Menampilkan postingan yang diurutkan menurut relevansi untuk kueri kesawen. Urutkan menurut tanggal Tampilkan semua postingan

Pisowanan di Kadipaten Karangduwur
Kesenian Khas Kabupaten Purworejo
Kesenian ini diduga telah ada / mulai dikenal pada abad XVII. Menurut sejarahnya, kesenian ini bermula ketika Demang[1]Kesawen (Kesawen saat ini menjadi salah satu desa di  Kecamatan Pituruh Kab. Purworejo) mengikuti Pisowanan[2] diKadipaten[3] Karangduwur[4]. Sambil menunggu acara pisowanan tersebut dimulai, Demang Kesawen bersama 3 (tiga) prajuritnya yang bernama Krincing, Dipomenggolo dan Keling melakukan latihan bela diri di lapangan Kadipaten. Ketika mereka sedang asyik berlatih bela diri dan diketahui oleh Adipati Karangduwur, rupanya beliau  tidak berkenan jika Demang Kesawen dan anak buahnya melakukan latihan bela diri di alun - alun Karangduwur. Untuk itu, Adipati memperingatkan kepada Demang Kesawen dan anak buahnya, agar tidak mengulangi kegiatan serupa lagi di masa yang akan datang.

 Demang Kesawen yang Tak Jera

Walaupun telah ditegur oleh Adipati Karangduwur, ternyata Demang Kesawen tidak jera. Pada pisowanan yang akan datang dia berkeinginan untuk kembali melakukan kegiatan latihan bela diri di Alun - alun kawedanan. Untuk itu dia mengajak musyawarah dua orang kepercayaannya yaitu Jagabaya[5] dan Komprang. Hasil rembugan tersebut adalah : Krincing, Dipomenggolo dan Keling akan ikut lagi dalam pisowanan. Untuk itu Komprang akan membuat kegiatan latihan bela diri menjadi sebuah tarian dengan diiringi tetabuhan / musik. Akhirnya terbentuklah tim kesenian yang terdiri dari para prajurit kademangan dengan susunan :
1.    Komprang sebagai sutradara
2.    4 (empat) orang prajurit sebagai pemukul bunyi-bunyian
3.    1 (satu) orang prajurit sebagai kemendir[6]
4.    2 (dua) orang prajurit sebagai pemencak[7]
5.    4 (empat) orang prajurit lainnya sebagai pengombyong[8].
Pada waktu pisowanan, gerak bela diri yang disamarkan dalam bentuk tarian dan musik oleh para prajurit Demang Kesawen terbukti tidak menimbulkan kecurigaan dan kemarahan Adipati Karangdwur. Mereka dianggap sebagai sebuah kelompok kesenian biasa, padahal dibalik penyamaran itu mereka adalah pengawal pilihan dari Demang Kesawen. Semenjak itulah setiap pisowanan ke Kadipaten Karangdwur, Demang Kesawen selalu membawa “Kelompok Kesenian”-nya yang terdiri dari para pengawalnya. Setiap kelompok kesenian ini tampil di acara pisowanan, banyak petinggi Kadipaten yang ikut menontonnya. Hingga Adipati Karangdwur meminta kepada Demang Kesawen untuk melestarikan kesenian tersebut sekaligus menanyakan apa nama kesenian yang mereka bawakan. Demang Kesawen yang merasa tidak tahu menyerahkan jawabannya kepada Jagabaya. Jagabaya menamai kesenian ini Cingpoling. Diambil dari nama 3 (tiga) orang pengawal Demang, yaitu :
Dari nama Krincing diambil suku kata terakhir “CING”
Dari nama Dipomenggolo diambil suku kata terakhir “PO”
Dari nama Keling diambil suku kata terakhir “LING”
Sepulang dari Kadipaten, Demang Kesawen mengadakan syukuran yang meriah untuk merayakan diterimanya Kesenian Cingpoling oleh Adipati.

Fungsi Kesenian Cingpoling
Pada masa lalu, kesenian ini dipergunakan  sebagai pengantar Demang Kesawen dalam melakukan pisowanan. Namun karena terjadi pergantian struktur pemerintahan yang dilakukan oleh penjajah Belanda dan Jepang membuat kegiatan pisowanan tidak lagi dilaksanakan. Pada saat itulah Cingpoling merubah diri menjadi kesenian yang dilakukan oleh masyarakat sebagai bagian dari kekayaan seni dan budaya. Kesenian ini kemudian menjadi sajian pada kegiatan-kegiatan seperti : menyambut tamu, pernikahan, khitanan dan lain-lain, hingga saat ini.

