesenian tradisional bernuansakan islam muncul setelah masuknya islam di tanah jawa.
Dusun Tegal-Karangwuluh merupakan sebuah desa pinggiran dikecamatan Kutoarjo, yang mana telah masuk wilayah kabupaten Purworejo, dan merupakan provinsi Jawa Tengah. Dikatakan desa pinggiran karena dusun tegal letaknya berseberangan dengan suatu dusun yang mana kecamatannya telah berbeda, begitu orang-orang mengenalnya. Disamping itu, dusun tegal juga sering dikenal sebagai sebuah dusun yang masih kental dengan berbagai adat kebiasaan islam tanah jawa, ditempat tersebut masih dapat ditemukan berbagai aktivitas masyarakat yang masih mempertahankan kebudayaan nenek moyang mereka yang mana telah memeluk agama islam, berbagai kebudayaan yang masih dapat terlihat misalanya: tahlilan , haul, mengiri pengantin, cukur rambut, nujuh hari, nujuh bulan, ngasih nama, muludan dan lain-lain. Dan kebudayaan tersebut masih terus dilaksanakan turun temurun hingga saat ini.

Namun, walaupun dusun tersebut masih terkenal dan kental dengan adat kebiasaan islam tanah jawa, dusun tegal tersebut tidak dapat diargumenkan dan disamakan dengan kehidupan masyarakat islam tanah jawa terdahulu yang mana penuh dengan kemistikan, banyak sesaji dan sebagainya.
Didusun tersebut hal-hal seperti itu sudahlah tidak lagi terlihat dan ada dalam adat aktivitas keseharian mereka. Mereka tetap melaksanakan adat islam tanah jawa yang mana telah kita kenal namun hanya bagian tertentu saja, tidak keseluruhan adat dalam islam tanah jawa dipraktekan dalam ktivitas kehidupan keseharian. Hal tersebut karena perkembangan pendidikan islam didusun tersebut dapat dikatan cukup signifikan, banyak para pemuda dusun tersebut yang telah berhasil dalam menuntut ilmu agama di berbagai pondok pesantren dipelosok indonesia, di Jawa Timur pada khususnya. Setelah mereka( para pemuda) selesai dalam menuntut ilmu agamanya (atau sering disana dikenal sebagai istilah “mondok”), kemudian mereka kembali kedusun tegal tersebut, dusun dimana asal mula mereka dilahirkan, dan kemudian mereka terjun dalam masyarakat dan dapat dilihat pengaruhnya banyak sedidkit mempengaruhi kehidupan aktivitas keseharian mereka.
Dalam sebuah dialog dengan tokoh masyarakat didusun tersebut diketahui bahwasanya berbagai adat yang ada didusun daerah tersebut muncul tidak hanya dari pengaruh nenek moyang yang menurunkan adat kebiasaanya, namun pengaruh adat kebudayaan dalam masyarakat tersebut juga dipengaruhi oleh kebiasaan para pemuda akibat pengaruh kebudayaan islam saat mondoknya. Konon didusun tegal tersebut adat kebudayaan islam yaitu kencrengan penah fakum dalam beberapa tahun dahulunya, namun karena banyak pemuda yang kemudian bisa karena ilmu dari mondoknya, kemudian adat kebudayaan islam kencrenga didusun tersebut dapat ditumbuhkan kembali dan kemudian dapat berkembang. Dalam perkembangannya tersebut banyak pihak-pihak dari luar dusun yang kemudian datang dan kemudian belajar kebudayaan islam tersebut untuk diterapkan ditempat mereka, terutama banyak yang datang dari dusun sebelah, seperti dari desa Kese, Pogung, dan lainya, yang mana daerah tersebut masih dalam lingkup kabupaten Purworejo.
Adanya adat kebudayaan kencrengan mempengaruhi kehidupan masyarakat didusun tersebut, dengan adanya hal tersebut sekarang banyak pemuda dan tetua dusun sering kumpul bersama sehingga rasa persatuan dan kesatuan pun semakin kuat antar anggota individu dalam dusun tersebut. Dalam masyarakat dusun tegal ini kebudayaan kencrengan menjadi aktivitas mingguan yang sering dilaksanakan, yaitu tepatnya pada malam minggu. dalam acara tersebut masyarakat yang terdiri para pemuda, anak-anak, serta tetua campur baur menjadi satu mengadakan acara berjanjen atau pembacaan al barjanji, untuk kemudian dilanjutkan dengan penabuhan kencrengan ketika mahalul qiyam dalam acara al barjanji tersebut. Acara malam minggu masyarakat dusun tegal mempunyai tujuan yang sangat mulia, mereka selalu ingin berusaha mengisi waktu untuk beribadah, Mereka membolehkan kreatifitas dalam beribadah, seperti dengan pembacaan al barjanji seperti ini misalnya. Mereka tak mudah terpengaruh dengan perkembangan islam di masa kontemporer seperti sekarang, mereka telah yakin bahwasanya acara seperti ini mempunyai nilai kebudayaan yang tinggi dan mereka tidak akan mudah melepasnya begitu saja. Selain itu manfaat lainya dengan acara seperti ini, kemudian akan memperkecil gerak para anak muda untuk mengisi malam holidainya dengan bermain-main keluar, sebagaimana anak muda dizaman sekarang ini. Hingga kemudian dapatlah lebih berarti waktu-waktu anak muda dimasyarakat dusun tersebut.
Alat musik tradisional bernuansa islam ini, juga digunakan sering sebagai penanda telah masuknya waktu sholat, unutk kemudian diharapkan dapat mengingatkan masyarakat yang sedang beraktivitas untuk berhenti sejenak, kemudian melaksanakan sholat secara berjama’ah. Selain itu dalam masyarakat dusun tegal ini, kebudayaan kencrengan ini juga menjadikan alat pelengkap pada berbagai acara keagamaan, misal seperti arak-arakan pada saat khataman, cukur rambut bayi, dan lainya.