Penari
Penari Cingpoling saat ini adalah masyarakat yang berkeinginan untuk melestarikan kesenian tersebut. Jumlah penari biasanya terdiri dari 9 (sembilan) orang dengan perincian :
1.    1 (satu) orang sebagai kemendir / pembawa payung
2.    2 (dua) orang sebagai pemencak
3.    2 (dua) orang sebagai pengiring
4.    2 (dua) orang sebagai penabuh ketipung
5.    2 (dua) orang sebagai penabuh kêcrék

Profil Grup Cingpoling “Tunggul Wulung”
Grup Kesenian Cingpoling “Tunggul Wulung” berada di Desa Kesawen Kecamatan Pituruh dengan pimpinan Bapak Simun. Grup ini telah berdiri sejak tahun 1957. Didirikan untuk melestarikan kesenian Cingpoling agar tidak punah. Hingga sekarang grup ini masih eksis walaupun para anggotanya telah berusia lanjut.


Perlunya Pelestarian
Cingpoling sebagai sebuah kesenian asli dari Kabupaten Purworejo yang semakin lama semakin sedikit peminatnya, memberikan kepada kita sebuah pesan bahwa kesenian akan lestari jika kita mau dan mampu untuk menjaganya. Pelestarian Cingpoling yang dilakukan oleh warga Kesawen patut kita apresiasi. Sementara uluran tangan dari pihak terkait untuk lebih mengenalkan dan membantu pelestarian kesenian ini menjadi sangat mendesak.


[1] Pejabat setingkat Kepala Desa pada masa lalu.
[2]Sebuah tradisi dalam struktur pemerintahan kerajaan-kerajaan di Jawa, di mana para bawahan adipati/raja datang (sowan) ke istana untuk melaporkan perkembangan daerah yang dipimpinnya. Pisowanan bisa dikatakan sebagai wujud pertanggungjawaban pemimpin-pemimpin daerah kepada pimpinan diatasnya. Setelah mendengarkan laporan dari para bawahannya, adipati/raja biasanya akan memberikan nasehat, teguran, ataupun perintah bagi masing-masing pemimpin daerah.
[3]Pemerintahan dengan kekuasaan setingkat dibawah Kerajaan.
[4] Kesawen kemungkinan besar masuk wilayah Kadipaten Karangduwur (yang meliputi wilayah Kemiri, Pituruh dan sekitarnya.)
[5]Pejabat Kademangan yang bertanggungjawab terhadap Keamanan.
[6]Pembawa payung.
[7] Orang yang melakukan gerakan bela diri/pencak.
[8] Pengantar.

Alat Musik Cing Po Ling

KESAWEN, (pituruhnews.com) - Potensi yang dimiliki Purworejo bukan hanya wisata dan ndolalak, tapi Purworejo ternyata masih memiliki kesenian tradisi lainnya. Seperti kesenian yang dimiliki Desa Kesawen, Pituruh, Purworejo. Kesenian tersebut bernama Cing Po Ling. Kesenian ini merupakan sebuah seni pertunjukan khas Desa Kesawen yang kini semakin terkikis generasi penerusnya, Selasa, (23/10/2018).

Ditengah arus modernisasi, salah satu kesenian khas Purworejo yang berasal dari Desa Kesawen, Pituruh masih tetap eksis meskipun dalam keterbatasan.

Bagi warga Purworejo, mungkin masih asing  dengan mendengar namanya kesenian tradisional Cing Po Ling, karena kesenian tersebut akan terkesan belum familiar. Tapi lain bagi warga kecamatan Pituruh yang sudah melekat dengan kesenian Cing Po Ling ini. Siapa Sangka Cing Po Ling ini berasal dari Negeri Tiongkok.

 Kesenian Cing Po Ling saat pertunjukkan (sumber : http://taricingpooling.blogspot.com)

Kesenian Cing Po Ling merupakan kesenian tradisional yang diyakini warga Desa Kesawen sudah ada sejak abad ke-18. Nama Cing Po Ling diambil dari gabungan tiga nama pengawal setia Ki Demang Kesawen, yaitu Cing dari nama Krincing, Po dari nama Dipo dan Ling dari nama Keling.


Tari dari Kesenian ini terbilang lampau, dilestarikan dan dikelola oleh grup kesenian "TUNGGUL WULUNG", yang diketuai oleh bapak Simun (80) atau yang dikenal dengan Mbah Simun.

''Cing Po Ling ini sudah dari dulu ada, sepengetahuan saya, sudah generasi ke enam dan bapak saya juga dulu pemai Cing Po Ling-an" Ujar Simun, pada saat ditemui tim pituruhnews.com, Jum'at (19/10/2018).

Pada saat ditemui, Simun bercerita bahwa kesenian tradisional Cin Po Ling ini berasal dari kisah seorang Demang Kesawen beserta pengawalnya beberapa abad lalu yaitu sekitar abad 18. Dimana Ki Demang akan menghadiri pertemuan di keraton. Karena membawa tiga pengikut, Ki Demang dicurigai oleh prajurit sandi hingga mendapat peringatan dari Sinuwun. Bahkan ada kabar akan dicopot dari jabatannya. Kemudian Ki Demang melakukan penyamaran agar ketiga identitas pengikutnya tidak terbongkar. Dia menyiapkan tatanan gerak meniru tarian atau jogedan dari semua pengikut Ki Demang. Supaya tidak curiga senjata yang mereka bawa juga disamarkan menjadi berbagai peralatan tari Cin Po Ling. Seperti kayu untuk memasang bendera merupakan tombak, slompret atau seruling sebagai tulup. 