Nilai yang terkandung yang dapat diambil_

Bahwasnaya dari study kasus tersebut, Kalau kita teliti, perhatikan, renungi dan rasakan, kebudayaan kencrengan dan acara-acara semacam hal tersebut baik dan bagus sekali, mempunyai nilai-nilai kemasyarakatan yang sudah sewajarnya untuk dijaga bahkan perlu disebar luaskan dengan berbagai perkembangan demi kemaslahatan bersama. Apalagi kalau kemudian acara semacam ini kita jadikan ladang ta’lim dan pencarian cinta, karena dalam acara marhabanan semuanya yang dibaca adalah tentang sejarah Nabi Muhammad saw, mulai dari lahirnya sampai meninggal dunia, ini untuk mengenang dan mengingatkan kembali kepada Nabi kita, agar tumbuh dan bersemi rasa kecintaan dalam hati kita kepada Beliau Nabi Muhammad saw.
Dan saat ini sudah dengan terbentuknya forum yaitu Komunitas Pecinta Kencreng (KPK)yang di dirikan 20 Juni 2013 oleh Mas Bagus Purnomo yang berasal dari Bayem Kutoarjo beliau membuat forum ini agar kesenian ini tidak punah, dengan adanya forum ini semoga bisa mengumpulkan anggota KPK sekabupaten Purworejo
Silahkan lihat Channel Youtube kami di :

KALIKOTES, (pituruhnews.com) - OSIS SMA N 10 Purworejo menggelar Festival Film Pelajar bertajuk Smandasa Short Movie Festival yang diikuti oleh SMP dan MTs di Kabupaten Purworejo, pada Rabu, 30/04/2019.

Penilaian dari festival ini melingkupi beberapa aspek. Adapun aspek tersebut 40% dari workshop untuk menilai sejauh mana anak anak benar-benar menguasai keterampilan sinematografi, 20% dari hal teknis dalam film, dan 40% lagi dari originalitas baik ide maupun editing. Untuk originalitas dilakukan dengan teknik pendalaman terhadap peserta lomba. Selain screening dan penjurian, ada pemaparan materi travel with a purpose, workshop film, dan SSMF in collabs.

Adapun hasil akhir dari penilaian adalah sebagai berikut: Juara I SMP N 21 Purworejo, Juara II SMP N 3, Purworejo, Juara III MTs Maarif Pituruh, Juara IV SMP N 20 Purworejo, Juara V SMP N 40 Purworejo. Peserta juga diberikan waktu untuk presentasi dan tanya jawab tentang film setelah screening.

Peserta Smandasa Short Movie Festival
Dalam sambutannya, Kepala SMA N 10 Purworejo,  Niken Wahyuni, M. Pd menyampaikan, SSMF ini merupakan penyelenggaraan kedua. Beliau berharap semoga SMA 10 dan dinas bisa terus bersinergi serta lebih baik lagi ke depannya.

Selain itu, penyelenggaraan festival film ini juga bertujuan untuk mewadahi peserta didik SMP yang memiliki ketertarikan di bidang sinematografi.

"Sehingga kemampuan yang mereka miliki bisa memberikan hal yang poaitif bagi media sosial," paparnya dalam sambutan.
 
Agung Pranoto selaku
 Kasi Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo
Sementara itu, Agung Pranoto selaku Kasi Kebudayaan, Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo dalam sambutannya menyampaikan, sangat mengapresiasi penyelenggarakan Festival Film "SMANDASA Short Movie Festival 2019", terutama untuk Kepala SMA N 10 Purworejo dan jajarannya.

"Kegiatan ini merupakan wahana yang positif bagi siswa, sebagai ajang kreativitas, pelestarian seni budaya. Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo menyambut baik atas acara ini, karena siswa SMP dan Mts sedang semangat-semangatnya berkarya. Kenapa? Karena kegiatan ini penting dan dinilai positif mencetak generasi muda yang milenial," ungkapnya.

Okta Adetya pembina ekskul sinematografi
Okta Adetya, salah satu pembina ekskul sinematografi sekaligus juri mengungkapkan, saat ini semakin banyak sineas muda berkiprah untuk berperan aktif mengangkat potensi Purworejo. Sebagai milenial yang memanfaatkan sosial media impact, harapannya mereka mampu mengimbangi konten konten negatif yang banyak beredar, dengan konten-konten positif yang sarat akan pesan dan nilai-nilai

"Penyelenggaraan ini merupakan yang kedua, tahun lalu sudah diselenggarakan, alhamdulillah partisipan jauh lebih banyak dan meningkat pesertanya, " ucapnya.