”Jadi kesenian Cing Po Ling ini bisa disebut kesenian bersifat keprajuritan,” ujar Simun.

Kesenian Cing Po Ling ini beda dengan kesenian yang ada di Purworejo, seperti ndolalak dan kuda kepang, yang biasanya menggunakan panggung. dan bahkan tidak unsur berbau mistis seperti kesurupan. Simun menjelaskan bahwa Cing Po Ling ini biasa dimainkan di lapangan, ataupun untuk mengiringi kegiatan karnaval hari Kemerdekaan dan arak-arakan khataman qur'an.

 
 Kesenian Cing Po Ling saat pertunjukkan (sumber : http://taricingpooling.blogspot.com) 

Durasi yang dimainkan Cing Po Ling ini kurang lebih 30 menit, tetapi jika durasi yang di butuhkan lebih lama, maka gerakan dari tarian Cing Po Ling akan diulang kembali. Dalam tari Cin Po Ling terdiri maksimal 11 penari laki-laki yang terdiri dari seorang pemayung, dua orang pemencak, dan delapan orang penari yang berbaris berpasangan. Cin Po Ling biasanya  dimainkan tidak lebih dari 11 orang asal dalam bilangan ganjil. 

"Penari dari Cing Po Ling ini rata-rata bekas penari dari ndolalak dan kuda lumping, karena memang kekurangan penari," Katanya.

Meski banyak bermunculan pertunjukan modern, kesenian Cing Po Ling yang berasal dari Desa Kesawen masih banyak penggemar, bahkan sampai saat ini kesenian Cing Po Ling masih menampakkan ke eksisannya di berbagai kegiatan, baik kegiatan tingkat desa, kecamatan, kabupaten, bahkan sampai ke luar daerah Purworejo seperti Kebumen, dan Semarang.

Penghasilan yang didapat dar kesenian Cing Po Ling ini tidak banyak, mulai dari upah hanya dari Rp. 50 ribu dan dibagi dengan semua pemain Cing Po Ling.

Berharap kesenian Cin Po Ling yang berasal dari Desa Kesawen tetap lestari sampai kapanpun.

”Ini adalah warisan orang tua, dados coro kulo ampun ngantos punah lak punah kan mangke telas, mergo namung niki satu-satune (jadi menurut saya jangan sampai punah, kalau punah nanti habis, karena hanya ini satu-satunya),” Harap Mbah Simun.

Simun juga berterima kasih kepada pemerintah desa hingga kabupaten yang peduli pada Cin Po Ling. Bahkan kesenian Cin Po Ling yang ia ketuai mendapatkan dana tiap tahun dari pemerintah sebesar Rp 2 juta. Selain itu, banyak dari kalangan mahasiswa hingga siswa sekolah dasar yang mendatanginya untuk belajar tentang Cin Po Ling. 

"Simun yang hanya tinggal bersama istrinya dengan senang hati memberikan informasi kepada siapaun yang datang untuk belajar tentang kesenian Cin Po Ling," Ujarnya.

 
 Kesenian Cing Po Ling saat pertunjukkan (sumber : http://taricingpooling.blogspot.com)  

Sementara itu salah satu warga Pituruh, Salim Mufid Anwari (26) mengungkapkan, dulu dirinya sering menonton Cin Po Ling, bahkan sudah menjadi kebanggaan warga Pituruh. Namun, kini dirinya sudah jarang mendengar adanya pertunjukan Cing Po Ling. Padahal menurutnya sangat menarik ditambah dengan alunan musik Cing Po Ling.

“Setau saya  Pertunjukkan Cing Po Ling itu memang nada iramanya seperti itu, jadi saya juga nggak tau kalau ada latar sejarahnya,” Katanya. (ltf)
Advertisement


KESAWEN, (pituruhnews.com) - Bertempat di Halaman Balai Desa Kesawen, Pemerintah Desa Kesawen melaksanakan Penyerahan Bantuan Program Peningkatan Pendapatan Masyarakat Miskin (PROPENDAKIN) Tahun 2018, Selasa, 04/12/2018.

Penyerahan bantuan ini dihadiri oleh Camat Pituruh Siti Choeriyah, S.STP MM, Kepala Desa Kesawen Mohamad Wahidin beserta perangkat, Pendamping Lokal Desa Isnan Fauzi dan penerima bantuan 10 warga miskin.