Saat ditemui crew Pituruh News, Okta juga menyampaikan persiapan ini kurang lebih sudah sekitar 3 minggu yang lalu. Distribusi surat pemberitahuan ke sekolah segera dilakukan  pasca mendapat rekomendasi dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo. 

"Sebelum acara ini digelar ada beberapa sekolah yang ikut, namun yang masuk 5 besar adalah Juara I SMP N 21 Purworejo, Juara II SMP N 3, Purworejo, Juara III MTs Maarif Pituruh, Juara IV SMP N 20 Purworejo, Juara V SMP N 40 Purworejo," kata panitia. (ltf)
Advertisement

kerja bakti karang taruna wonosido menjelang kunjungan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Purworejo

WONOSIDO, (pituruhnews.com) Gagasan Bupati Purworejo AGUS BASTIAN, SE, MM, dengan seloganya ROMANSA 2020, berharap disetiap kecamatan yang mempunyai potensi alam yang perlu di kembangkan baik dari Kuliner, Wisata dan Budaya. 

Daerah Pituruh adalah salah satu daerah yang minimnya wisata, namun hal ini tidak menyurutkan niat dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan untuk bisa menambah daerah daerah yang berpontesi wisata, dan Kebudayaan.

Hal itu Dinas Pariwisata dan Kebudayaan mengirimkan surat pemebritahuan kepad Pemerintah Desa Wonosido akan meninjau potensi alam yang di miliknya, akan berkunjung dan meninjau langsung pada Minggu, 22/04/2018.

Mengingat adanya bahwa hari Minggu, 22 April 2018 Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (Disparbud) Kabupaten Purworejo akan meninjau lokasi tempat wisata, maka BUMDes (Unit Pariwisata) meminta bantuan kepada anggota karang taruna untuk kerja bakti menggarap jalan pada hari Sabtu, 21 April 2018.



Dalam kegiatan kerja bakti ini dilakukan dengan sistem bergilir yang melibatkan beberapa RT, yaitu mulai dari RT 01 sampai RT 08.

Sutarto selaku Kepala Unit Pariwisata BUMDes "SIDO MAKMUR" menjelaskan bahwa untuk mengangkat potensi alam dan membangun wisata diperlukan dukungan dan partisipasi dari semua pihak. Beliau berharap agar semua masyarakat bisa segera sadar akan potensi alam dan mengembangkannya dalam sektor pariwisata" Ungkapnya (Ltf-Tofik S)


MEGULUNGLOR, (pituruhnews.com) Islam sebagai sebuah tradisi yang berinteraksi dengan tradisi lain seringkali menciptakan tradisi baru. Sebuah tradisi hasil hibridasi antara Islam di satu sisi dan tradisi lokal pada sisi yang lain. Pada masyarakat Jawa hasil hibridasi ini kemudian dikenal dengan Islam-Jawa yang merupakanbentukan dari akulturasi dengan kebudayaan lokal. Kenyataan ini semakin memperkokoh pandangan bahwa Islam tidaklah hanya berupa sekumpulan doktrin. Melainkan juga, Islam dihayati dan diamalkan oleh para pemeluknya menjadi sebuah realitas kebudayaan. Dengan begitu, akulturasi budaya antara Islam dan kebudayaan lokal adalah bagian dari sekian banyak ekspresi Islam sebagai pandangan hidup dan sumber inspirasi bagi tindakan para Pemeluknya.

Salah satu realitas budaya yang dihasilkan dari kehidupan masyaraka Muslim Jawa adalah seni musik tradisional Jawa-Islam. Ekspresi kebudayaan Islam-Jawa dalam seni musik ini sangat beragam, dan mencerminkan keberagaman “wajah” Islam yang telah beradaptasi dengan budaya lokal. Beberapa kesenian tersebut Kencreng Jidor, rebana, hadrah, gambus, qasidah, gambang shalawatan, kentrung, santiswaran, gending banyumasan, Janengan, rengkong, rampak religi, rodad, dan nasid. Bahkan jenis-jenis musik tersebut saling berkolaborasi untuk menciptakan harmoni musik yang khas. Kekhasan kebudayaan ini merupakan fakta yang tidak terbantahkan dalam perkembangan Islam di Jawa, bahwa berbagai bentuk seni budaya Islam yang berkembang di Jawa tidak terdapat di Arab.


Janeng berasal dari salah satu seni tradisi yang tumbuh dan berkembang di Kebumen. Sebagian masyarakat Kebumen menyebutnya dengan shalawat Jamjaneng, sebagian yang lain menyebutnya dengan Janengan. Meskipun dari segi unsur pembentuknya seni ini mirip dengan seni tradisi lain seperti srakal dan jembrung yang berkembang luas di Jawa Timur dan Jawa Tengah masyarakat Kebumen menyebut seni tradisi ini sebagai khas musik tradisional Kebumen. Hal ini karena seni Janengan tidak berkembang di wilayah lain di sekitar Kebumen seperti Purworejo, Wonosobo, Banjarnegara dan Purbalingga. Sebaliknya hampir di seluruh desa di Kebumen terdapat kelompok Janengan ini. 