Total bantuan untuk masyarakat miskin desa Kesawen sebanyak 25.000.000 yang meliputi 10 penerima masyarakat miskin, masing-masing menerima bantuan sebanyak 2.000.000 (termasuk pajak). Dana yang digunakan untuk bantuan tersebut dari keuangan kabupaten sebesar 25.000.000 (20.000.000 untuk bantuan dan 5.000.000 juta operasional, sesuai dengan peraturan yang berlaku). Khusus untuk desa Kesawen semua bantuan ini berupa kambing, karena sebagian warga Kesawen melihara ternak kambing. Pemberi bantuan disesuaikan dengan kebutuhan masyarkat miskin sehingga tetap sasaran dan meningkatkan perekonomian.


Pemberian bantuan ini sebisa mungkin masyarakat memelihara dengan sebaik-biaknya sampai berkembangbiak.

"Masyarakat diilarang menjual sebelum dikembangbiakan dan bila terjadi kematian di mohon menghubungi pemdes untuk di buat berita acara" Ujar Isnan.


Kesawen - Pemerintah Desa Kesawen,  Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo memasangan spanduk Infografik APB Desa Tahun 2017 , pemasangan spanduk ini berlokasi di pertigaan arah ke desa Kesawen. Setelah RKP Desa ditetapkan maka dilanjutkan proses penyusunan APB Desa. Rencana Kegiatan dan Rencana Anggaran Biaya yang telah ditetapkan dalam RKP Desa dijadikan pedoman dalam proses penganggarannya. tujuan agar warga masyarakat desa kesawen tahu pembelajaan  anggaran pendapatan dan belanja desa (APB Desa) merupakan rencana anggaran keuangan tahunan pemerintah desa yang ditetapkan untuk menyelenggarakan program dan kegiatan yang menjadi kewenangan desa. 
Mohamad Wahidin Selaku Kepala Desa Kesawen menerangkan dengan pemasangan spanduk ini agar semua tahu APD Desa yang dikelola dan dilaksankan oleh pemerintah desa kesawen, dikelola dengan baik dan terbuka. Kepala desa juga memberikan semboyan "Bareng Bareng Nyengkuyung Mbangun Desa" (lf)



KESAWEN, (pituruhnews.com) Minggu, 1/04/2018 di Masjid Al-Ikhlas Desa Kesawen Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo Jawa Tengah telah di laksanakan kegiatan peringatan Isr’a Mi’raj Nabi Besar Muhammad SAW, Khotmil Qur'an dan Pawai Ta'aruf. dengan penceramah oleh bapak. Kyai Fatdul Bahri dari Desa Kepuh,  Kecamatan Kutoarjo dlbertema " Hikmah dari Isr’a  Mi’raj ". dihadiri oleh Kepala Desa Kesawen, Perangkat Desa dan 250 undangan. meliputi unsur Tokoh Masyarakat , Tokoh Pemuda , Tokoh Agama dan Warga Masyarakat.

Pengamanan Pawai Ta'aruf oleh anggota Polsek, dan Koramil Pituruh di bantu Linmas Desa Kesawen. anggota ini melakukan pengawalan dan penjagaan di pinggir jalan yang menjadi route perjalanan arak arakan agar berjalan lancar dan tertib.

Khotmil Qur'an di ikuti oleh 6 santri dengan menaiki kuda, di iringi oleh 6 grup kencreng, dan kesenian cing pho ling dari Kesawen. route menuju ibu kota Kecamatan dan  mengelilingi Desa sejauh 8 km.

Kapolsek Pituruh Akp Junani Jumantoro menyampaikan kepada seluruh anggota Bhabinkamtibmas di desa binaanya agar selalu  memberikan pengamanan setiap kegiatan keagamaan terutama yang arak arakan yang menggunakan fasilitas jalan raya agar berjalan lancar dan tertib.

Foto Bersama Peserta Pelatihan / Foto Purwanto
KESAWEN, (pituruhnews.com) - Upaya meningkatkan Kapasitas Pengurus Bumdes, ada dua desa di kecamatan Pituruh yaitu Bumdes Berkah Mandiri Desa Girigondo dan Bumdes Sumber Rejeki Desa Kesawen adakan Peningkatan Kapasitas pelatihan pengurus Bumdes yang bertempat di Balai Desa Kesawen. (17/12/2018)

Pelatihan pengurus Bumdes bernarasumber dari Pendamping Desa Kecamatan Pituruh bapak Muhammad Malik dan bapak Zainal Arifin, yang dihadiri Kepala Desa Kesawen beserta perangkat, Sekdes Girigondo, PLD Isnan Fauzi, Direktur Bumdes Berkah Mandiri Desa Girigondo beserta anggota dan Direktur Bumdes Sumber Rejeki Desa Kesawen.
Proses Pelatihan / Foto Purwanto
Dengan adanya pelatihan tersebut pengurus Bumdes akan mengetahui Tata Kelola Bumdes dari tahap tata pengurus, manajemen sumber daya manusia, manajemen Keuangan, pembuatan Standar Operasi Pelaksanaan (SOP) sampai tahapan LPJ (Laporan Pertanggung Jawaban) akhir tahun.

Harapan setelah Pelatihan, unit usaha Yang akan dikelola oleh Bumdes nantinya akan berjalan sesuai yang diharapkan baik dari segi hasil usaha hingga tranparansi pelaporan hasil usaha.

Penulis : Purwanto (Perangkat Desa Girigondo
Editor : ALK

Prosesi Upacara
KESAWEN , (pituruhnews.com) - Selasa,(19/03/2019) pada pukul 10.30 WIB, Serda Hendro Suntojo anggota dari Kodim 0602/Serang REM 064/MY menghembuskan nafas terakhirnya.

Putra bapak Sumarmo dan Ibu Tumarsiah mengalami sakit dan sempat dirawat di Rumah Sakit Gatot Subroto Jakarta yang pada akhirnya meninggal dunia. Serda Hendro Suntojo dengan alamat lengkap desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo selama ini bertugas di Kodim Serang.
Upacara Militer / Pur
Serda Hendro Suntojo lahir di Bandung pada 17 Februari 1972 dan meninggal di usia 47 tahun. Jabatan terakhir  Serda Hendro Suntojo yaitu Babinsa Ramil 0217/Walantaka, dengan bintang jasa yang dimiliki beliau yaitu Setya Darma Nusa.

Pemakaman Alm. Serda Hendro Suntojo dilakukan pada Rabu, (20/03/2019) pukul 11.00 WIB, desa Kesawen, Kecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo. Pemakam juga dilakukan Upacara secara Militer, dihadiri oleh Danramil/09 Pituruh Kapten Infanteri Maryono bersama anggota, keluarga besar Kodim 0708 Purworejo dan Kapolsek Pituruh berserta anggotanya.
Pemakaman Serda Hendro Suntojo di Desa Kesawen
Suasana haru menyelimuti pemakaman almarhum. "Selamat jalan Serda Hendro Suntojo semoga ditempatkan disisi terbaik Tuhan dan diterima amal ibadahnya,"Ucap Danramil Maryono. (pr-gns-ltf)

 
Kesawen - Jum’at,17/11/2017 pukul 14.00 wib Waka Polsek Iptu Harri Isworo ,SH bersama Kasi Humas Aiptu Sugiyanto patroli kewilayahan antisipasi longsor di Desa Kesawen Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo Jawa tengah di jalan Desa Kesawen menuju Desa Kaliglagah di temukan pengerjaan  peningkatan jalan dan jembatan yang sedang di bangun oleh CV “Taktis Purworejo” dengan direktur bapak Feri Setiawan dan pengawas lapangan bapak Rudi Santoso bersama 16 orang tenaga  yang sedang mengerjakan jembatan pada bentangan 6 meter lebar 2,5 meter.
Waka Polsek Iptu Harri Isworo ,SH menyampaikan Kamtibmas bahwa perbaikan peningkatan  jalan yang baru di bangun belum selesai seratus persen agar bisa lewati warga masyarakat yang menggunakan roda dua saja untuk kendaraan roda empat dan roda enam sementara di alihkan melalui jalan yang ke arah jalan Kalikotes apa lagi jembatan yang baru di bangun total belum bisa di lewati baru tahap pondasi, pengendara sepeda motor yang dari arah Desa Pamriyan yang akan turun ke Pituruh atau sebaliknya merasa terbantu karena tidak jalan  memutar hanya kendaraan mobil yang total belum bisa lewat.
Iptu Harri Isworo, SH juga menyampaikan dari ujung jalan agar di berikan rambu peringatan agar kendaraan roda empat tidak bisa melintas sementara jembatan belum jadi dan pada malam hari supaya di beri lampu penerangan agar pengendara sepeda motor dapat mengurangi kecepatan nya dan lebih berhati hati.

Editor by : tribratanewspurw
Sumber repost : Tribratanewspurworejo.com


PITURUH, (pituruhnews.com) Menyambut HUT RI ke-73, dibawah naungan Muspika Kecamatan Pituruh, dengan mengadakan pertandingan sepak bola mini tingkat sekolah dasar (SD) beda dengan futsal, Namun sepak bola mini merujuk kepada cabang olahraga yang dipertandingkan dalam POPDA tingkat SD se Indonesia.

Diikuti oleh 32 sekolah dasar se Kecamatan Pituruh. Jumlah setiap pemain berjumlah 7 orang dalam satu tim sepak bola.

Pertandingan sepak bola mini dilaksanakan selama lima hari. Di mulai pada hari  Rabu, 01/08/2018 sampai  Sabtu, 04/08/2018.



Acara pertandingan sepak bola mini ini di selenggarakan setiap 1 tahun sekali, dalam rangka memperingati HUT Republik Indonesia.