Para pemilik tradisi Janengan menuturkan bahwa Janengan merupakan warisan tradisi Islam yang diwariskan oleh nenek moyang mereka sejak masa awal perkembangan Islam. Mereka melihat Janengan sebagai seni khas Islam Kebumen yang sudah barang tentu berbeda dengan seni tradisi lain yang seperti dolalak di Purworejo. Sulit dilacak mulai kapan seni Janengan di Kebumen mulai ada. Para pemilik kelompok dan pemain Janengan tampaknya bersepakat bahwa Janengan berasal dari kata “Zamjani”, nama tokoh yang dipercaya sebagai pencipta musik tradisional Islam-Jawa ini. Tradisi masyarakat setempat mempercayai Syekh Zamjani merupakan tokoh yang memadukan syair-syair yang diciptakan oleh Sunan Kalijaga dan musik Jawa ciptaan Ibrahim al-Samarqandi (Brahim Samarkandi). Tokoh ini diperkirakan hidup pada abad ke-15-16, masa dimana Islam berkembang pesat di Tanah Jawa. 
 
Menurut penuturan tokoh setempat Syekh Zamjani berasal dari Kutawinangun, yaitu tempat asal pendiri Kebumen yang bernama Joko Sangrib. Paduan Syair dan musik Jawa oleh Syekh Zamjani itulah yang kemudian dikenal oleh masyarakat sebagai Janengan. Seni tradisi Janengan sebagaimana seni tradisi lainnya tentu menghadapi tantangan zaman yang sangat berat. Pada awalnya seiring dengan perkembangan Islam di Jawa Janengan berkembang seiring dengan pertumbuhan dan perkembangan Islam-Jawa yang menghasilkan berbagi varian tradisi Islam.

Seni tradisi Janengan memadukan musik Jawa dan syi’iran (singiran). Dalam Janengan lagu syi’iran terdiri dari shalawat dan syi’ir Jawa. Namun juga terdapat lagu-lagu Janengan yang hanya terdiri dari bait-bait lagu syi’ir Jawa. Salah satu teknik menyanyikan lagu-lagu dalam Janengan adalah penyanyi melagukannya dengan suara melengking dan dengan nada yang sangat tinggi. Kemampuan bernyanyi semacam ini jarang dimiliki, para pegiatseni Janengan. Oleh karena itu pemimpin Kelompok Janengan yang ada sekarang kebanyakan telah merubah teknik semacam ini dan menggantinya dengan nada yang lebih rendah dan tidak melengking. Karena alasan ini pula biasanya pimpinan Janengan yang biasanya disebut dengan dalang merupakan orang yang memiliki kemampuan dan kualitas suara melengking. Dalang merupakan pemimpin kelompok Janengan yeng bertugas mengatur irama Janengan dari mulai pembukaan sampai penutup.

Alat yang digunakan yaitu ukel (terbang kecil 1, sedang 1 dan besar). jidor (1 buah). Sedangkan untuk alat musik pukul menggunakan angklung pukul). 

Lagu yang di bawakan Janengan berupa shalawat yang dikomibinasi dengan syair atau yang biasa dikenal dengan singir. Oleh karenanya sebagian masyarakat menyebutnya dengan shalawat Janengan. Dari sudut material naskah lagulagu Janengan sebagaimana naskah-naskah syi’iran yang tersebar pada masyarakat Jawa pada awalnya ditulis dalam huruf Arab pegon. Akan tetapi perkembangan baru masyarakat lebih familiar dengan huruf Latin ketimbang huruf pegon, maka naskah-naskah tersebut ditransliterasi dengan huruf huruf Latin.  

Tidak hanya di lestarikan di Kebuman, Warga masyarakat Purworejo juga ikut dalam menguri uri kesenian ini, salah satu di Desa Megulunglor dan Kalikotes, Kecamatan Pituruh. Setiap dua minggu sekali mengadakan latihan bersama di selingi dengan arisan, agar kesenian tidak punah, 

Harapan dari anggota janeng ini ada yang ikut melestarikan kesenian ini tidak hanya orang tua, anak mudapun juga ikut menjaga dan menguri-uri.

Sumber : http://muslimlokal.blogspot.com/2014/02/tradisi-janengan-di-kebumen.html

PITURUH, (pituruhnews.com) - Dalam rangka menyambut Hari Ulang Tahun Republik Indonesia ke 74, Panitia HUT RI menggelar Festival Lomba Tari Ndolalak Tingkat Kecamatan.

Festival ini digelar selama dua hari, dimulai pada tanggal 14 sampai 15 Agustus 2019, bertempat di Halaman Kecamatan Pituruh.

Kategori yang dilombakan yaitu Sekolah Dasar (SD), SMP, SMA dan Umum. Diikuti 40 SD dan 4 peserta untuk tingkat SMP, SMA dan Umum.
Ketua Panitia HUT RI ke-74
Kusbandono, ketua panitia HUT RI mengatakan, penyelenggara lomba ini merupakan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo, yang bekerjasama dengan Dinas Pendidikan Tingkat Kecamatan.

"Kami yang ada dilapangan, sebagai panitia penyelenggara festival tari ndolalak tingkat kecamatan, " ucapnya,  Kamis siang, 15/08/2019.

Kegiatan ini dikemas dengan tiga sesi, kurang lebih sebulan yang lalu ada sosialisasi tari ndolalak. Dengan sasaran guru sekolah dasar (SD) bersama anak didik yang setiap sekolah mengirimkan tiga peserta. Kemudian untuk sesi selanjutnya diadakan festival tari dolalak yang digelar pada tanggal 14 dan 15 Agustus 2019.
Penonton dan Dewan Juri
Kusbandono juga menambahkan, kegiatan festival ini bertujuan yaitu memberdayakan kesenian khas kabupaten Purworejo.

"Jangan sampai kesenian Ndolalak khas Purworejo Punah, kegiatan ini sekaligus memberdayakan, nguri-uri budaya dari kabupaten Purworejo yaitu Tari Ndolalak. Kegiatan ini sudah serempak dilaksanakan sekabupaten Purworejo, dimasing-masing kecamatan ada kegiatan semacam ini, " imbuhnya.

Dewan juri dalam penilaian festival ini berasal dari Dinas Pariwisata dan Kebudayaan, dengan kategori penilaian wiraga, wirama, wirasa dan penampilan.

Festival ini dimenangkan oleh SD N Blekatuk dengan nilai 1030, juara II SD N I Kaligintung dengan nilai 1013 dan juara III SD N Sikambang nilak akhir 978, untuk kategori tingkat sekolah dasar.
penampilan peserta ndolalak
Sedangkan untuk kategori tingkat SMP, SMA dan Umum dimenangkan oleh SMP N 20 Purworejo dengan nilai 999, juara II SMA N 10 Purworejo dengan nilai 956 dan juara III SMP N 40 Purworejo nilai akhir 940.

Untuk juara harapan I, II dan III diperoleh SD N Megulungkidul nilai 973, SD N Kembangkuning nilai 963 dan SD N Kesawen dengan nilai akhir 957.

"Tari Ndolalak ini, harus selalu kita berdayakan dan lestarikan, supaya tarian satu-satunya khas kabupaten Purworejo ini bisa tetap lestari dan tetap bisa menjadi ikonnya Purworejo, bahkan ikonnya Jawa Tengah, " pungkasnya. (pr-lt)


Foto Peserta Lomba Merangkai Panjang Ilang

MEGULUNGKIDUL, (pituruhnews.com) Kekreatifan ibu rumah tangga di Desa Megulung  Kidul yang diwadahi oleh Pembinaan Kesejahteraan Keluarga (PKK) bersama Pemerintah Desa Megulungkidul, mengadakan lomba merangkai panjang ilang. 

Acara dimulai pada pukul 14.00 bertempat di Balai Desa Megulungkidul. Peserta lomba merangkai panjang ilang tersebut sebanyak 19 kelompok, yang terdiri dari ibu rumah tangga dari tiap Dawis (Dasawisma=10 rumah) di masing-masing RT di Desa Megulungkidul.


Juri Lomba Panjang Ilang (bay)

Juri dalam kegiatan lomba tersebut adalah bapak Dalimin S.Pd dan Tim Penggerak PKK Kecamatan  Pituruh Heni Susiloningsih S.Pd. 

Kategori penilaian dalam lomba tersebut di antaranya adalah ketepatan waktu, kebersihan,  kerapian dan kreatifitas, dengan waktu perlombaan dilakukan selama 20 menit. Dalam perlombaan ini diambil juara 1,2,3 dan harapan 1,2,3. 

Dari hasil penilaian juri, lomba tersebut dimenangkan oleh RT 04 RW 02 (juara 1), RT 01 RW 02 ( juara 2) dan RT 01 RW 01 (juara 3). Selain itu juara harapan dimenangkan oleh RT 02 RW 01 (harapan 1), RT 03 RW 01( harapan 2), RT 02 RW 01 (harapan 3).

 

"Ketua TPPKK Kecamatan Pituruh  Heni Susiloningsih S.Pd, menuturkan sangat mendukung dan bangga dengan PKK Desa Megulungkidul, karena berinisiatif mengadakan lomba merangkai panjang ilang. Lomba rangkai panjang ilang baru pertama kali diadakan di Kecamatan Pituruh. Panjang ilang ini merupakan kebudayaan yang sayang sekali kalau sampai hilang". Ujarnya.

Ibu Rusmiyati selaku Kepala Desa Megulungkidul, mengatakan bahwa tujuan adanya lomba ini adalah sebagai wujud untuk "nguri-uri (melestarikan)" kebudayaan jawa.



 Foto Panjang Ilang (bay)

"Sangat disayangkan sekali kalo tradisi ini hilang, mengingat upacara merti desa biasanya menggunakan tempat nasi plastik, jadi dengan adanya acara ini panjang ilang bisa digunakan dalam acara merti desa" ujar Rusmiyati.

Sementara itu, sebelum diadakan lomba merangkai panjang ilang, semua peserta dilatih terlebih dahulu oleh guru, yang didatangkan secara khusus oleh Tim PKK Desa Pituruh. Katanya (bay-njb-ltf)


MEGULUNGKIDUL, (pituruhnews.com) Uniknya menyambut Dirgahayu Republik Indonesia Ke-73, manula Desa Megulungkidul lomba gojeg lesung yang diselenggarakan oleh Pemerintah Desa Megulungkidul. Lesung merupakan alat tradisional dalam pengolahan padi atau gabah menjadi beras. Fungsi alat ini memisahkan kulit gabah (sekam, Jawa merang) dari padi menjadi beras.