Untung selaku guru pembimbing  dari SD Kesawen menjelaskan sistem yang digunakan dalam pertandingan sepak bolan ini yaitu sistem gugur, tidak ada babak penyisihan. Namun Babak penyisihan digunakan dalam sistem grup.utk menyisihkan siapa saja yg lolos grup dan lanjut ke babak berikutnya yaitu sistem gugur (knock out). Katanya

Pertandingan pertama antara SD KESAWEN melawan SD GIRIGONDO hasil skor 5:3 dimenangkan oleh SD Kesawen,  dengan adu pinalti. jelasnya.



Sementara itu, "Bapak Agung T W, S.Pd. menjelaskan untuk semua pecinta sepak bola tingkat sekolah dasar se Kecamatan Pituruh, untuk memunculkan bibit atlit sepak bola khususnya di Pituruh, dengan dilakukan seleksi untuk diikut sertakan dalam event sepak bola tingkat Kabupaten mewakili Kecamatan Pituruh" ujarnya

Pertandingan final akan di laksanakan pada hari Senin, 06/08/2018. ujarnya (kafi-ltf,byn)


Kesawen - Kapolsek Pituruh Polres Purworejo Polda Jateng Akp Junani Jumantoro menghadiri acara suronan di Desa Kesawen Kecamatan Pituruh Kabupaten Purworejo, Jum’at (22/09/2017).
Di lapangan warga masyarakat telah di laksanakan acara suronan yang di hadiri oleh Camat bapak Drs. Sigit Setiabudi.MM , Danramil Kapten Inf Ariyadi,Kapolsek Akp Junani Jumantoro bersama Kanit Binmas Ipda Saniman, acara dalam rangka Suronan yang slalu di adakan setiap tahunya di maksudkan untuk menyambut tahun baru Islam yang ke 1439 H .
Dengan di berikan secara simbolis oleh bapak Yanto selaku ketua penyelenggara kepada Ki Dalang Sutarjo dari Kecamatan Kutoarjo maka hiburan wayang kulit semalam suntuk di mulai dengan lakon “Wisanggeni duko” dengan di saksikan kurang lebih 500 orang dari warga masyarakat Kesawen dan warga Desa tetangga .
Pituruh

Sumber :Tribratanewspurworejo.com
Advertisement

PITURUH, (pituruhnews.com) - Upacara peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia ke-74, Pemerintah Kecamatan Pituruh dilaksanakan pada pukul 09.45 WIB di Lapangan Widoro Desa Pituruh.

Upcara ini diikuti kurang lebih seribu peserta yang meliputi SD, SMP, SMA/SMK dikecamatan Pituruh dan ikut juga Karang Taruna Kecamatan Pituruh, Linmas, serta turut hadir Kepala Desa se-kecamatan Pituruh, Anggota DPRD Dapil V Luhur Tri Endro Sadewo, SP, Akhmad Ngafiffurohman, S.Pd, Kapolsek Pituruh Iptu Sapto Hadi, S.Pd, S.H.M.H, Danramil/09 Pituruh Kapten Infanteri Maryono, Kepala KUA Kecamatan Pituruh Mangsudi.
Tamu undangan
Komandan Upacara oleh Aiptu sukarman, Inspektur Upacara oleh Plt Camat Pituruh Yudhie Agung Prihatno, S.STP, Pembawa sang merah putih Adinda Anugerahita siswa SMA N 10 Purworejo, untuk penyematan Andi Pamungkas dan Desty Rahmawati siswa SMA N Purworejo.

Dalam sambutannya Plt Camat Pituruh Yudhie Agung Prihatno mengucapkan, rasa syukur kepada Allah Subhanahu Wata’ala - Tuhan Yang Maha Kuasa, menyelimuti hati dan jiwa seluruh bangsa Indonesia. Sebagai bangsa, kita sudah 74 tahun menghirup udara merdeka, lepas dari belenggu penjajahan. 

Kita yang ada di Purworejo hari ini pun turut berhikmat melaksanakan Upacara Pengibaran Bendera Merah Putih. Inilah seremoni untuk mengenang jasa perjuangan para pahlawan, sekaligus bertujuan menggugah semangat kebangsaan, yaitu semangat seluruh rakyat untuk mencintai dan membangun bangsa dan Tanah Airnya, Indonesia.

"Setiap menyaksikan semangat rakyat menyambut dan merayakan kemerdekaan Indonesia, hati kita pasti bergetar dan bangga. Ada nuansa kegembiraan dan sukacita rakyat dalam kegiatan lomba yang dihelat, even seni budaya yang digelar, maupun kreasi lingkungan yang makin apik dan semarak. Gotong royong tampak jelas ditunjukkan pada saat warga mengecat gapura dan jalan, memasang bendera merah putih, lampu penjor, umbul-umbul dan lain-lain, "ucapnya.
Penyerahan Bendera  oleh Plt Camat ke Paskibra
Ditambahkan, Yudhi Agung Prihatno memang, 17 Agustus bukan sekedar resik-resik kampung, lomba balap karung, pawai keliling kota atau kegiatan lainnya. Lebih dari itu, kegiatan tersebut menunjukkan kepada kita, betapa bangga dan cintanya rakyat kepada Ibu Pertiwi. Kebersamaan dan persaudaraan, keikhlasan dan kebersahajaan, tampak jelas dari raut wajah anak-anak bangsa. 