Namun lain yang digunakan jaman sekarang, dijaman modern ini lesung makin ditinggalkan, karena sudah ada mesin untuk menggiling padi.


 Dalam rangka Hari Ulang Tahun Republik Indonesia Ke-73, Pemerintah Desa Megulungkidul berinisiatif mengadakan lomba gojeg lesung untuk melestarikan kesenian dan budaya lokal.

Gojeg Lesung merupakan kesenian musik menggunakan instrumen utama kayu, yang dilubangi layaknya sebuah lesung. Dibunyikan dengan cara ditabuh menggunakan kayu silih berganti sehingga tercipta irama tertentu.


Perlombaan Gojeg Lesung di Megulungkidul, dengan diikuti oleh 9 RT se Desa Megulungkidul, peserta lomba ini pada umumnya merupakan lansia. bertempat di Balai Desa Megulungkidul, pada Sabtu, 18/08/2018 pukul 09.00 WIB.

Peserta yang mengikuti lomba gojeg lesung 10 regu, yang setiap regu diisi minimal 5 orang, dalam setiap regu ada penyanyi dan joged. 

Untuk lagu wajib yaitu Lesung Jumengglung, dan lagu bebas seperti lagu daerah maupun nasional.

Kriteria penilaian ini salah satunya adalah kekompakan, keindahan irama dan lagu, kostum atau seragam.


"Sebagai Nguri-uri kebudayaan yang hampir punah, supaya anak cucu kita tau gunaanya lesung, bahwa sebelum adanya mesin giling ada, untuk menumbuk padi dengan menggunakan lesung," Ujar Kepala Desa Megulungkidul Rusmiyati. 

Kebisaan memainkan lesung ini sudah sejak dulu, untuk yang usia lanjut. Namun menjelang perlombaan ini Pemerintah Desa memanggil guru untuk mengajari cara menabuh lesung lebih enak didengar.

Lomba Gojeg Lesung ini baru pertama kalinya diadakan di Megulungkidul, Nantinya akan di adakan setiap tahunnya atau pada acara tertentu di Desa.


"Untuk meningkatkan semangat kebangsaan, kita sebagai generasi penerus bangsa harus bisa menjaga kebudayaan dan kesenian yang dimilik Negara Republik Indonesia" Ujar Dalimin S.Pd sebagai Juri.

Dengan adanya Lomba Gojeg Lesung bisa menjalin tali silahturahim warga-dusun sesama lansia.

"Kalau sudah memainkan lesung warga bisa merasakan kesegaran" ujarnya (ltf-bay)


Pituruh,(purworejo.sorot.co) -- Arus globalisasi dan informasi berkembang semakin cepat dan tidak dapat dibendung lagi. Bahkan gelombang modernisasi telah menggerus di berbagai lini masyarakat, salah satunya kebudayaan lokal. Tidak sedikit kebudayaan lokal tradisional yang semakin luntur dan lepas dari akarnya seperti kesenian karawitan.

Atas dasar itul Koramil 09 Pituruh menyikapi hal itu dengan menggelar latihan bersama kesenian bersama grup Karawitan Kesawen Pituruh. Danramil 09 Pituruh Kapten Infantri Aryadi mengungkapkan, kegiatan pembinaan yang dilaksanakan secara rutin dengan menggelar latihan kesenian karawitan. Kegiatan tersebut dilaksanakan dalam seminggu sekali setiap Sabtu malam.

Grub karawitan yang ada sudah lama vakum. Berangkat dari keprihatinan ini kita membina masyarakat dan kaum muda untuk ikut melestarikan kesenian karawitan, ungkapnya, Minggu (8/10/2017).
Kapten Infantri Aryadi menambahkan, gelar latihan karawitan tersebut merupakan salah satu wujud konservasi nilai salah satu warisan budaya bangsa yang wajib dilestarikan terutama pada generasi muda sebagai pewaris bangsa.
Dengan latihan bersama dengan anggota Koramil 09 Pituruh, diharapkan akan menjadikan pemicu bagi masyarakat untuk lebih giat dalam menggelar latihan karawitan tersebut. Latihan karawitan antara grub karawitan bersama dengan pihak TNI juga mendapat respon positif dari berbagai pihak.
Semoga kehadiran kami akan bisa membawa manfaat bagi masyarakat Kecamatan Pituruh secara luas, apalagi kerawitan merupakan kearifan lokal yang harus benar benar dilestarikan agar tidak punah dan dilupakan oleh generasu penerus, tandasnya.
Sumber :

purworejo.sorot.co

PURWOREJO, (pituruhnews.com) - Pemerintah Kabupaten Purworejo melakukan pergantian nama sejumlah ruas jalan. Pertimbangan pergantian nama jalan karena nama-nama baru yang digunakan merupakan tokoh-tokoh dari Kabupaten Purworejo. Pergantian nama ruas jalan ini merupakan tindak lanjut dari hasil rapat antara perwakilan dari Dinas Perhubungan, Dinas Kesehatan, DPUPR, Bagian Humas Setda, Dinas Kebudayaan dan BPPKAD pada 23 Desember 2019 lalu.