Oleh karena itu sedih rasanya, dan sungguh tidak rela, kalau di antara anak-anak bangsa masih ada yang saling menebar rasa benci, fitnah dan saling menjelekkan, serta membuat dan menyebar hoaks, karena perbedaan. Padahal mestinya keragaman itu dapat diterima sebagai keniscayaan; perbedaan apapun bentuknya merupakan berkah alam. Justru dalam perbedaan selalu terjadi keindahan, karena taman yang indah selalu ditumbuhi beraneka ragam kembang.

Sebagai warga Negara yang baik, kita harus percaya bahwa Negara telah dan akan selalu hadir guna menyelesaikan persoalan warganya. Negara terus berupaya menciptakan rasa aman dan nyaman. Negara terus memberikan pelayanan terbaik dan berusaha mewujudkan kesejahteraan dan keadilan sosial. Maka kita harus ikut merawat capaian dan kemajuan pembangunan dengan berbagai macam cara yang bisa kita lakukan. Kita harus berperan aktif untuk membantu menyelesaikan masalah-masalah kebangsaan kita. 
Paskibra 2019
Sudah seharusnya kita meneladani nilai-nilai kejuangan para pahlawan dalam kehidupan nyata. Praktikkan nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan sehari-hari: selalu berpikir positif, jujur dalam ucapan, teguh dalam pendirian, disiplin menjalankan tugas, punya unggah ungguh dalam pergaulan, toleran dalam bermasyarakat, tepo seliro dan selalu semangat untuk bergotong royong, serta bangga dan cinta atas karya anak bangsa sendiri.

"Hari ini, 17 Agustus 2019 saya menyeru kepada seluruh masyarakat untuk terus berhimpun dalam sumbangan pemikiran serta gagasan kreatif guna diwakafkan bagi bangsa. Hari ini saya juga mengajak, untuk terus belajar dan bekerja keras meningkatkan kualitas sumberdaya manusia, untuk menghadapi era revolusi industri 4.0. Sebab, hanya dengan SDM yang unggul Indonesia bisa maju, " ucapnya.
Pasukan Pawai Cing Po Ling Kesawen
"Seusai upacara selasai, peserta melaksanakan pawai mengelilingi seputaran desa Pituruh diikuti oleh beberapa kesenian Pituruh seperti Cing Pho Ling dari Kesawen, Drumband, Kuda Kepang Desa Girigondo dan Prapaglor" tutupnya. (lt)


 
PITURUH, (pituruhnews.com) - Laporan Hasil Pelaksanaan Pemilihan Kepala Desa Serentak Dikecamatan Pituruh, Kabupaten Purworejo Tahun 2019. Kamis, 31/1.

DESA NO NAMA CALON KADES TANDA GAMBAR PEROLEHAN SUARA
1 Pangkalan 1 Maskun Padi 29