Ada tiga ruas jalan yang  dilakukan perubahan nama yakni, Jalan dr. Setia Budi yang berada di ruas depan pendopo sepanjang sisi utara Alun-Alun Purworejo, menjadi Jalan R.AA Tjokronegoro dengan dasar hukumnya yakni SK Bupati Purworejo Nomor 160.18/737/2019 tanggal 31 Desember 2019 tentang Penetapan Nama R.AA Tjokronegoro Sebagai Nama Jalan di Kabupaten Purworejo. R.AA Tjokronegoro adalah bupati pertama di Kabupaten Purworejo.
Perubahan Nama jalan
Selanjutnya, ruas Jalan Mranti s.d Bulus yang semula bernama Jalan R. AA Tjokronegoro diganti menjadi Jalan R. Ng Prawironegoro. Adapun dasar hukumnya adalah SK Bupati Nomor 160.18/723/2019 tanggal 26 Desember 2019. Kabag Humas Setda Purworejo, Rita Purnama SSTP mengungkapkan bahwa pertimbangan nama R.Ng Prawironegoro karena beliau  merupakan adik kandung dari R.AA Tjokronegoro. Beliau adalah Wedono Bragolan yang memimpin pembuatan Bedug Pendowo di Masjid Agung.

Selain itu ada juga perubahan Jalan K.H. Wahid Hasyim menjadi Jalan Prof. Dr. N Driyarkara dengan dasar hukumnya adalah SK Bupati Purworejo Nomor 160.18/7/2020 tanggal 9 Januari 2020 tentang Penetapan Nama Prof DR N Driyarkara Sebagai Nama Jalan di Kabupaten Purworejo. Ruas jalan tersebut berada di simpang empat Jalan K.H. Wahid Hasyim depan gereja Santa Maria sampai dengan simpang empat  Jalan Pemuda. 

"Prof. Dr. N Driyarkara merupakan ahli filsafat Indonesia, pendidik dan tokoh agama yang berasal dari Desa Kedunggubah Kecamatan Kaligesing", katanya. 

Selain nama jalan, Pemkab Purworejo juga melakukan sejumlah pergantian nama Gedung yakni, Gedung Kesenian Sarwo Edi Wibowo menjadi Gedung Kesenian WR. Supratman, Gedung Olah Raga WR Supratman menjadi Gedung Olah Raga Sarwo Edi Wibowo, Gedung Pemuda Tjokro Negoro Butuh menjadi Gedung Olah Raga Butuh, dan Rumah Sakit Umum Type C yang di Boro menjadi Rumah Sakit Umum R.AA Tjokro Negoro Type C.

Reporter : Bayun

BANGKOK, (pituruhnews.com) - Malik Khairul Anam, M. Pd pemuda kelahiran Purworejo, 28 Agustus 1990 , yang menjabat sebagai Kepala Desa Megulungkidul, Pituruh Purworejo berhasil terpilih menjadi delegasi pada International Youth Leader atau Program Pemimpin Pemuda Internasional di Bangkok - Thailand.

Program Pemimpin Pemuda Internasional di Bangkok - Thailand digelar pada tanggal 02 Desember sampai 08 Desember 2019. Kegiatan ini diselenggarakan oleh International Youth Program (IYP) dan di dukung oleh Kementerian Pemuda dan Olahraga Republik Indonesia. 
International Youth Leader atau Program Pemimpin Pemuda Internasional di Bangkok - Thailand.
Kegiatan yang dilaksanakan di Bangkok ini antara lain pengabdian sosial pada bidang pendidikan, kebudayaan, sosial, kesehatan dan dunia Internasional. Total ada 26 pemuda asal Indonesia yang diberangkatkan ke Bangkok - Thailand.

Diungkapkan, Malik Khairul Anam melalui pesan singkat whatsaap dengan crew pituruhnews.com, Minggu malam, 08/12/2019 bahwa dirinya merupakan salah satu pemuda yang terpilih sebagai delegasi pada International Youth Leader atau Program Pemimpin Pemuda Internasional di Bangkok - Thailand.
kondisi check out meninggalkan kota bangkok
Indonesia memberangkatkan sebanyak 26 pemuda yang mengikuti acara International Youth Leader atau Program Pemimpin Pemuda Internasional. Mulai dari Aceh, Palembang, Samarinda, Yogyakarta, Malang, Jakarta, Bogor dan Purworejo.

"Kegiatan tidak di kota Bangkok saja, melainkan juga di Petchaburi Thailand. Kegiatan ini merupakan salah satu untuk mengasah skill dan pelatihan kepemimpinan secara Internasional, '' katanya.

"Saya ini lolos seleksi dari peserta berbagai kota di seluruh Indonesia, dan saya mendapat pembiayaan dari program tersebut dari pihak penyelenggara untuk mengikuti acara ini, '' tambahnya.
Advertisement

TERSIDILOR, (pituruhnews.com) - Pageleran Wayang Kulit Ki Dalang Ir. Warseno Hardjodarsono, M.Si, digelar oleh putra asli Desa Tersidilor yang sukses menjadi Wakil Ketua Komisi I DPR RI Dr. Abdul Kharis Almasyhari, di Lapangan Desa Tersidilor, Pituruh, Sabtu, 16/11/2019.

Pageleran Wayang Kulit yang digelar oleh Dr. Abdul Kharis Almasyhari, merupakan tasyakuran di tempat kelahirannya yaitu Desa Tersidilor. Pagelaran wayang kulit yang berjudul "Risang Brotoseno", ini mengisahkan tentang sesorang yang memiliki sifat setia, welas asih, dan penyayang. Ia menyukai tantangan dan memiliki kepribadian yang luwes.

Sebanyak 700 warga masyarakat menyaksikan pagelaran wayang kulit. Turut hadir Direktur Jenderal Informasi dan Pelayanan Publik (Dirjen IKP) Dr. Widodo Muktiyo, Asisten Pemerintahan Gentong Sumharjono SSos MM, Camat Pituruh Yudhie Agung Prihatno, S.STP, Kapolsek Pituruh Iptu Sapto Hadi, S.Pd, S.H.M.H, Danramil/09 Pituruh Kapten Infanteri Maryono, Kepala Desa Tersidilor Drs. H Sumedi M.Pd. 
tamu undangan
Acara yang disisipi kesan humor ini membuat penonton yang menyaksikan merasa terhibur dan tidak bosan serta menambah rasa keharmonisan antar warga Desa Tersidi Lor ini.

Dr. Abdul Kharis Almasyhari, pada saat ditemui crew Pituruh News mengungkapkan bahwa pagelaran wayang kulit ini selain menjadi tonton, bisa menjadikan sebagai tuntunan warga masyarakat Desa Tersidilor dan sekitarnya.

"Dengan adanya pagelaran wayang ini, warga masyarakat bisa berkumpul dilapangan mendengarkan wejangan dari wayang, dan wejangan tersebut bisa menjadi tuntunan oleh masyarakat desa Tersidilor dan sekitarnya, " ucapnya.

"Berharap dengan pagelaran wayang kulit ini, generasi muda yang belum kenal dengan kesenian wayang kulit bisa menjadi kenal dan bangga mempunyai kesenian yang asli dari Indonesia ini, wayang ini merupakan warisan budaya kita yaitu Jawa. " imbuhnya.

"Desa ini dulu pernah ada kesenian sangat maju, khususnya kethoprak yang setiap bulannya tampil di balai desa. Sekarang sudah tidak ada lagi, mudah-mudahan kesenian dan kebudayaan desa Tersidilor bisa dihidupkan kembali, saya hanya nyengkuyung dari jauh." pungkasnya.

Penulis : Ambar Fatma
Editor : Lutfi

PITURUH, (pituruhnews.com) - Gebyar Pentas Kesenian Rakyat "Pituruh Expo 2019", dalam rangka memeriahkan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke 74.

Pada Sabtu, 24/08/2019 pukul 21.00 WIB, Panitia Pituruh Expo 2019 menutup Expo 2019 dengan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk, dihalaman lapangan kecamatan Pituruh. Pagelaran wayang kulit ini dalang Sunarpo Guno Prayitno dari kecamatan Grabag.

Acara penutupan expo ini dihadiri oleh wakil Bupati Purworejo oleh Kabag Hukum Heru Sasongko SH, PLT Camat Pituruh Yudhie Agung Prihatno, S.STP,  Ketua Panitia Expo Muridan, Kapolsek Pituruh Iptu Sapto Hadi, S.Pd, S.H.M.H, Anggota DPRD Dapil V Luhur Tri Endro Sadewo, SP, Akhmad Ngafiffurohman, S.Pd, serta kepala desa se-kecamatan Pituruh.
penonton 
Heru Sasongko, dalam sambutannya menyampaikan banyak terimakasih atas kerjasamanya semua pihak khususnya pemerintah kecamatan Pituruh yang telah menggelar Pituruh Expo 2019.

"Saya berharap, dengan adanya Pituruh Expo 2019 ini, bisa menjadikan salah satu ikon kecamatan Pituruh. Terutama untuk mengenalkan potensi-potensi yang dimilik kecamatan Pituruh, baik dari poduk pokal sampai ke kebudayaan yang ada, " ucapnya.

Ditambahkan, Yudhi Agung Phihatno dalam sambutannya atasnama pemerintah kecamatan Pituruh, ia mengucapkan terima kasih kepada semua masyarakat Pituruh.

"Menurut saya, semangat masyarakat Pituruh dalam rangka memperingati Hari Proklamasi ini pada hakekatnya, mengingat semangat para pahlawan pendiri bangsa dalam berjuang memperebutkan kemerdekaan Republik Indonesia. Sehingga dalam rangka mengisi kemerdekaan banyak dengan cara mengadakan perlombaan sesuai porsinya, " katanya.
Sinden Wayang
Triyono, salah satu warga mengungkapkan bahwa pagelaran wayang kulit tetap rutin diadakan setiap penutupan expo setiap tahunnya.

"Pagelaran wayang kulit ini selain sebagai tontonan dan hiburan kaum sesepuh, hiburan wayang kulit ini sekaligus menjadi ajang pembelajaran bagi kaum muda sebagai generasi penerus yang paham dan cinta akan kesenian yang merupakan warisan dari nenek moyang kita, " katanya.

"Lakon yang dibawakan dalang Sunarpo ini yaitu Wahyu Eka Jati, lakon ini menceritakan tentang siapa sosok pewayangan yang menerima wahyu tersebut maka ia akan mampu untuk menurunkan sekaligus menggantikan posisi ratu di kerajaan tersebut, " paparnya. (pr)
Diberdayakan oleh Blogger.