2 Ribut Riyadi Ketela 135


3 Nur Said Jagung 36
2 Kaligondang 1 Poniman Padi 175


2 Sagiri Ketela 241


3 Wagirin Jagung 103
3 Kalimati 1 Mujiyono Foto Calon 226


2 Suratno Foto Calon 254


3 Paino Foto Calon 13
4 Luwenglor 1 Rusmiyati Padi 459


2 Bunyamin Ketela 301
5 Somogede  1 Nimran Padi 140


2 Tukiman Ketela 330


3 Wagimin Jagung 269


4 Siyo Budiyono Kelapa 135
6 Tersidilor 1 Mujianto Padi 29


2 Sumedi Ketela 521


3 Ngadiso Jagung 331
7 Waru 1 Rosi Al Fitri Padi 74


2 Sudaryanto Ketela 175
8 Girigondo 1 Nur Sahid Foto Calon 645


2 Subarkah Foto Calon 615


3 Suwarto Foto Calon 412
9 Prapagkidul  1 Mahmudin Foto Calon 195


2 Kasiyem Foto Calon 254
10 Polowangi 1 Nurida umiyati Utami Foto Calon 136


2 Sairan Foto Calon 126


3 Catur Jawoto Foto Calon 9












11 Kesawen 1 Zumrotus Solichah Padi 176


2 Mohamad Wahidin Ketela 251


3 Setiyaji Jagung 40
12 Karanggetas 1 Senen Foto Calon 264


2 Wagiyono Foto Calon 278
13 Sawangan  1 Sugiri Padi 484


2 Sisum Ketela 383
14 Pekacangan  1 Dra. Istibaiyah Foto Calon 288


2 Drs. Supardjo Foto Calon 345
15 Tersidikidul 1 Rahmat Rajiyo Padi 127


2 Yanti Eko M Ketela 77
16 Blekatuk 1 Maulud Mulyono Padi 96


2 Rachmat Ari N,S.Sos.I Ketela 108
17 Kendalrejo 1 Wahyu Budiono Padi 389


2 Sutoyo Ketela 532
18 Tunjungtejo 1 Suhariyono, S.Kom Foto Calon 464


2 Endah Ratnawati Foto Calon 17
19 Sambeng 1 Baruno, S. IP Foto Calon 139


2 Dwi Pramono Foto Calon 102


3 Yudha Firmansyah Foto Calon 20
20 Keburusan  1 Amad Baderi Padi 271


2 Suroyo Ketela 359
21 Luweng Kidul  1 Muhasim Padi 291


2 Marwiyah Ketela 111
22 Megulungkidul 1 Wahyuning Rusmiati Padi 290


2 Muh Saefudin Ketela 5


3 Malik Khairul Anam, S.Pd. Jagung 680
23 Ngandagan 1 Tentrem Winarni Padi 259


2 Petrus Paulus Perasojo Ketela 78


3 ST. Subroto Jagung 15


4 Bagiono Kelapa 286


5 Sugiyono Kacang 33


















24 Semampir  1 Susanto Foto Calon 152


2 Thewut Sutejo Foto Calon 97
25 Karanganyar 1 Suyono Padi 297


2 Bambang TA Ketela 47
26 Kedungbatur  1 Alex Suryo Adi Putro Padi 46


2 Sudarti Ketela 138
27 Pepe  1 Ngadino Padi 173


2 Hari Setyoko Ketela 124
28 Kembangkuning 1 Mualip Foto Calon 18


2 Basuki Foto Calon 91


3 Supriyati Foto Calon 178
29 Megulunglor 1 Parnomo Foto Calon 265


2 Karsono Foto Calon 110


3 Haryadi Foto Calon 237
30  Dlisen Wetan  1 Rahmat Basuki Padi 228


2 Suparjo Ketela 283
31  Ngampel 1 Ardani Padi 141


2 Wahid Trisno Hadi Ketela 373


3 Tupon Jagung 526
32  Kalijering 1 Suroyo,S.Pd Padi 597


2 Kasimun Ketela 477
33  Brengkol 1 Bibit Turasmi Foto Calon 843


2 Suprapto Foto Calon 624
34  Petuguran 1 Subur Padi 119


2 Tutur Haryono Ketela 77


3 Kamim Marito Jagung 206
35 Prapaglor 1 Heti Kusnani Padi 659


2 Muhyani Ketela 557
36  Sumber 1 Triyono Foto Calon 347


2 R. Sugiyanto Foto Calon 152
37  Wonosido 1 Sutopo Padi 348


2 Pono Ketela 277


















38  Sekartejo 1 Pujiono Padi 366


2 Ismanto Ketela 42
39  Dlisenkulon 1 Sukarman Padi 171


2 Kartiningsih Ketela 43




DESA JUMLAH DPT JUMLAH HADIR JUMLAH TDK HADIR SUARA SAH SUARA TDK SAH
1 Pangkalan 241 202 39 200 2














2 Kaligondang 690 559 131 519 40














3 Kalimati 563 499 64 493 6














4 Luwenglor 960 769 191 760 9







5 Somogede  1189 881 308 874 7





















6 Tersidilor 1027 893 134 881 12














7 Waru 291 252 39 249 3







8 Girigondo 2140 1687 453 1672 15














9 Prapagkidul  543 461 82 449 12







10 Polowangi 316 276 40 271 5




























11 Kesawen 632 518 114 467 51














12 Karanggetas 718 558 160 542 16







13 Sawangan  1068 874 194 867 7







14 Pekacangan  729 646 83 633 13







15 Tersidikidul 250 206 44 204 2







16 Blekatuk 237 208 29 204 4







17 Kendalrejo 1138 932 206 921 11







18 Tunjungtejo 609 499 110 481 18







19 Sambeng 311 267 44 261 6














20 Keburusan  760 648 112 630 18







21 Luweng Kidul  622 440 182 402 38







22 Megulungkidul 1180 999 181 975 24














23 Ngandagan 807 684 123 671 13

















































24 Semampir  288 250 38 249 1







25 Karanganyar 438 344 94 342 2







26 Kedungbatur  250 189 61 184 5







27 Pepe  329 299 30 297 2







28 Kembangkuning 324 288 36 287 1














29 Megulunglor 697 622 75 612 10














30 Dlisen Wetan  560 515 45 511 4







31 Ngampel 1355 1056 299 1040 16














32 Kalijering 1530 1091 439 1074 17







33 Brengkol 1877 1494 383 1467 27







34 Petuguran 441 408 33 402 6














35 Prapaglor 1531 1233 298 1216 17







36 Sumber 577 506 71 499 7







37 Wonosido 938 634 304 625 9




























38 Sekartejo 564 419 145 408 11







39 Dlisenkulon 286 221 65 214 7












Diberdayakan oleh Blogger.